
Rena dan Varo bersiap mengisi pagi dengan tujuan masing masing. Karena pernikahan mereka yang mendadak, Varo tak sempat mengurus izin cuti dari tempatnya bekerja, begitupun dengan Rena. Hari ini hari pertamanya kuliah, jadi untuk sementara mereka singkirkan dulu masa masa bulan madu berdua.
"Sayang udah siap?" Varo memeluk tubuh Rena yang sedang bercermin dari belakang.
"Udah kak, ayo" Rena membalikkan tubuh dan merapikan dasi yang melilit leher baju Varo. Penampilan baru Varo yang formal lengkap dengan jas membuat Rena terkesima, dia tampak berwibawa.
"Suami aku cakep banget" Rena menggoda Varo sambil mengelus pipinya.
"Istri ku juga cakep banget, aku takut banyak mahasiswa yang menggodanya" Varo mengungkapkan isi hatinya.
"Hahaha, kak Varo lucu, masa ada yang mau godain ibu ibu seperti aku, pasti di kelas aku yang paling tua" Rena menjawab santai kecemasan Varo.
"Kau tampak sangat menggoda sayang, gadis gadis itu semua lewat" Varo berbisik di telinga Rena.
"Ah aku terpancing, sebaiknya kita segera berangkat" Varo mencium basah pipi Rena sebelum akhirnya menjauh, dia takut akan terbawa suasana dan menerkam Rena.
Wanita itu tersenyum sendiri melihat tingkah laku suaminya yang aneh.
.
__ADS_1
.
.
Varo menurunkan Rena di depan gerbang kampus. Rena bersikeras tak ingin diantar masuk kedalam, karena Varo pun sudah terlambat untuk bekerja.
Setelah berpamitan dan mencium tangan suaminya, Rena bergegas masuk kedalam kawasan kampus, Varo memandang sejenak Rena yang perlahan menghilang, setelah itu barulah ia mengemudikan mobil menuju ke kantor.
Varo sudah mendapatkan izin terlambat sebelumnya dari bagian personalia perusahaan. Aldi bahkan telah memberikan perintah untuk mengizinkan Varo cuti selama tiga hari, tapi Varo memilih menggunakan itu nanti, saat ia dan Rena pergi berbulan madu.
Sesampainya di kantor, Varo berpapasan dengan Alya yang menatapnya penuh benci. Varo memilih mengabaikan dan menghindari wanita itu.
Sementara itu, Zifa telah kembali berada di rumah, dan hidup bersama Varo dan Rena. Kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil ini, ditambah dengan kehadiran Alif di tengah mereka, membuat lengkap lah sudah impian Varo.
Kondisi kesehatan Bu Wiya pun sudah semakin membaik. Setiap hari Rena memantau perkembangan kesehatan sang ibu angkat, Bu Wiya telah menyesali perbuatannya dan memohon ampunan dari Rena.
Rena juga telah mengetahui kalau selama ini Varo lah yang membayar semua tagihan rumah sakit wanita itu. Hampir setiap hari ada saja satu kebaikan Varo yang terungkap. Rena semakin hormat dan menyanjung suaminya itu.
.
__ADS_1
.
.
Hari pun berlalu.
Seminggu sudah Rena dan Varo merajut kasih sebagai suami istri. Dengan telaten Rena melayani semua kebutuhan suaminya. Meskipun hubungan suami istri diantara mereka masih terbatas namun Varo sudah mendapatkan kebahagiaan teramat sangat sejak ada Rena di sisinya.
Pagi hari, seperti kebiasaan baru mereka, Varo mengantarkan Rena menuju kampus dan selanjutnya berangkat menuju ke kantornya.
Namun suatu yang berbeda pagi ini terjadi. Sejak awal Varo masuk kedalam kantor, tatapan mata berbeda dirasakannya dari semua rekan kerja yang berpapasan.
Varo merasakan ada sesuatu yang tak beres telah terjadi.
Dan benar saja, baru saja Varo masuk kedalam ruangan, dua orang petugas berseragam polisi sedang menunggunya.
Varo dituduh telah melakukan tindakan kejahatan pemerkosaan kepada Alya. Foto foto yang dulu sempat diambil oleh orang suruhan Alya, berhasil di rekayasa dan menjadi bukti kuat adanya tindakan kejahatan itu.
Akting Alya pun tak kalah luar biasa, wanita licik itu bahkan melukai dirinya sendiri di hadapan keluarganya agar mereka percaya dan menekan Varo untuk bertanggung jawab.
__ADS_1