Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kepercayaan


__ADS_3

"Jangan mengarang cerita Al, aku tak pernah menyentuh mu" Varo panik karena bisa saja Rena akan terpengaruh oleh drama yang dibuat oleh Alya.


"Kau bohong, saat itu kau begitu menikmati penyatuan kita, kau memuji ku setinggi langit karena kenikmatan tubuhku" Alya terus mengarang cerita.


"Stop" suara Rena terdengar menengahi perdebatan kedua orang di depannya itu.


"Aku lebih mempercayai suamiku, silahkan tinggalkan tempat ini, jangan pernah mengusik kebahagiaan kami" Rena menghancurkan semua harapan Alya. Ternyata drama penuh airmata yang dijalankannya tak mampu membuat Rena melepaskan Varo.


Rena mematung melihat Alya dipaksa Varo untuk melangkah gontai keluar dari rumah. Sekuat tenaga Rena menahan air mata. Perasaannya begitu sakit, kenapa terus ada ujian disaat dirinya bersama Varo.


"Re" Varo berniat untuk memeluk istrinya itu saat Alya telah pergi.


Rena memberikan kode dengan tangannya untuk menahan Varo mendekat.


Varo terdiam, apa yang ditakutkan terjadi. Rena terbawa pengaruh buruk yang dibawa Alya. Hingga Rena berlari masuk ke kamar, Varo tetap berdiri di posisinya. Dia akan memberikan waktu untuk Rena meredakan amarahnya sendiri. Varo yakin tak akan kalah oleh isu dan fitnah yang dilemparkan oleh Rena.


.


.


.

__ADS_1


Cukup lama Rena merenung didalam kamar. Entah mengapa hatinya tak merasakan percaya sedikitpun atas pengakuan Alya. Dia yakin suaminya tak seperti itu, tapi suatu kekhawatiran besar yang membuat Rena terus gelisah memikirkan.


"Mengapa begitu banyak halangan, baru saja dia ingin merajut mimpi mimpinya yang sempat terputus, mengapa Alya harus kembali mengacaukan semuanya" Rena bergumam sendiri.


"Menikah itu adalah seni mengalah. Menjadi seorang istri harus bisa menempatkan diri, bagaimanapun kesalnya terhadap suami, kebutuhan nya harus tetap dipenuhi" Rena teringat nasihat pernikahan dari penghulu yang kemarin.


"Astaga, aku belum selesai menyiapkan sarapan" Rena segera membuka pintu kamar dan berlari menuju dapur.


Saat keluar kamar Rena menemukan Varo yang sedang berdiri. Sepertinya sudah berada di tempat itu sejak tadi namun tak berani masuk.


"Sayang, kita harus bicara" nada suara Varo begitu lembut memohon.


Hening meliputi ruangan dapur tempat Rena memasak. Tak ada suara yang keluar diantara keduanya. Varo hanya diam memandangi Rena yang sedang berkonsentrasi memasak dari belakang.


Tak menunggu lama, hidangan sarapan pertama Rena untuk suaminya selesai. Semuanya sudah ditata rapi di meja.


"Udah siap semua, kak Varo silahkan sarapan" Rena berkata kepada Varo dengan nada datar, dia tak berani memandang ke arah suaminya itu karena takut terbawa emosi.


"Aku gak mau makan sebelum kita bicara" Varo menggenggam tangan Rena erat. Suara pria itu bergetar.


"Aku mohon sayang" Varo memohon dengan sangat.

__ADS_1


Rena mengangguk, melihat cara Varo memohon hatinya luluh.


"Duduklah" Varo menuntun Rena duduk di sofa yang berada tak jauh dari mereka.


"Apa kamu percaya aku melakukan hal tak terpuji itu kepada Alya?" Varo mulai membuka obrolan.


"Entahlah" Rena menjawab singkat dan terkesan dingin.


"Sayang, aku hanya mau bercinta dengan orang yang aku benar benar cintai. Dan sampai saat ini, cuma kamu, cuma kamu satu satunya wanita yang pernah aku sentuh, bahkan saat kita terpisah pun, aku tak pernah melakukan hal itu lagi. Aku mati rasa, aku tak bisa tertarik dengan siapapun, mau secantik dan se sexy apapun orangnya" Varo menjelaskan dengan emosi menggebu gebu.


"Ini ponsel ku, didalamnya ada email, riwayat chat, riwayat panggilan, social media apapun itu semua ada disini, dan tak pernah ada yang ku hapus satu pun, silahkan kamu periksa" Varo begitu pasrah. Dia benar benar ingin membuktikan bahwa semua yang dituduhkan Alya itu fitnah.


"Aku mohon sayang, jangan sampai karena hal ini kita kembali terpisah, aku gak rela kamu kembali pergi, aku sudah menanti bertahun tahun untuk memiliki mu" Varo mulai berkaca kaca. Rasa takut kehilangan Rena begitu besar.


Sebersit senyum terkembang di wajah Rena mendengar semua penjelasan Varo. Dia tau apa yang diucapkan suaminya ini benar. Dia harus percaya kepada sang suami.


"Aku percaya kak" Rena mengangkat wajahnya melihat kearah Varo.


Setetes bulir bening mengalir di wajah Varo. Rena mempercayai dirinya, Rena mempercayai cinta nya, dan itu semakin menambah rasa sayang di hati Varo untuk Rena.


Mereka berdua berpelukan, melepaskan emosi masing masing yang tadi sempat mengganggu pikiran.

__ADS_1


__ADS_2