
Varo memasang sabuk pengaman Rena dengan hati hati, setelah itu dia bergegas melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke rumah sakit terdekat.
Rena terus menatap ke arah luar jendela, dia tak ingin terlibat percakapan apapun dengan orang yang mengemudikan mobil saat ini.
"Re, sabar ya, sebentar lagi sampai" Varo mencoba membuka obrolan.
Rena hanya diam tak menanggapi.
"Huftt, dicuekin kasihan deh gue" ucap Varo menggoda dirinya sendiri.
Tak lama, mobil Varo sudah terparkir di lobby unit gawat darurat rumah sakit. Varo berlari masuk memanggil petugas untuk memberi penanganan kepada Rena.
.
.
.
Gimana keadaannya dokter?" Varo menanyakan kepada dokter yang tengah memeriksa Rena.
Rena tetap hanya diam dan memasang wajah datar menanggapi Varo yang mengkhawatirkannya.
"Ini tak bisa lagi, harus segera dilakukan tindakan" dokter menjelaskan.
"Sebelumnya pasien sudah mengetahui kalau tulang kaki yang retak tidak bisa terus menerus dibiarkan tanpa terapi. Seharusnya pasien tidak boleh bergerak, kondisi pasien seperti ini mempersulit pengobatan, mau tidak mau kita harus melakukan operasi" dokter menegaskan.
__ADS_1
Varo mengusap wajahnya, sesuai perkiraannya, kondisi kaki Rena memburuk. Varo menatap sekilas kearah Rena yang masih berbaring di ranjang ruangan UGD. Gadis itu membuang muka tak mau membalas tatapannya.
"Segera urus administrasi, kita akan lakukan tindakan besok pagi" dokter memberi perintah.
"Maaf dokter, saya tidak mau melakukan tindakan, saya mau pulang saja" Rena membantah perintah dokter.
Varo menggeleng gelengkan kepalanya tak setuju.
"Dokter, izinkan kami berbicara sebentar" Varo meminta waktu.
"Baiklah, segera ya diurus" dokter beserta suster yang memeriksa Rena pergi meninggalkan ruangan itu.
Varo berjalan mendekati Rena dan berhenti tepat di depan wajah wanita itu.
"Bukan urusan anda dan tidak usah mempedulikan saya" Rena menjawab dengan kasar.
"Re, cukup, jangan seperti ini" nafas Varo naik turun menahan emosi melihat sikap Rena yang begitu kasar.
"Saya mau pulang" Rena mencabut sendiri jarum infus yang melekat di tangannya, hal ini terjadi di depan mata Varo. Pria itu berteriak histeris, Rena benar benar tak bisa diatur.
Darah segar mengucur di tangan bekas infus Rena. Suster jaga segera datang karena teriakan Varo.
"Saya berhak atas hidup saya sendiri, jangan atur saya, suster saya mau pulang" Rena menangis meluapkan kekesalannya.
Varo yang berdiri di pojok ruangan ikut merasakan sakit yang dialami Rena.
__ADS_1
Rena akhirnya tertidur setelah mendapatkan suntikan obat penenang. Varo juga telah menghubungi dokter Desi untuk mendampingi Rena yang kembali mengalami gangguan kecemasan.
"Ada apa Varo? kenapa Rena seperti ini lagi?" Desi menanyakan semuanya kepada Varo.
"Aku sudah berkali kali ditolak Rena, bahkan saat di yayasan dia mengusir ku, Rena meminta ku menjauhinya.
Tapi aku gak bisa pergi begitu saja dari hidup Rena, aku terus mengawasinya, aku mengawasi dari jauh, memastikannya selalu aman meskipun dari kejauhan.
Tadi sore saat Rena kembali dari tempat laundry dua orang preman mendatanginya dan memaksanya, Rena ketakutan, untunglah aku dan beberapa orang warga berhasil mengamankan Rena.
Aku terpaksa muncul di hadapan Rena kak, tak mungkin aku membiarkan dia dalam kesulitan sendirian.
Dan aku membawa Rena ke rumah sakit karena kondisi kakinya memburuk. Dokter meminta untuk segera dilakukan operasi, Rena menolak dan meminta diizinkan pulang, dia tak mau ditangani dokter" Varo menceritakan semuanya.
"Hufttt" Desi menghela nafas mendengarkan semuanya.
"Kaki Rena itu adalah salah satu bukti betapa beratnya siksaan yang dia hadapi. Sebuah balok kayu besar dihantamkan ke kakinya berkali kali.
Tulang kakinya retak, seharusnya dalam kondisi seperti itu Rena tak boleh sama sekali melakukan gerakan, dia harus beristirahat total" Desi menjelaskan.
"Bayangkan, lebih dari satu tahun Rena menahan sakit di tubuhnya. Beban psikologis yang dipendamnya membuat dia melakukan hal hal nekat seperti tadi, mencabut infusnya sendiri, dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri" tutur Desi.
"Aku sangat paham dengan kondisi Rena, banyak ketakutan yang menghantuinya".
"Berikan dia ruang, jangan memaksanya" Desi mengakhiri penjelasannya.
__ADS_1