Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Bertemu lagi


__ADS_3

Rena dan Kiara memasuki hotel tempat mereka menginap. Kiara memesan satu kamar dengan dua bed.


"Re, aku mau langsung menemui panitia acara buat besok, kamu istirahat dulu aja" Kiara pamit meninggalkan Rena.


Rena mengangguk, saat ini dia sedang membongkar travel bag, sebagian bajunya dipindahkan kedalam lemari agar tetap rapi.


"Hati hati ya" Rena melepas kepergian Kiara dan kembali sibuk dengan barang bawaannya.


.


.


.


Sore menjelang.


Rena telah rapi dan beristirahat. Saat ini dia tengah menunggu Kiara yang masih mandi. Baru satu jam yang lalu gadis itu kembali ke kamar dan sangat bersemangat mengajak Rena keliling kota.


Rena berdiri di balkon hotel sembari menghirup udara sore hari. Pandangannya diedarkan ke segala penjuru. Indahnya pemandangan kota dari lantai yang tinggi membuat suasana hati Rena damai.


"Aku akan mengajak mu berbulan madu ke Australia tempat masa kecilku dulu" ucapan serta janji Varo kala itu melintas kembali di ingatan Rena.


"Duh kenapa sih masih terus aja mikirin dia, ingat Re, lepaskan masa lalu, dia bukan siapa siapa, dia orang jahat, tak perlu diingat" Rena berdialog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Ibarat sebuah kapal, saat ini hati Rena bagaikan kapal yang terombang ambing, benci dan cinta masih menyatu dan sama sama kuat. Membuat Rena tak pernah bisa lepas dari terjangan ombak keduanya.


.


.


.


"Kita mau kemana? Rena menanyakan arah kepada Kiara. Mereka memilih berjalan kaki dari hotel untuk menikmati suasana kota yang ramai orang berlalu lalang.


Lokasi hotel yang dipilih Kiara memang berada di pusat keramaian, dan terutama dekat dengan sebuah coffee shop yang sebentar lagi akan mereka tuju, yang menjadi tujuan utama Kiara membawa Rena ke negara ini.


"Disini ada coffee shop spesial Re, aku mau kesana" Kiara menjelaskan.


"R&V" rena membaca plang nama coffee shop tersebut.


"Ayo masuk Re" Kiara sangat bersemangat.


Rena dan Kiara masuk kedalam ruangan coffee shop yang terasa sangat nyaman itu. Banyak lukisan dan objek objek berfoto menarik didalamnya.


"Wah, pantasan rame ya Re, ternyata didalamnya seindah ini" Kiara masih terus mengoceh.


Rena mengiyakan dalam hatinya. Tempat ini persis seperti impiannya dulu. Saat dia membuka kios di Jakarta, Rena mengimpikan kios miliknya penuh dengan lukisan dan tulisan tulisan bijak di setiap sudut.

__ADS_1


Rena terpukau dengan sebuah kalimat bijak berbahasa Indonesia di depan meja bar. Hal yang cukup unik karena bahasa yang digunakan disitu cukup asing bila dibaca warga setempat.


"Kehilangan seseorang yang sangat dicintai lebih buruk dibandingkan kematian - William Cowper"


Kiara menghampiri Rena yang masih terus berkeliling di sepanjang ruangan.


"Hei ayo duduk disana" Kiara menarik tangan Rena.


Meja kosong yang dimaksud Kiara berada cukup dekat dengan barista bertopi yang sedang sibuk meracik kopi pesanan pelanggan.


"Yang bertugas cuma satu orang ya disini? padahal tempat ini cukup rame" Kiara kesal karena menunggu lama.


Tak lama pria bertopi yang tadi sibuk meracik kopi mendekati mereka, dan bertanya dengan bahasa setempat yang cukup fasih.


"Selamat sore, silahkan pesanannya" pria itu menyapa dengan ramah.


DEG....


Rena mengangkat pandangannya dan menemukan seseorang yang dibenci sekaligus dirindukan ada disana.


Pria bertopi itu adalah Varo.


Varo pun tak kalah terkejut, karena baru saja dia melihat kearah pelanggan barunya ini, dan ternyata itu adalah seseorang yang selalu hadir dalam doanya. Wanita yang menjadi sumber semangatnya menjalani hidup

__ADS_1


__ADS_2