Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kunjungan Bu Lidya


__ADS_3

Tak ada rencana yang lebih indah dibanding rencana Nya.


Takdir yang memisahkan, takdir jugalah yang akan mempertemukan.


Percayalah...


Kekuatan cinta akan menuntun dua insan untuk kembali bersatu, meskipun samudera luas terbentang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seorang nyonya besar dari grup Prasetya Corporation tengah berdiri di depan sebuah gerbang yayasan xxx.


Cukup lama wanita itu berdiri. Ada rasa ragu yang mengganggunya. Haruskah iya masuk atau putar balik kembali dan menjauhi tempat itu.


"Permisi Bu, ada yang bisa dibantu?" sapaan dari seseorang di belakang membuatnya terkejut.


Seorang bocah kecil yang berumur kira kira belasan tahun menyapa dengan sopan.


"Re.. Renata, benarkah disini ada yang bernama Renata?" Bu Lidya menjelaskan maksudnya.


"Oh kak Rena, ada Bu ayo masuk" bocah laki laki itu mempersilahkan wanita itu dengan sopan.


Bu Lidya memasuki ruangan dalam Yayasan itu. Suasana hangat terasa saat pertama kali melangkah, meskipun ruangan itu tak terlalu luas namun kesan nyaman sangat terasa.


"Jam segini biasanya kak Rena lagi di taman belakang ngajarin adek adek belajar" bocah laki laki yang memperkenalkan diri sebagai Rahman itu menjelaskan.


"Dimana tamannya?" Bu Lidya tak sabar ingin menemukan Rena.


"Disitu Bu lurus saja, saya akan ke dapur sebentar mengantarkan ini" Rahman menunjuk kantong plastik bawaannya.


"I...iya, biar saya sendiri saja" ucap Bu Lidya. Bergegas iya melangkah menuju tempat yang ditunjuk Rahman.


"Ayo adek adek pintar kita akan lanjutkan ceritanya. Ayo giliran siapa sekarang?" Rena begitu fokus dengan anak anak yang sedang diajarinya, tak menyadari kalau Bu Lidya berada di belakangnya terus memperhatikan sedari tadi.

__ADS_1


"Lo ibu masih disini, kenapa belum masuk?" Rahman yang telah selesai dari dapur kembali menyapa Bu Lidya.


"Eh i...iya, saya gak mau ganggu Rena" jawab Bu Lidya pelan.


"Ibu?" Rena yang mendengar ada yang mengobrol di dekatnya menoleh dan langsung mengenali wanita itu.


"Assalamualaikum Bu, apa kabar? kita jumpa lagi" Rena bangkit dari duduknya dan menyapa Lidya. Gadis itu bahkan mencium tangan wanita itu.


"Ma..maaf saya ganggu" Lidya merasa canggung.


"Eh enggak kok bu, kami lagi belajar santai" Rena berkata lembut dengan senyum kepada wanita itu.


"Ayo Bu Rena kenalin sama adek adek disini" Rena mengajak Lidya mendekat dan duduk diantara anak anak yang lain.


"Maaf ya Bu, duduknya di lantai" Rena segan karena Bu Lidya ikut duduk di lantai bersama dengannya.


"Gak apa nak, saya senang kok" Bu Lidya menjawab dengan terus menatap Rena.


"Selamat pagi Bu" serentak anak anak menyapa Bu Lidya.


Bu Lidya merasa sangat senang dan membalas sapaan anak anak itu dengan anggukan dan senyum.


Rena tetap melanjutkan beberapa materi yang belum selesai diajarkannya kepada anak anak. Sebelumnya iya meminta izin kepada Bu Lidya dan meminta wanita itu untuk menunggu di ruang tamu sambil menikmati hidangan yang disediakan Rahman.


Namun Bu Lidya menolak dengan alasan ingin ikut bergabung dengan anak anak, akhirnya wanita itu tetap duduk di sebelah Rena dan memperhatikan interaksi Rena dengan anak anak.


"Yeiii... pelajaran hari ini sudah selesai, mari kita ucapkan Alhamdulillah" Rena menutup sesi belajar bersamanya.


"Maaf ya Bu, jadi lama menunggu" Rena kembali menyapa Bu Lidya saat anak anak telah bubar.


"Iya tak apa, saya senang melihat rame anak anak disini" jawab Bu Lidya.


"Ayo Bu kita duduk disana saja" Rena menunjuk kearah ruang tamu.

__ADS_1


Lidya bangkit dari lantai dan berdiri dengan cepat, namun hal berbeda terjadi kepada Rena. Gadis itu nampak kesulitan berdiri, dia berpegangan ke tiang tangga yang ada di belakangnya, merubah posisi perlahan dan setelah itu baru berdiri.


Bu Lidya mengernyit heran, dia baru menyadari bahwa ada yang aneh dengan kaki Rena. Apalagi setelah melihat cara gadis itu berjalan dengan menyeret kakinya.


"Ayo Bu, silahkan duduk" Rena mempersilahkan Bu Lidya yang masih terbengong bengong.


"Nak, maaf ibu boleh bertanya?" Lidya begitu penasaran hingga tak sabar menanyakan perihal keanehan kaki Rena.


"Iya Bu. tanya aja" Rena masih terlihat santai


"Kakimu kenapa nak? apakah sedang sakit" tanya wanita paruh baya itu.


"Oh ini, maaf ya Bu, tak nyaman dilihat ya, hehe".


"Kaki Rena iya lagi sakit Bu" gadis itu menjawab singkat.


"Ke...kenapa nak?" Bu Lidya terus penasaran karena yang dia tahu sebelumnya Rena adalah gadis normal.


"Cacat Bu" nada suara Rena terdengar lirih


"Ma..maaf nak, saya gak bermaksud" ucapan Bu Lidya terhenti.


"Gak apa Bu, Rena udah terima kok keadaannya" gadis itu kembali memberikan senyum.


"Oiya ibu belum kasih tau tujuan ibu kesini? ada perlu dengan Rena kah?" gadis itu mengalihkan pembicaraan.


"Em saya ingin bertemu kamu, kemarin belum sempat ngobrol banyak, apa saya mengganggu?" Bu Lidya menjelaskan.


"Tidak Bu, Rena senang dengan kehadiran ibu disini. Tapi maaf Rena kondisinya seperti ini, takut ibu tak nyaman" Rena menjelaskan.


"Disini sangat nyaman, saya betah, saya senang disini, kalau dirumah saya sendiri, sepi" Bu Lidya kembali menjelaskan.


"Anak saya cuma satu orang, dan sekarang lagi di luar negeri" Bu Lidya mulai membicarakan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2