Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Hati yang merasa terabaikan


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Aldi berhenti didepan gerbang yayasan tempat Rena berada. Aldi berhenti tepat di belakang Varo.


Varo memutuskan untuk memberi kejutan kepada Rena dengan mempertemukannya dengan sahabat di masa lalunya.


"Rena tinggal disini?" Aldi tak sabar ingin bertemu.


"Iya, lu ikuti gue ya" Varo berjalan mendahului Aldi dan masuk kedalam rumah yayasan itu.


"Itu dia" Varo menunjuk kearah taman dimana Rena sedang belajar bersama anak anak yayasan.


Aldi terdiam, dia melihat Rena yang sedang membelakanginya. Penampilan Rena jauh berubah, tampak berbeda terutama dengan hijab yang dipakainya.


"Rena" Aldi mendekat dan menyapa sahabat yang dirindukannya itu.


Rena menoleh karena mendengar ada seseorang yang memanggilnya.


"Aldi?" Rena takjub tak percaya, orang di hadapannya saat ini adalah sahabat terbaik yang dulu banyak membantunya dikala sulit.


Aldi spontan memeluk Rena menumpahkan semua kerinduannya. Sungguh Aldi sangat merindukan wanita itu.


DEG...


Ada rasa cemburu yang tiba tiba menyergap Varo ketika melihat Rena dipeluk oleh Aldi.

__ADS_1


"Ehm" Varo memberi kode kepada keduanya.


Aldi melepaskan pelukannya dari Rena dan menoleh kearah Varo.


"Sorry gue terbawa suasana, gue gak menyangka akhirnya bisa bertemu lagi dengan Rena".


"Kak Varo yang bawa Aldi kesini?" Rena masih dalam mode tak percaya.


"Aldi adalah atasan aku di kantor, tepatnya pemilik perusahaan tempat aku bekerja, dia pemuda sukses sekarang Re" Varo menjelaskan.


"Wah hebat kamu Aldi, selamat ya" Rena bahagia melihat kemajuan salah satu sahabatnya ini.


"Ayo sini duduk, aku ingin mengetahui cerita tentang kamu selama tiga tahun ini, udah menikah belum?" Rena antusias mengobrol dengan Aldi dan mengabaikan Varo.


"Apa aja, makasih ya Varo" Aldi menjawab singkat.


Varo melangkah menuju dapur, sesekali dia pria itu menoleh kearah dua sahabat yang sedang melepas rindu itu.


"Sadar Varo, lu gak berhak cemburu" gumam Varo dalam hatinya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu di lain tempat.


Zifa dan Niko sedang duduk berduaan di sebuah cafe.


Hubungan mereka semakin dekat. Awalnya Niko menghubungi Zifa untuk mencari tahu lebih lengkap cerita tentang Varo dan Rena.


Zifa menceritakan semua yang diketahuinya, tak lupa Zifa menekankan bahwa rasa cinta antara Rena dan Varo tak pernah pudar, hanya saja mereka menunggu waktu yang tepat untuk bersatu.


"Aku gak akan menyerah begitu saja, secepatnya aku akan melamar Rena, aku akan pastikan dia menjadi milikku" Niko masih keras kepala.


Sementara Zifa merasa hatinya tercubit karena ucapan Niko.


Harapan cinta yang diam diam ditanam kepada pria itu kembali dipatahkan. Niko masih begitu terobsesi kepada Rena hingga tak melihat ada Zifa didepannya.


"Dasar om om keras kepala, ya udahlah kalau mau terus ngejar cinta kak Rena sana lanjutkan, tapi aku ingatkan, siap siap patah hati" Zifa berdiri dan meninggalkan Niko yang kebingungan karena sikapnya.


"Hei, aku yang ajak kamu kesini, aku juga yang akan antar kamu pulang" Niko mencekal tangan Zifa.


"Kamu kenapa sih, labil banget emosinya, gak jelas, tiba tiba marah begini" Niko bertanya dengan wajah polos.


"Kamu yang kenapa, ngajak aku jalan, tapi mulai dari berangkat sampai sekarang selalu kak Rena aja yang dibahas, nanya kabar aku aja enggak. Aku bukan juru bicaranya kak Rena, jadi jangan coba coba korek informasi dari aku" Zifa meradang. Dia meluapkan semua emosi yang dipendamnya sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2