Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Menjaga Alya


__ADS_3

"Varo" Alya yang menggunakan selang oksigen di hidungnya sumringah menyambut kedatangan Varo.


Sesuai apa yang diinginkannya. Varo datang untuk melihat kondisinya dan tentu saja karena masih tersimpan rasa cinta hingga Varo berbuat seperti itu.


"Aku yakin kamu pasti akan datang" Alya berusaha bangkit dan menyambut Varo.


"Jangan banyak bergerak, diamlah disitu" Varo mencegah tindakan Alya


"Sayang, aku tau kamu masih mengkhawatirkan ku" Alya berkata dengan manja kepada Varo.


"Kebodohan apa yang kau lakukan ini?" Varo memulai pembicaraannya.


"Kebodohan karena cinta, aku tak akan bisa hidup tanpamu, jadi aku lebih baik mati daripada kehilanganmu" Alya menjawab ucapan Varo dengan nafas tersengal.


"Tenanglah" Varo merasa iba melihat kondisi Alya yang kesulitan untuk berbicara.


"Drttt....drttt" ponsel Varo bergetar pertanda sebuah pesan masuk.


"Kak, Alya baru saja kehilangan bayinya, tolong. jaga hatinya, jangan biarkan dia bersedih, setidaknya untuk beberapa hari ini, sampai ia kuat menghadapi kenyataan" Rena mengirimkan pesan kepada Varo.

__ADS_1


"Jaga dia malam ini, aku akan pulang duluan naik taksi online" belum sempat Varo membalas pesan Rena, sebuah pesan masuk lagi, masih dari orang yang sama.


"Oh Tuhan" Varo kesal sendiri membaca pesan itu. Varo menganggap Rena terlalu bodoh karena rela berkorban perasaan hanya demi Alya.


Dengan cepat Varo menghubungi ponsel Rena, namun tak diangkat.


"Arghhh" Varo kembali mengusap kasar wajahnya. Rasa kesal bercampur sedih menyelimutinya. Varo tak tega membiarkan Rena pulang sendirian dengan taxi. Varo segera berlari keluar kamar untuk mencegah tindakan Rena. Namun hanya bangku kosong yang ditemuinya. Rena tak lagi ada di tempat itu. Dia telah pergi.


Varo tersentak kaget karena mesin pernafasan yang dipakai Alya berbunyi nyaring pertanda terjadi sesuatu yang tak beres pada pasiennya.


Varo kembali masuk kedalam kamar dengan terburu buru dan benar saja, Alya terbaring dengan nafas tersengal sengal. Varo sangat panik karena melihat hal itu. Segera ia memanggil dokter jaga yang sedang bertugas.


"Kondisi pasien sudah kembali stabil, mohon jangan membuatnya stres atau tertekan, karena bisa saja hal itu memperburuk keadaannya" dokter yang baru saja keluar dari ruangan menemui Varo dan memberi penjelasan.


"Baik dokter" Varo menjawab pendek informasi yang diberikan oleh sang dokter.


Varo kembali masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi khusus penjaga pasien di sebelah ranjang.


"Meskipun aku tak suka melakukan ini, tapi demi dirimu akan kucoba, kabari aku saat kau sudah sampai" Varo mengirimkan pesan kepada Rena karena panggilan teleponnya tak kunjung diangkat.

__ADS_1


.


.


.


Pagi menjelang. Varo terbangun dari posisi tidurnya yang tak nyaman. Saat pertama kali membuka mata, wajah seorang Alya yang berada di depannya terlihat sedang tersenyum manis kearahnya.


"Selamat pagi sayang" Alya bersikap sangat manis.


"Kondisimu sudah lebih baik?" Varo berusaha bersikap wajar kepada Alya.


"Iya, aku tidur sangat nyaman karena kau ada di sampingku" Alya menjawab pertanyaan Varo meski dengan nafas yang masih belum lancar.


"Beristirahatlah, aku akan menghubungi istriku dulu" Varo bersikap acuh tak mempedulikan perasaan Alya.


"Jahat kau Varo. Saat bersamaku jangan sebut wanita itu" Alya histeris. Hatinya sangat sakit saat Varo terus memikirkan wanita lain saat bersamanya.


"Maaf Al, aku berada disini bukan kemauanku, tapi karena Rena yang memintanya, jadi tolong jangan pernah bersikap buruk terhadap orang yang selalu memperlakukan mu baik" Varo mengeluarkan semua kekesalannya.

__ADS_1


"Pergi kau dari sini, pergi" Alya semakin stredan berteriak meracau. Varo memutuskan untuk menghubungi perawat dan menunggu diluar sampai wanita itu kembali tenang.


__ADS_2