
Varo, aku turut sedih ya, sejak tante meninggal aku belum sempat kerumah kamu" Alya agresif berusaha memeluk lengan Varo.
"Maaf Al, geser dikit ya" Varo jengah dengan kelakuan Alya yang hiper agresif.
"Owh maaf, aku kelewat kangen sama kamu" Alya mulai sadar akan kondisinya.
"Iya gak apa apa Al, aku sudah ikhlas dengan kepergian mama" Varo menjawab ucapan belasungkawa dari Alya.
"Kamu kerja di kantor ini?" Varo memulai obrolan dengan mantan kekasihnya itu.
"Iya, aku disini manajer marketing" Alya menjelaskan.
"Oh gitu" Varo menanggapi hanya dengan sepatah kata, karena sebenarnya dia tak terlalu peduli.
"Ya udah, aku duluan ya, aku masih anak baru disini, gak enak kalau kelamaan ngobrol" Varo berinisiatif untuk segera pergi dari tempat itu.
"Nanti pulang bareng ya" Alya bersikap manis, mencoba merayu.
"Aku udah ada janji sama teman, next time ya" Varo menolak dengan halus dan segera berlalu.
.
__ADS_1
.
.
Sore hari menjelang. Jam pulang kantor sudah tiba, Varo bersiap pulang.
"Bro, udah siap? ayo kita ngopi" Aldi datang ke ruangan Varo dan menepati janjinya untuk mengajak Varo ngobrol di suatu tempat.
"Oh iya, baru siap, ayo" Varo menyambut ajakan Aldi. Kedua pria itu jalan beriringan menuju parkiran mobil.
Tibalah mereka di depan sebuah cafe bernuansa alam yang berada tak jauh dari kantor mereka bekerja.
"Lu tinggal dimana sekarang?" Aldi membuka percakapan. Saat ini mereka tengah menunggu pesanan yang diorder datang.
"Masih di rumah lama, gue tinggal bersama adik sepupu gue" Varo menjelaskan.
"Apa lu pernah berjumpa dengan Rena setelah kejadian itu?" pertanyaan yang sedari tadi sangat ingin ditanyakan oleh Aldi akhirnya keluar juga.
"Apa kalian tak pernah berkomunikasi?" Varo bukannya menjawab justru balik bertanya.
"Setelah insiden pesta gagal itu, Rena sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit, gue dan Aulia gantian menjaga. Dokter memberi tahu kalau dia dalam keadaan hamil, namun Rena bersikeras tak akan memberitahu apapun kepada lu, bahkan gue dan Aulia dipaksa diam.
__ADS_1
Saat itu pertama kalinya gue lihat Rena sangat tegar, bahkan dia menyayangi janin didalam perutnya itu dengan tulus, dia tak menolak sedikitpun.
"Gue pernah datang ke rumah lu, gue tak tahan memendam rahasia Rena, gue ingin lu bertanggung jawab, tapi lu udah terbang ke luar negeri" Aldi kembali menceritakan semua kejadian yang terjadi hampir tiga tahun lalu.
"Gue dan Aulia mengantar Rena pulang dan menjadi saksi mata saat Rena mengakui kehamilannya kepada orangtuanya. Rena mendapatkan amukan kemarahan dari mereka, Rena dicaci maki bahkan dipukul, tapi gue dan Aulia tak bisa berbuat banyak.
Sejak itu, kami tak bisa menghubungi Rena, kami pikir dia butuh waktu menenangkan diri, namun seminggu setelahnya Rena mengabari gue dan Aulia kalau dia akan menikah. Dia tak mengadakan acara apapun, hanya pernikahan di kantor urusan agama saja.
Itulah terakhir kali gue mendapat pesan Rena, dia tak pernah muncul lagi, gue dan Aulia mencarinya kemana mana namun hasilnya nihil" Aldi mengakhiri penjelasannya.
Varo hanya diam membatu mendengar semua penjelasan Aldi.
Varo bisa merasakan bagaimana kalutnya Rena saat itu, menghadapi masalah sendirian.
"Sampai sekarang gue gak habis pikir, bagaimana bisa lu sekejam itu memperlakukan Rena, gue hanya bisa berharap dia sekarang bahagia bersama keluarga barunya" Aldi kembali berceloteh.
"Rena belum bahagia" nada suara Varo terdengar begitu berat.
"Lu tau darimana? apa lu tau sekarang Rena ada dimana?" Aldi sangat bersemangat.
"Iya. ceritanya panjang, sekarang Rena dan gue berteman, hatinya begitu tulus, dia memaafkan semua kesalahan gue" ucap Varo menunduk, tangannya terus mengaduk aduk secangkir mocca latte hangat di depannya.
__ADS_1