
"Kak, aku tiba tiba keingat ibu" Rena yang sedang berada didalam pelukan Varo berkata.
"Ibu siapa?" Varo mengernyitkan dahi. Efek dari rasa kantuk yang menyerang, membuat nya lupa kalau Rena masih memiliki Bu Wiya.
"Bu Wiya kak, sejak pulang dari rumah sakit aku belum bertemu dengannya lagi" Rena menjelaskan.
"Oh, dia"
"Ngapain dipikirkan" Varo yang membenci wanita itu menunjukkan reaksi spontan.
"Eh kok reaksinya gitu kak?" Rena tak terima dengan sikap yang ditunjukkan Varo.
"Dia bukan ibu mu sayang, bahkan dia tak pantas disebut sebagai seorang ibu" Varo terpancing emosi. Setiap kali berurusan dengan keluarga pembunuh ayahnya itu, emosinya tak dapat dikendalikan.
"Udahlah ayo kita tidur, besok mungkin akan rame lagi, kita perlu mempersiapkan tenaga" Varo berkata ketus. Tak menyadari kalau ucapannya membuat Rena sedikit kecewa.
Varo yang kelelahan tertidur pulas dengan memeluk Rena istrinya. Sementara Rena, memendam dalam diam kekecewaannya atas sikap sang suami malam ini.
.
.
.
Pagi hari menyambut.
Varo terbangun dalam keadaan sudah lebih segar. Tadi malam tubuhnya sangat letih, hingga ia tertidur pulas.
__ADS_1
Varo melihat ke sebelah ranjangnya, sang istri sudah tak ada lagi.
"Ah giliran aku yang kesiangan sekarang" Varo bermonolog sambil menggeliatkan tubuhnya.
Varo bergegas membersihkan diri dan berwudhu untuk melakukan ibadah wajib.
"Sayang, kok aku gak dibangunkan" Varo memeluk tubuh sang istri yang sedang sibuk memasak di dapur dari belakang.
"Iya maaf kak, tadi tidurnya pulas banget" Rena menjawab singkat pertanyaan Varo. Fokusnya masih kepada masakan yang diolahnya.
"Sini aku lanjutkan, kamu gak boleh capek" Varo mengambil alih tugas Rena.
Rena hanya diam, dan memilih melakukan hal lain, sikapnya terasa begitu dingin namun Varo belum menyadari.
"Udah siap semua nih sayang" Varo berkata setelah menyelesaikan menu masakan terakhirnya.
"Sayang, maaf soal semalam" Varo sadar ada yang salah dengan Rena, dan ia baru saja sadar. Sebuah pelukan hangat dari belakang dihadiahkan buat istri tercintanya itu.
"Hmmm" Rena menanggapi.
"Ah ayolah sayang, jangan mulai pagi ini dengan wajah seperti itu, aku gak sanggup" Varo memulai drama untuk membujuk Rena.
Cup... cup... cup
Ciuman bertubi tubi dihujamkan Varo kepada Rena. Sepertinya ia tak akan menyerah sebelum senyuman di wajah Rena terbit.
"Kak, udah, geli" Rena akhirnya luluh. Wanita itu tak dapat menahan senyum akibat ulah suaminya.
__ADS_1
"Gitu dong, pagi ku cerah kalau disambut senyuman kamu" ucap Varo lega.
"Pokoknya mulai sekarang aku mau kamu harus senyum terus selama di dekat aku, setiap ngambek aku hukum" Varo membuat peraturan tegas khusus buat Rena.
"Kak Varo juga janji, jangan marah marah sama aku" Rena mengeluarkan keluhan hatinya.
"Iya sayang, untuk kasus semalam aku minta maaf ya, gak sengaja" Varo menjelaskan dan memeluk Rena kembali. Pertengkaran pertama keduanya diakhiri dengan berdamai yang romantis.
"Ayo kita buka sekarang, menyambut rejeki" Varo berbicara dengan mimik wajah lucu yang membuat semangat mereka berdua berkobar, siap menjalani hari sebagai pedagang kecil di kota besar.
.
.
.
Tak jauh berbeda dengan hari pertama buka, hari kedua Varo dan Rena berjualan rame diserbu pengunjung. Nama besar Varo di dunia kuliner membuatnya tak sulit mencari pelanggan. Dari rekomendasi mulut ke mulut restoran milik Varo sudah mendapatkan popularitas sendiri.
"Huekkkk ...huekkkk" Rena tiba tiba merasakan mual tak terhingga disaat sibuk melayani pelanggan.
"Sayang, kamu kenapa?" Varo begitu cemas melihat kondisi Rena yang tiba tiba pucat dan lemas.
"Sepertinya aku masuk angin" Rena menjelaskan kemungkinan yang dipikirkannya.
"Kamu istirahat sekarang, semua biar aku yang ambil alih" Varo langsung mengambil keputusan. Semua yang menyangkut kesehatan Rena tak pernah dianggap main main olehnya.
Rena menuruti perintah Varo karena memang merasa sangat tak nyaman dengan kondisi tubuhnya. Segera wanita itu masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku, ya Tuhan jangan ganti kebahagiaan ku dengan kesedihan" Rena menangis terisak mengkhawatirkan pikiran buruk yang melintas sesaat.