Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Setelah bahagia terbitlah derita


__ADS_3

Rena telah menata semua makanan yang tadi mereka pesan. Tinggal menunggu teman temannya datang.


Varo yang baru saja selesai mandi merasakan tubuhnya menjadi ringan dan bergairah, namun dia tak terlalu mempedulikan karena sebentar lagi tamu mereka akan datang untuk makan bersama.


"Sayang mandi dulu, biar aku siapkan sisanya" ucap Varo kepada Rena.


"Iya sayang, aku mandi ya" Rena berlalu dari pandangan Varo.


Acara makan malam pun berjalan lancar tanpa ada masalah. Canda tawa menghiasi sepanjang malam. Hingga sampai akhirnya Aldy dan Aulia berpamitan pulang.


Selepas kepergian Aldy dan Aulia, Rena mengemas piring kotor dan membersihkan meja makan.


Rena tak menyadari Varo terus menatapnya sejak tadi dengan pandangan sayu, bahkan sejak acara makan malam belum dimulai.


"Kak Varo kenapa? kok keringatan gitu?" Rena melihat Varo tak seperti biasa.


"Sayang,,,mphhhh" Varo tak melanjutkan kata katanya tapi malah ******* bibir Rena yang sedari tadi menjadi objek khayalannya.


Rena yang mendapat sentuhan juga ikut terpancing. Hasrat kedua insan itu menggebu gebu. Sate kambing ditambah jamu penambah libido sukses membuat mereka panas dingin ingin meledak.

__ADS_1


"Kita akan menikah bulan depan, izinkan aku memilikimu malam ini sekali lagi sayang" nada suara Varo serak pertanda hasratnya yang sudah naik ke ubun ubun.


Rena yang juga dalam pengaruh rangsangan tak lagi melakukan penolakan. Wanita kalem itu berubah menjadi agresif dengan gerakan gerakan sensual yang dibuatnya.


Varo membawa Rena masuk kedalam kamar dengan menggendongnya.


Sekali lagi, malam panjang penyatuan tubuh dua insan terjadi. Rena dan Varo melayang ke surga dunia. Keringat dan cairan tubuh mereka bersatu membasahi ranjang tempat tidur.


Lenguhan dan erangan sahut menyahut sepanjang malam, dan diakhiri dengan pelepasan Varo yang menghangatkan rahim Rena. Inilah yang akan menjadi babak baru kehidupan mereka, yang akan mengikat mereka di masa depan.


Rena dan Varo baru menghentikan aksi mereka menjelang dini hari. Kulit putih tubuh Rena berubah menjadi belang belang karena menjadi sasaran bibir Varo, terutama bagian leher dan dada.


"Terimakasih sayang, aku pasti akan membahagiakan mu" sambil mengecup dahi Rena, Varo ikut masuk kedalam selimut menyusul kekasihnya ke alam mimpi yang indah.


.


.


.

__ADS_1


Hari hari berlalu, penuh kebahagiaan yang menyelimuti dua insan yang dimabuk cinta.


Drttt....drtttt...ponsel Varo berdering saat iya tengah fokus ke layar laptop mengecek laporan perusahaan.


"Tuan, nyonya besar kritis di rumah sakit saat ini, harap tuan segera datang" asisten pribadi sang ibu yang bernama Dila menelepon Varo dengan panik.


"Ya Allah mama" Varo panik dan segera bergegas ke rumah sakit.


Dengan kecepatan tinggi, Varo sampai di rumah sakit dalam waktu kurang dari setengah jam.


"Mba Dila, mama kenapa?" nafas Varo terengah engah karena baru saja berlarian sepanjang lorong rumah sakit.


"Bu Lidya meminum obat tidur dalam dosis tinggi terlalu banyak, saat ini kondisi beliau kritis" Dila menjelaskan.


"Deg" Varo tak menyangka dibalik kebahagiaan yang dirasakannya beberapa waktu terakhir, sang mama ternyata sedang menderita. Varo lupa memikirkan perasaan wanita itu.


"Dokter siapa yang menangani mama, aku mau bertemu" Varo mengambil alih.


"Dokter Frans masih berada didalam menangani nyonya, sudah dari tadi tapi masih belum keluar" Dila menambahkan.

__ADS_1


Varo mengusap kasar wajahnya. Perih rasa hatinya. Masih segar dalam ingatan bagaimana rasanya dia kehilangan sang ayah. Dan Varo tak bisa membayangkan jika dia juga harus kehilangan satu satunya orang tuanya yang tersisa. Ibu tercintanya.


__ADS_2