Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Bukti


__ADS_3

Karena ucapan Rena yang berkata memiliki banyak buku sebagai pelampiasannya untuk mencurahkan isi hati, Varo teringat akan sebuah diary tebal bersampul hitam yang ditemukannya didalam kios kala itu.


Buku itulah yang menguak tabir siapa Rena sebenarnya. Varo mengetahui Rena bukan anak kandung musuh keluarganya langsung dari buku itu.


"Aku belum baca tuntas buku itu, nanti akan ku lanjutkan lagi" Varo bergumam sendiri.


"Re, kamu harus bahagia ya di masa depan. Walaupun nanti akhirnya kita tidak bisa bersama, aku akan selalu ada untukmu. Aku siap jadi temanmu bercerita layaknya buku ini. Jangan lagi pendam semuanya sendiri ya, gak baik buat kesehatan" Varo berkata dengan menahan haru.


"Iya, makasih ya kak, ayo kita lanjutkan lagi" Rena segera mengubah topik pembicaraan. Dia tak ingin berlarut larut dalam suasana melow.


.


.


.


Rena dan Varo selesai membongkar semua dalam waktu hampir dua jam. Varo membantu Rena mengemas kembali semua benda yang berserakan, karena Rena memutuskan akan membawa semuanya pulang ke rumah.


"Kak, pulang sekarang ya, takutnya aku dicariin" Rena mengajak Varo.


"Kita makan dulu ya" Varo tak ingin terlalu cepat berpisah.


"Ayo" Rena mengiyakan dan mereka melaju menuju warung makan sederhana yang menjadi favorit Rena.


.


.

__ADS_1


.


"Kamu darimana selarut ini baru balik?" Niko langsung menyerang Rena dengan pertanyaan. Saat Rena kembali ke rumah sakit ternyata Niko sudah menunggunya.


"Aku ada urusan" Rena menjawab sambil terburu buru mengenakan pakaian pelapis khusus pasien. Petugas jaga baru saja melaporkan bahwa sang ibu sudah siuman dan ingin bicara dengan Rena.


"Aku masuk dulu ya" Rena mengabaikan Niko dan segera masuk ruangan ICU.


"Bu, ini Rena" Rena mendekati wajah sang ibu dan berbisik di telinga wanita itu.


Bu Wiya yang masih memakai alat bantu pernafasan perlahan mulai membuka matanya yang tadi tertutup.


"Rena" Bu Wiya menyapa wanita itu dengan suara lemah.


"Iya Bu, ini Rena, apa yang ibu butuhkan? ibu mau minum?" Rena dengan lembut memperlakukan bu Wiya.


"Udah jangan dibahas ya Bu, yang penting ibu sehat dulu" Rena terus memberikan semangat.


Bu Wiya menatap Rena dengan pandangan mata berkaca kaca. Ada sesuatu yang ingin disampaikan namun belum sanggup untuk berbicara banyak.


Bu Wiya kembali tertidur setelah dokter menyuntikkan obat untuknya. Dokter menjelaskan kalau kondisi Bu Wiya belum stabil dan masih butuh banyak istirahat.


Rena kembali menemui Niko dan menyapa pria itu.


"Pak Niko dari jam berapa kesini?" Rena mulai membuka pembicaraan.


"Cukup lama, cukup untuk beberapa jam menunggu mu yang entah pergi kemana" Niko menyindir Rena.

__ADS_1


Rena hanya diam tak mau ambil pusing atas sikap over yang ditunjukkan Niko.


"Aku mau ke bagian administrasi" Rena memutuskan akan menyelesaikan urusan tagihan ibunya. Rena berencana akan meminta kebijakan rumah sakit untuk memberinya keringanan menyicil tagihan yang semakin lama semakin membengkak.


Rena segera pergi tanpa melihat kearah Niko yang tengah menahan emosi kepadanya.


Niko menjambak rambutnya sendiri karena kesal tak ditanggapi Rena sesuai keinginannya. Tadinya Niko berharap Rena akan meminta maaf dan menjelaskan kemana dia pergi.


.


.


.


Sesampainya di bagian administrasi, Rena langsung menemui petugas yang berjaga.


"Permisi nona, saya mau menanyakan tagihan atas nama pasien Wiya" Rena mulai bertanya.


"Oh baik bu" petugas yang melayani mulai melakukan pengecekan di komputer di hadapannya.


"Terimakasih Bu, telah melunasi dan menambahkan deposit, ini kwitansi pembayaran kemarin yang belum sempat kami antar"! petugas itu menjelaskan dan sukses membuat Rena melongo.


"Apa ini maksudnya, siapa yang melunasi?" Rena bergumam sendiri.


Kwitansi bukti pembayaran yang dipegang Rena mulai diamatinya, dan sebuah tanda tangan yang sangat dikenal Rena cukup menjadi bukti siapa orang yang mengambil alih tanggung jawabnya itu.


"Kak Varo" gumam Rena terharu.

__ADS_1


__ADS_2