Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Terapi menyakitkan


__ADS_3

Rena tertidur pulas. Obat yang diberikan dokter benar benar membuatnya terus mengantuk.


Tak lama wanita itu kembali terbangun.


Mata Rena mengerjap menyesuaikan cahaya yang diterima.


Deg....


Matanya kembali bertemu dengan mata Varo.


"Ka..kamu kenapa disini?" Rena bertanya. Dia masih mengingat ucapan dokter yang mengatakan kalau Varo demam dan dirawat di kamar sebelah.


"Memang seharusnya aku disini, gak mungkin kamu sendirian, takutnya butuh apa apa gak ada yang bantuin" Varo berkata jujur.


"Kak Desi tadi ngabarin, dia gak bisa kesini karena masih banyak pasien. Kalau butuh apa apa aku yang bantu ya" ucap Varo hangat.


"Lagi gak butuh apa apa, aku sendiri aja" Rena menjawab dingin.


Varo tak menggubris, dia menatap Rena sekilas dan dengan cepat membuang pandangan kearah lain.


Varo tetap duduk di kursi yang ada di samping ranjang Rena. Dia memilih memainkan ponsel agar tak terpancing untuk terus memandangi Rena. Tapi meskipun begitu, dia tetap mengawasi sedikit saja pergerakan Rena. Dia menjaga Rena dengan sangat baik.


Beberapa menit berlalu dengan keheningan. Rena tampak gelisah.


"Ada apa Re?, ada yang kamu butuhkan?" Varo segera meletakkan ponselnya dan mendekati Rena.


"Emmm... tolong panggilkan suster".


"Ada apa?, sakit ya, di sebelah mana" Varo tampak cemas.


"Enggak,,gak sakit, aku mau pipis" Rena akhirnya tak bisa menahan ucapannya, hasrat ingin buang air kecil menyiksanya.


Varo tersenyum malu melihat ekspresi Rena yang polos.


"Cepat kak" rengek Rena.


"I.. iya, bentar ya" Varo segera bergegas memanggil dokter.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusan di kamar kecil, Rena juga berganti baju dan mencuci muka, dia tampak lebih segar.


"Aku lagi pengen sendiri kak, kak Varo gak perlu repot kesini terus" Rena meminta.


"Ya udah, aku tunggu diluar kalau memang kamu tak mau aku di ruangan ini, panggil aja ya kalau butuh apa apa" Varo melangkah hendak keluar. Dia tak ingin banyak berdebat dengan Rena.


"Bukan itu maksudnya, ka.. kamu butuh istirahat, bukankah kamu demam?, nanti bertambah parah kalau terus tak istirahat" Rena tak tahan.


Wajah Varo sangat merah seperti kepiting rebus karena suhu tubuhnya yang tinggi. Rena mengetahui itu. Beberapa kali Varo mengusap usap keningnya menahan sakit kepala, Rena juga mengetahuinya.


Varo tersenyum, sedikit perhatian dari Rena membuatnya terharu.


"Kalau begitu, ijinkan aku istirahat di ruangan ini, setidaknya sampai ada yang menggantikan untuk menjaga mu" Varo mengambil kesempatan.


"Tapi disini tidurnya di sofa itu, tak nyaman, bukankah kamu ada kamar di sebelah, disana pasti lebih nyaman, ada kasurnya" Rena masih berdebat.


"Aku nyamannya di dekat kamu" ucap Varo singkat.


Rena terdiam, sementara Varo tampak cuek dan merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di pojok ruangan itu.


.


.


.


Varo mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa lebih segar. Rasanya cukup lama dia terlelap. Jam di tangannya menunjukkan bahwa dia tidur lebih dari tiga jam.


Varo melihat kasur Rena kosong. Dia terkesiap dan langsung mencari Rena ke sekeliling kamar.


"Suster, pasien atas nama Rena di kamar 111 ada dimana?" Varo bertanya dengan panik.


"Oh nona Rena sedang ada tindakan di ruangan Fisioterapi tuan, silahkan ikut saya" suster menuntun Varo menuju ruangan tersebut.


Saat Varo datang, dokter fisioterapi yang menangani Rena juga baru keluar dari ruangan terapi.


"Dokter, dimana Rena?" Varo bertanya dengan panik.

__ADS_1


"Masuklah kedalam, pasien sedang menahan sakit, dia terus menangis. Terapi ini memang selalu menjadi momok menakutkan buat pasien, sakit dan melelahkan, tapi ini bagian penting, prosedur wajib" terang dokter.


Varo berlari masuk ruangan karena mendengar penjelasan dokter.


"Rena, Varo mendekati wanita tersayangnya itu. Saat ini kaki Rena dipasang sebuah alat berbentuk berbentuk kotak dengan banyak kabel listrik yang saling terhubung.Mata Rena tampak sembab bekas tangisan. Posisinya sedang bersandar ke dinding ranjang


Melihat kedatangan Varo, Rena tiba tiba diam, dan menutup wajahnya dengan bantal, menyembunyikan tangisnya. Sakit di kakinya tak bisa ditahan. Rasanya semua tulang di kakinya sedang diremukkan oleh alat itu.


Varo menahan gemuruh di hatinya melihat kondisi Rena seperti ini. Ingin rasanya dia memeluk wanita itu.


Varo perlahan duduk di atas ranjang di sebelah Rena. Dia memberanikan diri mengusap kepala wanita itu yang tertutup hijab.


"Kuat ya Re, andai aku bisa menggantikan apa yang kamu rasakan sekarang, aku akan menggantikannya" bisik Varo perlahan.


Bahu Rena berguncang, namun tanpa suara, gadis itu menangis di dalam bantal yang dipeluknya.


Varo terus mengusap kepala Rena. Mencoba memberikan kekuatan lewat cara itu. Hingga akhirnya Rena lelah menangis dan bersandar di bahu Varo.


Cukup lama Rena berada dalam posisi itu. Dia terlalu fokus dengan sakit di kakinya. Hingga dia menyadari kalau posisinya saat ini bersandar di bahu Varo.


"Ma..maaf" dengan suara serak Rena mengubah posisinya.


Tak lama seorang suster masuk untuk memastikan kondisi Rena.


"Suster berapa lama terapi ini?" Rena bertanya.


"Satu jam lagi Bu, sabar ya" suster kembali keluar ruangan.


"Lama sekali, hik" Rena kembali menangis.


Varo tak bisa lagi tahan. Dia menarik tubuh Rena dan membawanya kedalam pelukan. Dengan lembut dia mengelus kepala Rena. Berharap rasa sakit Rena sedikit berkurang.


Tak ada pembicaraan diantara mereka, Rena tak menolak saat Varo memberinya kenyamanan. Suhu tubuh Varo masih terasa hangat sangat memeluk Rena. Pria itu masih demam.


Satu jam terberat dalam hidup Rena telah usai. Alat yang digunakan untuk terapi telah dilepaskan. Tapi ternyata Rena tertidur dalam pelukan Varo. Kemungkinan karena terlalu lelah menahan sakit.


Varo memberi kode kepada dokter untuk membiarkan Rena tertidur. Dokter dan suster mengabulkan permintaan Varo. Mereka meninggalkan dua orang insan yang saling mencintai itu didalam ruangan terapi.

__ADS_1


__ADS_2