Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Aksi nekat Zifa


__ADS_3

"Aku dan pak Niko akan menikah sebentar lagi kak" kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam jantung Varo.


Varo melangkah gontai menuju mobilnya. Didalam rumah itu tiba tiba tak ada oksigen yang bisa dihirupnya, panas dan sesak, itulah yang dirasakannya saat melihat wanita yang dicintainya dirangkul oleh seorang pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Maaf pak, permisi" setelah Varo pergi Rena melepas rangkulan Niko di pundaknya, dia tak suka melakukan kontak fisik.


Niko segera paham dan pergi meninggalkan Rena sendiri, setidaknya malam ini dia puas membuat Varo kalah telak, dia yakin Varo tak akan berani mengganggu Rena lagi.


Niko pergi dari yayasan dan melajukan mobilnya menuju ke salah satu cafe. Dia akan merayakan kemenangannya sendiri tanpa Rena.


Mata Niko langsung menemukan sesosok gadis manis yang duduk sendirian di pojok cafe dekat pintu masuk.


"Hai Zifa sendirian?" Niko menyapa gadis itu sumringah.


"Eh iya, sendirian" Zifa menjawab dengan cuek.


"Boleh gabung?" Niko merasa sikap Zifa berbeda kepadanya setelah mengutarakan perasaannya waktu itu.


"Silahkan" Zifa menjawab tanpa melihat lawan bicaranya, gadis itu malah sibuk memainkan ponsel.


"Kamu naik apa kesini?" Niko mencoba membuka pembicaraan.


"Naik taksi, kak Varo pakai mobil. lagi ada urusan" terang Zifa.


"Iya, aku jumpa dia tadi di yayasan dan kebetulan jumpa kamu disini aku mau kasih kabar gembira juga sekalian" Niko begitu bersemangat.


Zifa mengalihkan pandangannya dari ponsel dan fokus melihat kearah Niko.


"Aku baru aja jadian sama Rena, akhirnya setelah sekian lama perjuanganku berbuah manis, kami akan segera menikah" Niko berkata seolah olah tanpa beban dan tak memikirkan perasaan Zifa.

__ADS_1


DEG...


Ekspresi wajah Zifa yang tadi bersemangat berubah layu.


"Selamat ya pak Niko" ucap Zifa getir. Zifa patah hati sebelum sempat merasakan tumbuhnya cinta itu. Niko benar benar tak memikirkan perasaanya.


"Terimakasih Zifa, aku sangat senang malam ini, aku mau traktir kamu, silahkan pesan apa aja yang kamu mau, aku yang bayar" Niko sesumbar.


"Oh ok, aku mau cobain minuman yang bisa menghapus kegalauan" ucap Zifa pertanda protes namun tak digubris Niko.


"Aku ke toilet bentar ya" Niko pamit sebentar kepada Zifa.


Sementara Niko pergi, Zifa memanggil pelayan dan memesan minuman beralkohol. Gadis labil yang tengah patah hati itu akan melakukan hal nekat.


Niko kembali ke meja tempatnya tadi mengobrol dengan Zifa, dia menemukan gadis itu dalam keadaan tak biasa, wajah gadis itu merah seperti kepiting rebus dan tertidur di meja.


"Pak Niko, teganya kamu mengabaikan ku, hik" Zifa meracau.


"Pelayan" Niko memanggil pelayan dengan panik.


"Kenapa kalian memberi minuman beralkohol kepada anak dibawah umur" Niko yakin Zifa tak pernah minum sebelumnya, ini terbukti dari kadar mabuk parahnya gadis itu. Dengan hanya meminum segelas saja dia bisa tak sadarkan diri seperti itu.


"Maaf tuan, kami salah" pelayan cafe ketakutan menghadapi kemarahan pelanggannya.


"Arghhh" Niko menggeram dan membopong tubuh Zifa keluar dari cafe.


"Dasar bocah, untung jumpanya sama gue, kalau sama yang lain habis ini" Niko menggerutu sendiri.


Niko memasang sabuk pengaman Zifa yang tertidur di kursi penumpang, tak sadar jarak antara tubuh mereka berdua begitu dekat, dan untuk pertama kalinya Niko menyadari pesona Zifa sebagai seorang wanita dewasa.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Zifa?" Niko membelai lembut pipi Zifa yang merona kemerahan.


Niko tak jua menyadari kalau Zifa galau karenanya.


"Niko, gue gak pernah suka sama cowok seperti saat gue suka sama lu, Niko aku sangat cinta kamu, hik" Zifa menangis dalam tidurnya.


DEG...


Niko menegang. Didalam alam bawah sadarnya Zifa mengungkapkan perasaan terdalamnya kepada Niko.


"Zifa, hei bangunlah" Niko menepuk nepuk pipi gadis itu untuk mengembalikan kesadarannya.


Mata Zifa mengerjap. Pandangan mereka berdua bertemu dan tindakan diluar kesadaran dilakukan Zifa.


Dia menarik Niko dalam pelukannya dan mencium bibir pria itu dengan liar. Zifa yang dalam keadaan mabuk begitu berhasrat seolah ahli dalam hal berciuman padahal tak sekalipun dia pernah berpacaran dengan orang lain.


Cinta memang membuat orang kehilangan akal sehat.


.


.


.


Niko akhirnya memutuskan membawa Zifa ke sebuah penginapan tak jauh dari lokasi mereka saat ini. Karena gadis itu kembali tak sadarkan diri setelah memberinya ciuman panas.


Setelah melewati resepsionis yang tampak curiga dengan kondisi Zifa, akhirnya tubuh mungil itu dibaringkan di ranjang kamar dan Niko segera pergi meninggalkan Zifa. Perasaannya campur aduk. Dia hanya ingin mencintai Rena seorang namun kini hatinya mulai goyah karena perbuatan yang dilakukan Zifa barusan.


Sebelum dirinya tergoda lebih jauh, sebaiknya Niko pergi meninggalkan kamar wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2