Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Dipecat, kesialan lagi


__ADS_3

Varo tak bergeming dengan permintaan Rena. Baginya menikahi Rena adalah sesuatu hal yang mustahil. Gadis itu hanya untuk bersenang-senang, menghisap madunya hingga puas dan setelah itu pergi meninggalkannya.


"Tadi gimana di kampus? lancar?" Varo mengalihkan pembicaraan.


Saat ini Rena duduk di sebelah Varo. Tak lagi duduk berpelukan karena merasa tak nyaman.


"Aku dikeluarkan dari kampus kak, beasiswa ku dicabut" ucap Rena sendu.


"Maaf Re, ini semua karena aku" ucap Varo dengan menatap Rena tak tega.


"Udah takdir kak, bukan salah siapa siapa, aku pasrah" ucap Rena getir.


"Terus apa rencana mu sekarang?" Varo kembali mengorek informasi.


"Nanti sore mau ke restoran, semoga pak Adam masih mau terima aku bekerja disana lagi".


"Mau aku temani?" basa basi Varo.


"Kakak gak sibuk hari ini?" Rena berharap.


"Gak kalo buat kamu" ucap Varo dengan senyum.


.


.


.


"Sebentar lagi lakukan tugasmu dengan baik" Varo mengirim pesan lewat ponselnya kepada Adam.


"Rena sudah siap? ayo berangkat" Varo mengajak Rena.


Matahari sore sudah hampir menyelesaikan tugasnya, digantikan oleh bulan yang bersiap naik ke permukaan.


"Ayo kak aku siap" Rena berjalan menuju Varo yang sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Semangat ya sayang" Varo mengusap lembut rambut Rena.


\=\=\=\=\=\=


Suasana restoran tempat Rena bekerja masih tampak sepi, hanya beberapa kursi yang terisi oleh pengunjung.


"Selamat malam pak Adam" Rena memberanikan diri menyapa Adam di ruangan kerjanya.


"Malam Rena, duduklah" Adam menyambut kedatangan Rena.


"Kemana saja kau Rena? menghilang tanpa kabar, apa kau pikir bisa seenaknya saja pergi tanpa tanggung jawab" Adam langsung menyerang Rena dengan kemarahan.


"Maaf pak, saya mengalami beberapa kesulitan kemarin, saya mohon pengertian bapak" Rena gelisah. Sepertinya nasib pekerjaannya kali ini akan sama dengan nasib perkuliahannya.


"Lalu mau apalagi kau kesini?" Adam kembali bertanya.


"Apakah saya masih bisa diberi kesempatan untuk bekerja disini pak?" Rena memohon.


"Maaf Rena, posisimu sudah digantikan oleh karyawan lain, saya tidak menerima alasan apapun untuk orang yang melalaikan tugas" Adam menolak Rena.


"Huft" Rena menghembuskan nafas berat. Dalam satu hari dia mendapat dua kali penolakan. Berat sekali jalan yang ditempuhnya.


"Hmmm" Adam tak tega melihat ekspresi sedih Rena. Dia memandangi punggung gadis itu yang berlalu dari ruangannya.


"Maaf ya Rena, saya hanya menjalankan perintah kekasihmu yang kejam itu" gumam Adam.


Varo yang menunggu di parkiran melihat Rena berjalan gontai menuju mobilnya. Varo mengetahui apa yang terjadi dengan gadis itu. Drama selanjutnya akan dijalankan.


"Udah sayang? gimana?" Varo bertanya seolah olah tak mengetahui apa apa.


"Aku dipecat" nada suara Rena bergetar, namun masih dengan wajah datar sok tegar.


"Biar aku yang menemui Adam" Varo hendak keluar dari mobil namun lengannya ditahan oleh Rena.


"Jangan kak, emang semua kesalahan kita, posisiku sudah digantikan orang lain" Jelas Rena.

__ADS_1


"Maaf Re, karena aku mengajak kamu ke desa kamu mendapat masalah bertubi tubi seperti ini" drama Varo.


"Bukan salah kak Varo, kan kita ke desa untuk mencegah penjahat bayaran bapak berbuat jahat kepadaku" jawab Rena lagi.


Varo lupa kalau dia sudah mencuci otak Rena dengan mengatakan tentang penculikan yang direncanakan bapaknya.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan? meminta penjelasan dari bapakmu? membenci dia?" Varo bersemangat mempengaruhi Rena.


"Aku mau buka usaha aja kak, besok mau mulai, kalau soal bapak, biarlah, toh aku juga gak kenapa kenapa. Mungkin bapak khilaf, aku gak mau perpanjang" jawab Rena pasrah.


"Dasar gadis bodoh" Varo geram dengan sifat Rena yang terlalu positif cenderung lemah ini.


"Ini pakailah" Varo menyodorkan ATM miliknya. Kamu bisa gunakan buat modal buka usaha. "Gunakan sesukamu" ujar Varo lagi.


"Eh tidak perlu kak, Alhamdulillah tadi pak Adam memberi uang gaji sebulan untukku, uangnya lebih dari cukup untuk modal usaha" terang Rena.


"Pegang saja, mulai sekarang kamu kelola tabunganku ya, buat modal kita nikah, setiap bulan aku akan transfer, kamu bisa lakukan apa saja" Varo meminta Rena tetap memegang kartu ATM itu.


Kesedihan yang sempat muncul di wajah Rena seketika berubah ceria karena mendengar ucapan dari Varo soal pernikahan.


"Makasih ya kak, aku sempat berpikir kalau aku hanya dijadikan mainan kamu kak, ternyata aku salah" ucap Rena ceria.


Deg.... Varo tersindir.


"Memang seperti itu seharusnya, tunggu waktunya" batin Varo menjawab ucapan Rena.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Be****rhenti kuliah...


Tak punya pekerjaan...


Tak punya kehormatan lagi...


Tak punya keluarga yang bisa menjadi tempat berbagi...

__ADS_1


Orang orang munafik di sekelilingnya...


Kurang apalagi penderitaan Rena? ayo yang ada saran komen ya,,kita bikin Rena menderita sejadi jadinya sebelum kebahagiaan datang di masa depan**


__ADS_2