
Varo yang berjalan di belakang Rena dan Desi terus memandangi cara berjalan Rena yang tak wajar.
Rasa iba dan sayang merasuki hatinya. Gadis kesayangannya menjadi seperti ini karena ulahnya.
"Via tolong ya bikin makanan buat Rena, dari kemarin susah sekali nih buat dia makan" Desi memberi perintah.
Varo hanya mengangguk tak mengeluarkan suara. Dia masih sangat grogi.
"Rena belum lapar kak, nanti aja" Rena menolak .
"Ya udah cemilan atau buah deh biar kamu ada energi yang masuk" kak Desi memaksa.
Varo mengerti dan beranjak ke dapur. Untuk pertama kalinya dia akan membuat sesuatu yang spesial buat kekasih hatinya.
Varo telah selesai membuat seporsi salad buah spesial untuk Rena. Tapi dia bingung bagaimana caranya memberikan kepada Rena.
Dia tak mungkin bersuara, Rena pasti akan mengenalinya.
Secarik kertas dan satu buah bolpoin yang tergeletak di laci dapur membuat Varo mendapatkan ide.
Dengan langkah cepat Varo menghampiri Rena yang berbaring di kamarnya, Rena tak boleh menuggu lama, dia harus makan biar cepat pulih.
Varo mengetuk pintu kamar Rena dan mendekat dengan sopan. Rena sedang bersandar di ranjangnya. Tatapan wanita itu begitu sayu, Varo terhanyut.
__ADS_1
Varo menyodorkan sebuah kertas yang ada di tangannya. Dia memberi isyarat agar Rena membaca kertas itu.
"Maaf mba cantik, saya tidak bisa bicara, ini saya buatkan salad buah spesial, cepat sembuh ya" Rena membaca surat tersebut dan tersenyum.
"Makasih ya mba Via" Rena tersenyum ramah. Entah mengapa dia merasa Via orang yang baik, Rena menjadi nyaman dengannya, apalagi saat mengetahui kalau Via tak bisa bicara, Rena menjadi prihatin.
Varo kembali menulis.
"Mau saya suapin?".
Rena menggeleng, "gak usah mba, Rena sendiri aja".
Rena menyuap satu sendok salad buah yang tampak menggoda itu.
Rena menghentikan makannya, mata gadis itu berkaca kaca.
Varo kembali menulis.
"Kenapa? apakah tak enak?".
"Ini enak sekali" Rena menghapus dengan cepat airmata nya yang menggenang. Dia tak ingin membuat Via tersinggung, dia kembali memakan salad itu.
"Terimakasih ya mba Via, Rena kenyang sekali" Rena memberikan ucapan tulus saat Via mengambil piring kosong dari tangannya..Gadis itu memberikan senyuman tipis.
__ADS_1
"Beristirahatlah" Varo kembali menulis dan merapikan selimut di kaki Rena.
Dari jarak dekat, Varo dapat melihat apa yang berbeda dengan kaki Rena. Sebelah kaki wanita itu tampak lebih bengkak dan merah. Beberapa bekas jahitan tampak nyata.
Varo segera pergi dari kamar Rena saat selesai memberikan selimut. Dia tak tahan menahan perih hatinya melihat kaki Rena yang seperti itu.
"Apa yang menimpa mu sayang, maafkan aku" Varo menangis dalam hatinya.
Sementara Rena di kamarnya merasa ada yang janggal dengan orang baru itu. Rena merasa tak asing dengannya. Rena merasa tatapannya berbeda, dia mengingatkan tentang Varo.
"Aku gak boleh terus seperti ini, kasihan kak Desi terus ku repotkan" batin Rena.
"Kak Varo adalah masa lalu, aku harus siap menghadapinya jika dia kembali mengganggu, aku gak boleh lemah" Rena terus memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.
Hampir setengah jam gadis itu bermonolog sendiri sebelum akhirnya dia tertidur karena pengaruh obat yang baru diminumnya sehabis makan tadi.
Saat gadis itu tertidur, Varo kembali masuk dan memandanginya dengan diam. Varo menatap Rena dengan penuh rindu. Dia sangat ingin memeluk Rena, tapi itu semua harus ditahannya, dia tak ingin kembali menyakiti Rena.
Bekas luka yang menghiasi wajah Rena tak membuat rasa cinta Varo berkurang. Bahkan dengan bekas luka itu dia semakin merasa ingin melindungi Rena. Rasa cintanya bertambah.
Dikira kira begini ya 😂, silahkan dibayangkan sendiri.
__ADS_1