
\=\=\=flashback\=\=\=
Setelah Nathan sang mantan suami kejam yang menyiksa Rena keluar dari penjara, hidup Bu Wiya beserta suami dan anaknya tak lagi tenang. Hampir setiap hari keluarga itu diteror. Nathan meminta pertanggung jawaban dari keluarga itu, karena merasa Rena telah membuatnya menjadi narapidana.
Nathan yang telah memberikan sejumlah uang untuk membeli kesucian Rena juga merasa tertipu. Pria itu begitu murka kala mengetahui kalau Rena sedang hamil saat dinikahi, dan wanita itu tak mau disentuhnya sama sekali, membuat emosi pria itu memuncak hingga ubun ubun.
Karena tak mengetahui dimana Rena berada, sasaran utama pria itu berpindah kepada keluarga Agung Suwito dan Bu Wiya. Dia menuntut uang yang telah diberi dikembalikan.
Puncak penderitaan Bu Wiya terjadi saat orang suruhan Nathan mendatangi rumah mereka dan mengobrak abrik isinya. Sebagian rumah juga dibakar untuk memberi rasa takut kepada penghuninya.
Bu Wiya tak mampu melawan, bahkan ketika dirinya disiksa oleh para preman bayaran itu, tak ada satupun keluarga yang menolongnya. Anak dan suaminya menyelamatkan diri masing masing, tak memikirkannya sama sekali.
Berhari hari Bu Wiya hidup sendirian dengan kondisi luka dan kesakitan. Hingga semua persediaan makanan dirumah habis, sementara ia tak sanggup untuk keluar rumah dengan kondisi luka yang semakin parah.
__ADS_1
Tetangga atau kerabat terdekat pun tak ada yang mengetahui kondisinya, karena kesalahannya yang selama ini terlalu sombong dan tak berinteraksi dengan mereka.
Sampai di saat Bu Wiya merasa menyerah dan ajalnya akan segera tiba, seseorang masuk kedalam rumahnya dan menyelamatkannya.
Bu Wiya masih bisa mendengar sayup sayup sebelum pingsan seseorang sedang menangisinya, memanggil manggil dirinya dengan sebutan ibu.
\=\=\=flashback off\=\=\=
Renata, anak kecil yang dulu diculiknya dan dijadikan sapi perah penghasil uang sejak kecil ternyata dialah yang paling tulus menyayangi. Bahkan anak kandungnya sendiri pun, yang diberikan kasih sayang tulus menelantarkannya.
"Bu, kenapa menangis, ada yang sakit?" Zifa mengkhawatirkan kondisi Bu Wiya yang tiba tiba terisak.
Bu Wiya menggelengkan kepalanya. Lelehan air mata di pipinya dihapus dan seulas senyuman muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Apa sekarang Rena bahagia?" sebuah pertanyaan dilontarkan Bu Wiya untuk Zifa.
"Yang aku lihat begitu. Mas Varo sangat mencintai kak Rena, meskipun kemungkinan kak Rena gak bisa memberikan keturunan kepada mas Varo" Zifa yang ceplas ceplos menjelaskan kondisi Rena saat ini.
"Apa yang terjadi dengan Rena?" Bu Wiya terkejut dengan apa yang diucapkan Zifa. Terakhir kali bertemu dengan Rena di rumah sakit, dia tampak baik baik saja, begitu juga dengan suaminya. Meskipun Varo memperlakukannya tak ramah, Bu Wiya bisa memahami, karena rasa cinta Varo kepada Rena yang begitu besar, membuatnya membenci siapapun yang telah menyakiti Rena.
"Kak Rena telah divonis dokter akan sulit mendapatkan keturunan, karena rahimnya mengalami luka saat dulu disiksa secara fisik oleh mantan suami kejamnya itu. Bayi mereka pun ikut menjadi korban dalam kekerasan itu. Bayi tak berdosa itu tak bisa diselamatkan, dia meninggal saat dilahirkan" Zifa terus menjelaskan kepada Bu Wiya.
Duarrrrr....
Bu Wiya sungguh tak menyangka dengan semua yang dialami Rena. Ternyata apa yang telah terjadi lebih buruk dari bayangannya selama ini. Rena jauh lebih menderita setelah pernikahannya dengan Nathan.
"Maafkan ibu, maafkanlah ibu nak" Bu Wiya kembali terisak. Kali ini tak lagi bisa tertahan. Hatinya benar benar tersentuh. Sebuah janji untuk menyelesaikan masalah Rena dengan Nathan terukir kuat di hati.
__ADS_1