Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kesan demi kesan tentang Rena


__ADS_3

"Ya mungkin saja dia udah gak ada bos, bukankah dulu nona Rena sangat bergantung kepada anda. Bahkan tali sepatu yang terlepas saja anda yang memasang, bagaimana mungkin dia mampu menjalani hidup setelah anda tinggalkan" Adam yang duduk di sebelah Varo ikut ikutan menakut nakuti Varo.


"Diamlah, kau membuatku bertambah pusing" dengus Varo kesal.


Adam hanya tersenyum kecil sambil memasang mode sleep di headphonenya. Dia memilih menikmati perjalanan yang masih lama dengan tidur nyenyak tanpa beban.


"Dimana kau sekarang Rena" Varo bergumam sendiri.


Varo berusaha memejamkan mata untuk mengendurkan syarafnya yang tegang, namun bukan ketenangan yang didapatnya, justru bayangan bayangan Rena yang sedang menangis yang menghantuinya. Varo merasa sebentar lagi dirinya mulai gila karena beban pikiran yang tak terkendali.


.


.


.


Kembali ke yayasan tempat Rena berada.


Pagi hari menjelang. Rena yang baru selesai melaksanakan sholat subuh masih khusyuk berdoa diatas sajadahnya.

__ADS_1


Meskipun tak mengeluarkan suara, Isak tertahan dalam doa Rena menunjukkan betapa rapuhnya dia.


Bu Lidya yang juga hendak melaksanakan sholat terdiam di belakang Rena.


Ya, Bu Lidya memutuskan menginap di yayasan. Dia ingin lebih dekat dengan Rena. Dan tempat Rena sholat saat ini adalah musholla kecil didalam yayasan. Biasanya setiap subuh Rena hanya sendirian, berkeluh kesah dengan Tuhannya. Rena lupa kalau Bu Lidya sedang menginap.


Saat Rena selesai dengan ibadahnya, gadis manis itu menoleh ke belakang. Tampak lah seorang Bu Lidya yang sedang menatapnya dengan pandangan berkaca kaca.


"Selamat pagi Bu" Rena menyalami wanita itu. Senyum tipis diberikan kepada Bu Lidya, meskipun dari matanya masih tampak sisa sisa tangisan.


"Ibu sudah sholat?" Rena bertanya.


"Udah barusan disini" Bu Lidya menunjukkan sajadahnya yang masih terbentang.


"Rena itu kenapa?" Bu Lidya tak bisa menyimpan rasa ingin tahunya.


Rena memegang pipinya dan tersadar. Selama ini dia selalu menyembunyikan luka itu dengan hijab yang digunakan.


"Em, sakit Bu, maaf ibu jadi melihatnya" Rena menunduk.

__ADS_1


"Tak apa nak, jangan terus meminta maaf" Bu Lidya mengusap lembut kepala Rena yang masih tertutup mukenah sholat.


Ada haru yang menyusup kedalam relung hati Rena saat ini. Sudah sangat lama dia tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibu kandung yang tak pernah dilihatnya.


"Makasih ya Bu, Rena mau siap siap dulu, sebentar lagi adek adek bangun, mau sarapan" Rena mengemasi peralatan sholatnya.


"Ya Allah, berilah hamba petunjuk membuka benang kusut ini" batin Bu Lidya.


Tak lama, iya pun menyusul Rena masuk ke dapur, memasak bersama calon menantu yang gagal.


.


.


.


"Rena pintar sekali masak, belajar dimana nak?" saat ini kedua orang wanita beda generasi itu sedang berbincang sambil mengolah makanan.


"Dulu ada yang ngajarin Rena Bu, dia seorang chef hebat" ucap Rena dengan wajah datar. Dia tetap fokus mengiris bawang di depannya.

__ADS_1


"Varo? jangan jangan Varo" batin Bu Lidya.


"Wah keren, nanti kapan kapan ibu minta diajarin ya sama Rena" secepat mungkin Bu Lidya mengalihkan pembicaraan, karena teringat kata kata dari Bu Indah sahabatnya, Rena akan kumat penyakitnya kalau teringat masa lalu. Bu Lidya tak menginginkan itu terjadi.


__ADS_2