Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Takdir buruk pertama


__ADS_3

Pagi baru saja menjelang.


Varo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air matanya terus menetes sepanjang perjalanan.


Beberapa kali dia menerobos lampu merah. Dia tak mempedulikan keselamatan jiwanya.


Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Varo berlari memasuki lift menuju kamar perawatan Rena.


"Rena" Varo menatap Rena dengan tajam.


Wanita itu baru saja selesai membersihkan diri. Jarum infus masih setia menancap di tangannya.


DEG...


Varo memeluk Rena tanpa berkata apa apa. Tangis pria itu pecah dibalik pelukannya.


"Lepas" Rena berusaha mendorong tubuh Varo yang mengungkungnya.


"Maafkan aku, maafkan aku" hanya ucapan itu yang terus diulang ulang Varo.


Pelukannya sudah terlepas, posisi mereka saling berhadapan.


"Ada apa?" Rena kebingungan.


"Benarkah saat aku meninggalkan mu, saat itu kamu sedang mengandung anakku?" Varo menanyakan hal yang paling ditakuti Rena.


Air mata Rena langsung jatuh. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"A... apakah itu benar Rena?" Varo terus mendesak.


"Pergi dari sini, aku gak mau membahasnya" Rena terisak.

__ADS_1


"Jujur Re, katakan padaku apakah Alif anakku?, apa benar semua ini?" Varo terus mendesak.


"Dokter, suster, tolong" Rena histeris. Ingatan tentang bayi merah yang meninggal di pangkuannya kembali muncul di depan mata. Rena belum sepenuhnya sembuh dari gangguan mental yang dideritanya, dan Varo kembali memercikkan api hingga rasa dendam dan luka itu kembali membara.


Rena memegangi dadanya, tenggorokannya terasa tercekik. Rena tersengal sengal karena tak bisa bernafas. Dan akhirnya gadis itu pingsan.


"Rena" gantian Varo yang histeris dan memeluk wanita yang dikasihinya itu.


.


.


.


Varo terus gelisah dengan kondisi Rena. Wanita itu sedang mendapatkan tindakan medis saat ini. Varo tak bisa melihat kedalam apa yang terjadi.


Tak berselang lama. Desi dan suaminya datang. Wajah panik juga tampak dari kedua orang itu.


"Kak, apa benar Rena pernah hamil anakku?" Varo kembali mengulang pertanyaannya.


"Kau tau darimana?" Desi tampak kaget.


"Jawablah kak, apa benar ini semua?" Varo kembali mendesak.


"Iya, kau meninggalkannya saat dia tengah hamil, dan kehamilan penuh siksaan dialaminya, orang di sekelilingnya memaksa untuk menggugurkan janin itu, tapi Rena berjuang untuk menyelamatkannya.


Dan sampai akhirnya tubuh Rena tak sanggup lagi mendapatkan kekerasan fisik, janinnya keluar sebelum waktunya. Rena melihat bayinya yang sudah tak bernyawa, karena itulah jiwanya terguncang" dengan bergetar Desi menjelaskan semuanya.


"Puas kau menghancurkannya?" Desi menahan tangis.


"Menyesal aku membiarkan mu kembali mendekati Rena, karena ulah ceroboh mu memaksa Rena mengingat lagi kesedihannya. Dan berakhir seperti ini, Rena kritis, jantungnya sangat lemah" tangis Desi pecah.

__ADS_1


Varo merosot dari posisinya. Bumi tempatnya berpijak terasa goyah. Rena kembali diambang kematian karena ulahnya. Penyesalan tak kunjung habis dalam hidupnya.


"Drtttt...drtttt" ponsel Varo bergetar.


Zifa menelponnya.


"Mas Varo, tante pingsan tak sadarkan diri di kamarnya, sekarang di rumah sakit xx" Zifa mengabarkan dengan panik.


Varo mengusap kasar wajahnya, sang ibu membutuhkannya saat ini.


"Kak, aku pergi sebentar nanti aku kembali, tolong kabari perkembangan Rena" Varo berbicara dengan Desi.


Wanita itu tak menjawab, dia memilih diam dan mengabaikan Varo.


.


.


.


Rumah sakit tempat sang ibu dirawat adalah tempat yang sama dengan Rena dirawat saat ini.


Varo berlari kearah UGD sesuai arahan yang tadi ditunjukkan Zifa.


"Dek, apa yang terjadi sama mama" Varo segera menanyakan kondisi sang ibu saat ini.


"Tante dari semalam gak keluar kamar setelah menerima tamu. Sepertinya tamu itu memberikan kabar yang bikin tante shock. Tadi pagi aku maksa buka kamar tante dan ternyata beliau sudah tergeletak di lantai" Zifa menjelaskan.


"Kondisi tante kritis mas" Zifa menambahkan.


Varo bertambah stres. Dua berita besar hari ini membuat hidupnya terasa sangat sulit. Di satu sisi dia mengkhawatirkan Rena, sedangkan di sisi lain, ibunya juga menghadapi permasalahan yang berat. Perlahan namun pasti, kesedihan demi kesedihan mulai mengikuti Varo.

__ADS_1


Tanpa Rena perlu membalas, takdir buruk sendirilah yang sedang mendekati pria itu.


__ADS_2