Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kondisi mengenaskan Bu Wiya


__ADS_3

Varo dan Rena mampir di sebuah warung kecil di pinggir jalan.


"Maaf ya Re, aku bawa kesini, warung sederhana" Varo merasa tak enak hati.


"Tak apa kak, justru lebih nyaman di warung kecil seperti ini, kita lebih santai gak terlalu resmi" Rena berusaha menghibur Varo. Dia memahami kondisi Varo saat ini yang sedang dalam kesulitan.


"Oiya Re, aku mau kasih tau kamu, mulai Senin depan aku bekerja di perusahaan MultiAldi Corporation" Varo bersemangat menceritakan kepada Rena.


"Wah kak Varo hebat, syukurlah udah dapat pekerjaan lagi" Rena tak kalah bersemangat.


"Iya Alhamdulillah, meskipun aku hanya sebagai staf biasa dan gaji standar" ucap Varo berbisik.


"Tetap semangat ya kak" Rena memompa semangat Varo hingga berkobar.


Sarapan itu berjalan lancar sesuai rencana Varo. Rena dipaksa untuk makan dalam porsi lumayan banyak.


"Udah siap?, kita lanjut ya" Varo mengajak Rena meneruskan perjalanan.


Rena mengangguk, jantungnya berdebar lebih kencang. Setelah bertahun tahun, saat ini dia kembali akan bertemu dengan kedua orangtua angkatnya. Orang yang menorehkan takdir buruk kepadanya.


.

__ADS_1


.


.


"Re, kok diam aja?" Varo mengkhawatirkan Rena yang tampak murung sepanjang perjalanan.


"Aku takut bapak dan ibu masih marah" jawab Rena jujur.


"Tenanglah, Varo sang pengawal putri Renata akan siap sedia melindungi" Varo menghibur dengan cara yang lucu.


"Hahaha" mereka tertawa bersama didalam mobil yang terus melaju dengan kecepatan sedang.


Hampir satu jam perjalanan, Rena dan Varo akhirnya sampai didepan rumah masa kecil Rena.


"Hei, aku ada disini untuk melindungimu" Varo menggenggam tangan Rena, membagikan energi agar Rena sanggup menghadapi kenyataan didepan mata.


Keduanya melangkah ke depan pintu yang tertutup. Rumah itu tampak tak terurus, cat yang sudah memudar serta rumput liar yang tinggi di sana sini.


"Tok...tok" Varo mengetuk pintu rumah.


Cukup lama mereka menunggu namun tak ada seorangpun yang menyahut dari dalam.

__ADS_1


Rena dan Varo saling pandang, mereka bingung.


Varo mencoba menekan gagang pintu dan ternyata tak dikunci, pintu terbuka dengan mudah.


Varo dan Rena kembali berpandangan, sesuatu yang tak beres mereka rasakan.


"Jangan jauh jauh,.tetap di belakang ku" Varo meraih tangan Rena dan melindungi dengan tubuhnya.


Varo melangkah perlahan kedalam, diikuti oleh Rena di belakangnya.


Pemandangan memilukan terjadi saat Varo dan Rena masuk ke ruang tengah rumah.


"Bu Wiya, ibu angkat Rena yang sedari dulu tak pernah menyayanginya tergeletak diatas sebuah kasur tipis, tubuhnya kurus dengan banyak luka dan bau menyengat dari tubuhnya sangat terasa di ruangan itu. Wanita paruh baya itu hanya sendirian, tak ada orang lain yang menemani.


"Ibu" Rena menghambur mendekat kearah tubuh yang tergolek lemah itu.


Varo berusaha mencegah namun Rena tak memperdulikan, rasa sayangnya kepada wanita yang dianggap nya sebagai ibu itu telah membuat Rena mengabaikan bau menjijikkan yang keluar dari tubuh kurus itu.


"Ibu kenapa?" Rena bercucuran air mata melihat kondisi mengenaskan ini.


"Kak Varo, bantu Rena, bantu bawa ibu ke rumah sakit kak" Rena merengek manja kepada Varo.

__ADS_1


"I..iya, ayo" Varo tak kuasa menolak permintaan Rena. Dengan menahan rasa tak nyaman dalam dirinya, Varo mengangkat tubuh Bu Wiya kedalam mobil.


Mobil segera melaju dengan kecepatan kencang ke arah rumah sakit terdekat.


__ADS_2