
Varo memarkirkan mobil persis di depan pintu gerbang rumah yayasan. Hatinya gelisah untuk memberitahu Rena apa yang baru saja terjadi. Sepanjang perjalanan balik ke rumah Varo terus berlatih merangkai kata yang tepat untuk berbicara dengan istrinya Rena.
"Kak, masuk" Rena yang menunggu kedatangan Varo mengetuk kaca mobil. Sedari tadi Varo tak turun dari mobilnya.
"Eh iya" Varo gelagapan karena terkejut. tak menyangka Rena menyusulnya hingga ke mobil.
"Ada apa kak?" Rena langsung menangkap ada.yamg tak beres terjadi karena melihat ekspresi wajah Varo yang sangat kusut.
"Itu apa?" amplop coklat yang ada di tangan Varo menarik perhatian Rena.
"Ayo masuk dulu, aku jelasin didalam" Varo merangkul Rena dan menuntunnya masuk ke kamar pribadi mereka.
"Maaf kan aku tadi sedikit membentak kamu dan pergi begitu aja" Varo memulai kalimatnya.
"Aku cemburu sayang, aku gak mau kamu memikirkan laki laki lain selain aku" Varo mengungkapkan alasannya.
Rena terus diam menunggu kelanjutan kalimat suaminya. Firasatnya semakin tajam kalau sebenarnya ada hal penting yang belum diketahuinya.
"A..aku tadi ke rumah sakit menemui pria itu" akhirnya kalimat ini keluar juga dari mulut Varo.
Rena melongo tak percaya dengan ucapan suaminya itu. Apa yang dilakukan Varo dengan menemui orang itu? banyak pertanyaan yang melintas di pikiran Rena.
__ADS_1
"Tenang dulu sayang" Varo memeluk Rena yang tampak shock. Bagaimanapun kondisi istrinya sangatlah penting, Varo tak akan bisa menerima kenyataan kalau kesehatan Rena dan janinnya terganggu akibat ulah konyolnya ini.
"Maaf aku bertindak konyol karena emosi" Varo berbisik di telinga Rena sambil mengelus perut datar istrinya itu.
"Kak Varo gak terluka kan?, para pengawal orang itu gak menyakiti kamu kan?" Rena menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangan untuk memastikan keadaan suaminya itu.
Varo tersenyum kecut mendapati reaksi Rena. Tadinya Varo berpikir Rena akan marah akibat kelancangannya mengambil tindakan, tapi ternyata Rena shock karena mengkhawatirkannya.
"Aku tak apa apa" Varo kembali memeluk istrinya yang lugu itu. Entah mengapa setiap kali memeluk Rena hatinya terasa sangat damai dan nyaman.
"Tapi bapak tua itu saat ini kritis, masuk ruangan ICU" Varo memberitahu Rena dengan siara pelan nyaris tak terdengar.
"Astaga, apa yang kak Varo lakukan?" Rena panik mendengar penuturan Varo. Dia tak ingin suaminya kembali terlibat kasus hukum.
"Aku kesal saat dia terus meneror mu, aku tak ingin dia menjadi beban pikiranmu, kau hanya boleh memikirkan aku dan anak kita" Varo berkata panjang lebar untuk membuat Rena paham maksudnya.
"Dia sepertinya menerima karma atas perbuatannya sendiri. Pria gagah dan kejam yang dulu sering menyakitimu kini berubah menjadi pria lemah tak berdaya. Kondisinya drop setelah berbicara denganku. Dia pingsan dan mendapatkan penanganan intensif" Varo kembali menjelaskan.
"Tapi aku sama sekali tak menyentuhnya sayang, buktinya dia masih sempat menyerahkan amplop ini sebelum pingsan kepadaku. Dia berkata kalau dia menyesali perbuatannya dahulu dan sangat ingin mendapatkan pengampunan darimu sayang" Varo menarik kembali Rena kedalam pelukannya karena melihat mata istrinya itu sudah mulai berkaca kaca penuh haru.
"Apa yang harus aku lakukan kak?" Rena terisak. Dia sungguh tak ingin terlibat urusan apapun dengan pria kejam itu.
__ADS_1
"Bukalah" Varo menyerahkan amplop yang tadi dibawanya.
"Aku sama sekali tak mengetahui apa isinya, dia hanya menitipkan untuk diberikan kepadamu" Varo menyerahkan benda itu.
"Mau aku bantuin untuk membukanya?" karena melihat Rena yang tak membuka benda itu, varo berinisiatif menawarkan diri.
Rena mengangguk, dia memilih meminta bantuan sang suami, Rena tak berani membayangkan apa isi didalam amplop itu.
.
.
.
Amplop yang diberikan oleh Nathan sang mantan suami ternyata berisi bukti penyerahan beberapa aset kepada Rena. Didalam sebuah kertas dituliskan kalau secara resmi Rena berhak mendapatkan warisan dari Nathan. Jumlahnya begitu fantatis diluar perkiraan.
"Apa maksud semua ini?" Varo sedikit terusik dengan apa yang dilakukan oleh pria tua itu. Rasa cemburu kembali membakar hatinya. Rasanya Varo tak terima ada pria lain memberikan nafkah kepada istrinya.
"Kak, antarkan aku menemuinya" Rena mengambil sebuah keputusan.
"Baiklah sayang, tapi kau harus janji menjaga emosi tetap stabil karena ibu hamil kesayanganku ini tak boleh stres" Varo memperingatkan Rena.
__ADS_1
"Aku akan membantumu bersiap" Varo menuntun wanita yang paling disayanginya itu mempersiapkan diri.