
"Rena, bisa bicara sebentar, berdua saja" Niko tampak tak ramah dan sedikit memaksa Rena untuk memusatkan perhatian kepadanya.
Varo yang sedari tadi diam mulai mengeluarkan ekspresi tak sukanya. Dia tak suka melihat Niko yang terang terangan ingin merebut hati Rena.
"Hei bro, kami ini tamunya Rena, sedari tadi udah disini, santai dong" Varo terpancing emosi, dia berdiri dari posisinya yang tadi duduk.
"Eh kak Varo jangan marah marah, lihat tuh adek adek pada ngelihat" Rena sigap mengambil alih untuk meredakan suasana panas itu. Sementara Aldi menjadi pengamat sejati, memperhatikan tingkah polah ketiga orang dihadapannya. Tak butuh waktu lama, Aldi memahami apa yang sedang terjadi antara Rena, Varo dan Niko, "hm menarik" gumamnya.
"Saya tak bicara kepada anda, dan seharusnya anda tau diri, ini bukan lagi jam bertamu, sebagai salah satu pengelola yayasan ini, saya merasa tak nyaman" Niko menegaskan posisinya.
"Pak Niko, ayo kita ngobrol di depan" Rena kewalahan, dia mengalah, dia akan mendahulukan kepentingan pak Niko.
"Aldi tunggu bentar ya, ada urusan penting" Rena berpamitan kepada Aldi dan mengabaikan Varo.
Niko menyunggingkan senyum ejekan penuh kemenangan kearah Varo. Pria itu mendapat angin segar karena merasa Rena lebih mengutamakannya.
__ADS_1
Varo menatap tajam kearah Rena dan Niko yang hilang dibalik pintu.
"Napa lu, cemburu?" Aldi bertanya tanpa basa basi kepada Varo.
"Gue pikir hubungan kalian cuma teman, tapi kenapa reaksi lu seperti ini saat Rena didekati pria lain" Aldi kembali menambah pertanyaan.
"Gue gak pernah berhenti mencintai Rena, dari dulu sampai sekarang, lu pikir kenapa gue gak menikah sampai sekarang?, karena gue masih mempunyai harapan untuk bisa memiliki Rena lagi" Varo menyambar jaketnya dan pergi meninggalkan Aldi. Varo memutuskan untuk pulang saja karena emosinya tak stabil, Varo khawatir nanti akan membuat keributan karena terpancing oleh Niko.
Varo melihat Rena dari arah pintu masuk sedang berbicara serius membelakanginya. Varo tak ingin bertambah panas, karena itu dia segera pergi menuju mobilnya dan menekan pedal gas sekuat mungkin agar bisa pergi dari tempat itu secepatnya.
Rena melihat sekilas kepergian Varo, namun tak terlalu mempedulikan.
"Rena. aku tau siapa pria itu, dia masa lalu kamu kan?" Niko memulai pembicaraan.
"Itu bukan urusan anda pak" Rena menjawab tak suka.
__ADS_1
"Rena, kau taukan bagaimana perasaan ku kepadamu dari dulu sampai sekarang?, lupakan masa lalu, aku akan jamin hidupmu bahagia bersamaku, jadilah istriku Re" Niko mengucapkan kalimat yang selama ini dipendamnya.
"Aku sadar ini terlalu mendadak, tapi sejak perjumpaan kita pertama kali di yayasan ini, aku sudah menyimpan rasa itu Re, bahkan sebelum kamu menjadi seperti ini, saat kamu masih dalam keadaan yang memprihatinkan" Niko terus memaksa.
Rena bengong tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria didepannya ini. Selama ini Rena seolah menutup mata, tak mau tau apa yang dilakukan Niko.
"Ma...maaf pak Niko, Rena rasa ini terlalu mendadak" Rena masih mencoba menolak dengan sopan.
"Apa yang terlalu mendadak Re?, dua tahun lebih aku menunggu kamu, aku bersabar menanti waktu untuk kamu mulai membuka hati dari trauma masa lalu, tapi karena kehadiran pria sialan itu, kau kembali mengabaikan ku" Niko mencengkram bahu Rena meluapkan amarahnya.
"Jangan bicara sembarangan pak, anda tak berhak menghujat orang lain, bahkan kak Varo sekalipun" Rena tak terima.
"Aku berhak Re, aku sudah banyak berkorban untuk mu dan anak anak di yayasan ini" Niko yang dilanda emosi terus memaksakan kehendaknya.
"Aku tunggu jawaban mu secepatnya, aku tak suka mendapatkan penolakan, ingat Re, sebagian besar dari tempat ini adalah milikku, apabila aku kecewa, mereka yang akan menanggung akibatnya" ancam Niko.
__ADS_1
Pria itu menghempaskan cengkraman tangannya dari bahu Rena dan berlalu pergi. Meninggalkan Rena dalam kebingungan.
"Aku tak pernah melihat pak Niko seperti ini sebelumnya" Rena bergumam sendiri, kegelisahan menyelimuti hatinya.