
"Re, mau pesan apa?" Varo menanyakan Rena mengenai apa minuman yang disukainya.
Cafe yang mereka datangi adalah cafe dengan sistem self service.
Semua yang mau menikmati hidangan mengambil sendiri di tempat yang tersedia.
"Mocca latte" Rena langsung menyebut apa yang ingin dinikmatinya.
"Yakin Re?" Varo mengernyitkan dahi mendengar pesanan Rena.
"Emang kenapa kak?" Rena balik bertanya.
"Itu kan minuman dengan kalori tinggi, kamu gak takut gendut minum seperti itu malam malam begini?" Varo meyakinkan.
Alya sang kekasih biasanya selalu memilih makanan sesuai kalori, dia sangat menjaga makanan yang dikonsumsinya, semua itu agar bentuk tubuh indahnya selalu ideal.
Terkadang Varo merasa tak nyaman saat berkencan dengan kekasihnya itu. Terlalu kaku dan mengikuti aturan. Terasa hambar dan monoton.
"Makanan itu disediakan untuk dinikmati kak, jangan terlalu dipilih pilih, hidup hanya sekali, bahagia di depan mata nikmati, sedih yang akan tiba juga harus dihadapi" Rena menjawab dengan puitis.
Varo tersentak dengan kalimat puitis dari Rena barusan. Gadis ini kembali membuat rasa kagum Varo meningkat. Gadis yang begitu tegar dan tidak manja.
"Hmmm, baiklah, kamu tunggu disini ya, aku pesan dulu" Varo segera bergegas menuju meja pesanan.
.
.
.
Acara makan malam berlangsung dengan santai, senyuman dari kedua insan itu bertebaran di sepanjang penjuru cafe.
Saat ini Rena dan Varo sudah kembali masuk kedalam mobil dan bersiap pulang kearah rumah Rena.
"Re, makasih ya, sudah temani aku makan malam hari ini" Varo memulai percakapan.
"Sama sama kak, aku yang terimakasih udah ditraktir" sahut Rena.
"Gak kapok kan? besok besok kalau aku ajak ku keluar lagi mau kan?" ujar Varo.
Rena tersenyum riang menanggapi ajakan Varo. Perlakuan pria itu sudah membuat dia merasa dihargai.
Varo dan Rena sudah sampai di depan gang masuk kerumah Rena. Mobil hanya bisa masuk sampai disana saja.
"Terimakasih kak Varo" Rena bergegas turun dari mobil mewah itu.
Namun, belum sampai kakinya turun sempurna, Varo berucap, " Aku antar kedalam, udah malam".
__ADS_1
"Eh jangan kak, bisa habis aku sama bapak kalo ketahuan pulang sama laki laki" ceplos Rena.
Varo mengernyitkan dahi. Dia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masih jam delapan malam, rasanya masih wajar untuk jam pulang seorang gadis dewasa" ucap Varo.
"Em, sebaiknya gak usah kak, jangan terlibat dengan keluarga ku, terimakasih atas tumpangannya kak" Rena langsung berlari secepat kilat menghilang dari pantauan Varo.
"Ada apa dengan dia, kenapa seperti orang ketakutan sekali, tadi dijalan biasa saja, setelah membahas keluarga kenapa dia selalu begini" Varo bermonolog.
Varo yang penasaran tetap mengikuti Rena dari belakang. Selain mengkhawatirkan seorang gadis berjalan sendirian malam malam, Varo pun penasaran apa yang akan dilakukan oleh Rena.
Varo bersembunyi dibalik semak semak tak jauh dari rumah Rena. Dia terus memperhatikan kelakuan Rena yang aneh. Gadis itu memanjat pagar dan masuk lewat jendela perlahan lahan.
"Apa dia dikunci dari luar oleh orangtuanya?" gumam Varo.
Rasa penasaran Varo semakin tinggi kala mendengar suara teriakan dari dalam rumah Rena.
Varo sangat ingin mencari tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut. Baru saja hendak melangkah mendekati rumah Rena, ponsel di kantong jaketnya bergetar.
"Panggilan masuk dari mama" Varo membaca nama yang berkedip kedip di layar.
Varo mengundurkan niatnya untuk kali ini. Dia segera putar balik sembari mengangkat dari sang ibu.
.
.
.
Varo memasuki rumahnya. Sang ibu yang tadi menelepon memintanya untuk pulang.
"Hallo sayang" Alya yang sedang berbincang di ruang santai bersama mama Varo menyapa dengan manja.
"Kenapa kami ada disini?" Varo sedikit terkejut dengan kehadiran Alya.
"Kamu sudah beberapa hari ini sulit sekali ditemui, aku telepon juga kamu gak angkat, kamu masih marah ya?" Alya bergelendotan manja di lengan Varo.
Ada rasa berbeda yang dirasakan Varo saat ini. Biasanya saat bersama Alya dia merasakan sangat bahagia, tapi sekarang Varo merasa risih dengan gaya kekanak-kanakan Alya. Varo merasa sifat manjanya Alya berlebihan. Membuatnya tak nyaman.
"Aku sibuk, sedang mengerjakan sesuatu" jawab Varo dingin. Dia berusaha menghindar dengan duduk di sebelah sang ibu.
"Aku sudah tahu dari mama kamu, aku mendukung rencana itu, gak apa apa kamu dekati gadis kampung itu" ucap Alya.
Kalimat dari Alya membuat Varo menoleh kepadanya.
"Rencana apa?" Varo bingung.
__ADS_1
"Mama kamu udah cerita semua, kamu akan menghancurkan anak dari pembunuh papamu kan, dan ternyata gadis di restoran yang aku tampar itu dia, aku senang sekali ikut terlibat dalam menyakiti dia" ucap Alya bangga.
Varo merasa udara di sekitarnya tiba tiba berubah pengap. Kadar oksigen menurun drastis hingga membuatnya megap megap.
Varo mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan rasa kesal di hatinya.
Meskipun dia harus membenci Rena, tapi mendengar kata kata buruk dari sang kekasih membuatnya tak suka. Varo tak suka Rena disakiti.
"Udah malam Al, pulanglah" Varo memotong ucapan Alya dan mengusir gadis itu dengan halus.
Kali ini Alya yang kaget atas perubahan sikap Varo kepadanya. Tak biasanya sang kekasih yang sangat memanjakannya itu memanggilnya dengan menyebut nama. Varo selalu memanggil sayang kepada Alya.
"Kamu kenapa sih sayang?" Alya mulai merasa terancam.
"Aku capek, please kasih aku waktu ya" Varo menolak Alya dengan halus.
"Tapi aku pulang sama siapa? udah malam, takut sendirian" gadis manja itu merengek.
"Tadi pergi sama siapa? bisa sendiri kan, sekarang juga pasti bisa pulang sendiri" sindir Varo.
"Ahh sayang, gak mau, jangan bercanda, aku mau diantar kamu pulangnya" Alya kembali merengek.
"Huffftt" Varo kehabisan oksigen menghadapi kekasih manjanya ini.
"Mang Diman" Varo berteriak memanggil sopir keluarganya. Lebih tepatnya melampiaskan kekesalan dengan memanggil sang sopir.
"Antarkan nona cantik ini pulang kerumahnya, pastikan aman sampai dirumah" perintah Varo saat mang Diman datang ke hadapannya dengan tergopoh-gopoh.
"Sayang, kamu nyebelin" sungut Alya kesal. Gadis itu melengos dan pergi begitu saja meninggalkan Varo.
"Varo kamu gak boleh begitu, kasihan Alya, cepat susul" sang mama mulai turun tangan.
Dengan setengah hati Varo mengejar Alya yang sudah menghilang di ruangan tamu.
"Sayang, maaf ya, banyak sekali yang aku pikirkan. Sampai sampai kamu terabaikan, aku mohon maafkan aku ya" mohon Varo dengan begitu manis.
Alya langsung luluh mendapat rayuan maut dari kekasihnya itu.
"Iya aku maafin, kamu istirahat, besok kita jumpa ya" ujar Alya bijak.
"Kamu pulang diantar mang Diman ya, aku ngantuk banget" pinta Varo lagi.
Alya mengangguk menuruti permintaan Varo.
"Good night sayang" Varo mengelus pipi Alya dan berniat pergi.
"Cup" Alya mencium pipi sang kekasih dengan lembut.
__ADS_1
"Good night juga sayang" ucap Alya penuh senyum.
Varo tak bereaksi, sebuah ciuman pertanda sayang yang biasa mereka lakukan saat berpamitan kali ini tak direspon hati dan tubuh Varo. Pria itu mendadak mati rasa.