
"Izinkan saya melihatnya sebentar" Varo memaksa.
"Dari sini saja, lihatlah" Desi menggeser sedikit tubuhnya namun tetap menghalangi pintu. Dia tak ingin Varo masuk mendekati Rena.
Perih dihati Varo semakin menjadi, Rena terbaring dengan selang oksigen di hidung nya. Nafas wanita yang dicintainya itu tersengal sengal.
"Apa yang terjadi dengannya" suara Varo bergetar.
"Semua yang terjadi adalah hasil kekejaman mu" ucap Desi dengan nada marah.
"Sekarang pergilah, jika dia terbangun dan masih melihat mu disini, bisa dipastikan jantung nya akan berhenti berdetak" Desi mengancam.
"Mas, meskipun aku bingung, tapi ucapan dokter ini benar. Sebaiknya tunggu semua tenang dulu baru nanti bertemu lagi" Zifa mengambil alih dengan bijak.
"Tante, ayo kita pulang dulu, semuanya butuh waktu sendiri" Zifa juga menarik sang Tante yang berada di belakang Varo.
"Kami pamit, tolong kabari apapun yang terjadi dengan Rena" Bu Lidya akhirnya berbicara.
"Kami tau apa yang akan kami perbuat Bu" Desi menjawab dengan wajah penuh emosi.
Untuk sejenak suasana di yayasan kembali hening, Varo beserta keluarganya telah pergi sepuluh menit yang lalu.
Desi tetap berada di kamar bersama Rena. Memastikan kondisi gadis itu stabil terkendali.
.
.
.
Sore tenggelam, malam pun datang.
Rena baru saja siuman dari pingsannya. Desi yang berada di sebelahnya menyapa dan memberikan senyum kepada gadis itu.
"Alhamdulillah, masih sesak?" Desi menanyakan kondisi Rena.
__ADS_1
Rena menggeleng lemah.
"Ya udah aku lepas ya selang oksigennya" Desi meminta izin.
"Ini makan dulu, kamu pasti lapar" Desi menyodorkan sebuah nampan berisi seporsi makanan lengkap dengan susu dan buah.
Rena kembali menggeleng lemah. ***** makannya menghilang. Dia tak ingin apapun saat ini. Semua ketakutannya kembali menghantui.
"Makan dulu, nanti kita bicara, kamu perlu tenaga" Desi memaksa Rena untuk tetap makan, dan gadis itu menurut.
.
.
.
Pagi hari baru saja datang. Varo yang tak tidur semalaman sudah bersiap menemui dokter Desi untuk mengetahui semua tentang Rena.
"Mas Varo sarapan dulu" Zifa memanggil Varo yang baru saja turun dari tangga.
"Kan janjian jam sembilan mas, ini masih jam tujuh kurang" Zifa mengingatkan.
"Takut macet, aku pergi sekarang, kamu jangan kemana mana jagain mama" Varo memerintah Zifa.
"Iya tuan" Zifa menjawab dengan kesal.
.
.
.
Varo terus menghentak hentakan kaki pertanda hatinya sedang gelisah. Dia sudah berada di ruang tunggu tempat dokter Desi praktek sedari tadi. Bahkan sebelum dokternya sendiri sampai.
Petugas yang berjaga tak bisa mencegah Varo. Pria itu memaksa tetap menunggu sampai dokter Desi datang.
__ADS_1
"Selamat pagi dokter, ada seorang pria yang menunggu dari tadi" saat dokter Desi baru saja masuk ke lobby rumah sakit, seorang perawat jaga memberikan kabar kepadanya.
Desi menyunggingkan senyum, dia menghargai usaha kerasa Varo untuk Rena.
"Dia tamu saya" ucap dokter Desi menjelaskan.
"Selamat pagi Varo" dokter Desi menyapa Varo yang sedang melamun didepan pintu masuk ruangan prakteknya.
"Pagi dokter" Varo menjawab dengan sopan.
"Silahkan masuk, kita bicara didalam" dokter Desi mempersilahkan Varo untuk masuk ke ruangannya.
Varo duduk persis di seberang dokter Desi. Pria itu tak sabar mendapatkan penjelasan mengenai keadaan Rena, wanita yang disayanginya.
"Varo, kamu tidak mengenali saya?" Desi memulai percakapan dengan santai.
Varo membaca papan nama di meja Desi. "Desi Aqilah" Varo merasa familiar dengan nama itu.
"Saya Desi, dulu saat masih kecil kita sering berjumpa karena orangtua kita arisan setiap bulan" Desi menjelaskan.
"Oh iya, kak Desi anaknya Tante Indah?" Varo mulai mengingat.
"Iya, syukurlah kamu ingat" ucap Desi.
"Waktu cepat berlalu ya, adik kecil yang dulu sering ku buat menangis sekarang sudah menjadi seorang laki laki dewasa. Yang kejam dan membuat menderita seorang wanita" Desi kembali ke mode penuh emosi.
Varo hanya diam mendengarkan semua ucapan Desi. Dia tak membantah karena memang itulah kenyataannya.
Desi mengambil sebuah map dokumen yang berisi laporan kesehatan Rena.
Dokter itu mengambil beberapa lembar foto kondisi Rena saat pertama kali ditanganinya. Sebagai dokter kesehatan jiwa, Desi mempunyai dokumen berbeda dengan dokter lainnya.
"Ini, kamu perhatikan dan beri komentar" Desi menyerahkan lembaran foto tersebut.
Tubuh Varo bergetar. Foto demi foto yang dilihatnya sangat memilukan.
__ADS_1
"Ya Allah Rena ku" jerit batin Varo.