Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Mocca latte hangat


__ADS_3

Varo menajamkan pandangannya, tak percaya jika orang yang sedang berada di hadapannya adalah Rena.


Varo semakin yakin saat melihat wanita di sebelah Rena yang sedang menahan senyum namun berpura pura tak mengenalinya.


"Re..Rena" suara Varo tercekat.


Rena juga tak kalah syok. Dia tak menyangka bertemu dengan Varo di tempat seperti ini. Di negara orang yang berjarak ribuan km dari negara asalnya.


"Sejauh apapun kau berlari, cinta pasti akan mengejarmu"


.


.


.


Varo meletakkan secangkir mocca latte dan dan secangkir espresso pesanan Kiara di meja tempa keduanya duduk.


Saat tadi bertemu Rena hanya mampu memberikan senyuman kaku kepada Varo, tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Begitu juga dengan Varo. Dia tak berani mengajak Rena berbicara, dia hanya bertanya kepada Kiara mengenai pesanan apa yang diinginkan dan segera berlalu. Namun apa yang disajikan Varo menandakan kalau dia masih mengingat semua yang disukai Rena. Secangkir mocca latte hangat.


"Ayo balik, aku gak nyaman disini" Rena mengajak Kiara pergi secepatnya.

__ADS_1


"Kenapa emangnya, tempatnya asyik, aku pengen bersantai sebentar disini" Kiara berlagak seolah olah tak mengerti apa apa.


Tanpa mereka sadari, Varo telah memasang tanda close di depan coffee shop nya. Varo tak ingin melewatkan kesempatan bertemu dengan Rena lagi. Jika dia terus melayani pelanggan, bisa bisa dia tak fokus dan akan menjadi kacau.


Ingin sekali rasanya Varo mendekati meja Rena dan mengajaknya berbicara. Tapi dia tak mempunyai keberanian untuk itu. Pelajaran hidup yang didapatnya beberapa bulan terakhir ini membuat Varo menjadi seorang yang tak percaya diri.


Drttt...drttt....


Ponsel Varo berdering pertanda ada pesan masuk.


"Woi, udah gue bawain Rena kesini tapi lu malah diam aja disitu, gue pulang lagi nih" pesan bernada ancaman dikirim Kiara untuk Varo.


"Kenapa lu gak ngabarin gue sih, gue gak siap" Varo membalas pesan Kiara. Kedua orang tua terlibat balas membalas pesan padahal berhadap hadapan.


"Gue takut dia masih marah" Varo kembali mengirim pesan buat Kiara.


"Marah itu mungkin masih ada, tapi sudah bisa dikendalikan, coba lah kesini, gue jamin Rena tak akan mengusir lu" tambah Kiara.


"Dan ingat, jangan sok akrab sama gue, Rena gak tau kalau gue teman lu" Kiara kembali mengingatkan.


Pesan dibaca Varo. Tekadnya sudah bulat, perlahan iya berdiri dan melangkah kearah meja dimana Rena dan Kiara duduk.


"Hai, boleh gabung" Varo menyapa dengan gugup.

__ADS_1


Rena hanya melihat sekilas dan membuang pandangan kearah lain.


"Hai, silahkan duduk" Kiara dengan ramah menyambut Varo.


"Anda yang meracik ini?" Kiara membuka percakapan.


"Iya, saya pelayan disini" jawab Varo dengan terus menatap kearah Rena.


Rena terhenyak dengan ucapan Varo. Dia dengan refleks langsung menoleh kearah Varo. Tak disangka mata Varo langsung menangkap matanya. Tatapan itu kembali terjadi.


Rena kembali membuang muka.


"Espresso buatan anda sangat nikmat, rasanya spesial" puji Kiara.


"Terimakasih, ini semua karena terinspirasi dari seseorang yang spesial, yang menjadi sumber semangat saya" tutur Varo.


"Oh benarkah?, siapakah orang itu, apakah dia kekasih anda?" Kiara mulai menikmati drama yang dimainkannya.


"Iya, dia orang yang sangat spesial, pemilik hati saya dari dulu hingga sekarang. Seseorang yang sangat menyukai segelas mocca latte hangat" Varo terus berbicara.


Rena yang hanya diam dan memandang kearah lain terbatuk batuk kala mendengar ucapan Varo. Dia terjebak dalam situasi sulit, ingin pergi dan ingin tetap berada disana.


"Silahkan diminum" Varo menyodorkan lebih dekat cangkir berisi mocca latte kearah Rena. Wanita itu salah tingkah.

__ADS_1


"Ah, anda terlihat sangat mencintainya, beruntung sekali wanita itu. Apakah dia cantik?" Kiara kembali memancing.


"Sangat cantik, dan selalu membuat rindu" tambah Varo. Masih dengan tatapan penuh cinta kearah Rena yang terus membuang muka.


__ADS_2