Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Semua karena tawon


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Rena dan Varo sudah tak bisa terpisahkan. Meskipun gangguan gangguan kecil dari Ayu masih sering mereka rasakan. Namun itu tak menjadi masalah berarti, hanya bumbu pemanis cinta mereka.


Saat ini Rena dan Varo bermain sedikit lebih dalam kearah hutan. Karena sudah beberapa hari berada di desa itu, dan merasa akrab dengan alamnya, tak ada kekhawatiran dihati mereka untuk bermain semakin jauh.


Varo baru saja memetik beberapa tangkai bunga berwarna warni yang ditemuinya sepanjang jalan. Rena berada lumayan jauh di depannya. Gadis itu sedang sibuk mengejar anak kelinci yang tersesat.


Saat Varo melihat Rena yang bermain dibawah pohon rindang, matanya menangkap sebuah sarang tawon besar yang berada sangat dekat diatas kepala Rena. Hal ini tentu saja sangat bahaya untuk Rena.


Kembali terjadi perang dalam hati pria itu. Dendamnya akan sangat indah jika dibalaskan oleh kumpulan tawon itu. Sebaiknya dia membiarkan Rena diserang oleh ratusan hewan penyengat itu


Tapi tegakah dia? tegakah dia melihat Rena dibawah ancaman bahaya?, lagi lagi kekuatan cinta dari dalam hati menentangnya.


Sementara Rena yang tak menyadari bahaya besar sedang berada sangat dekat di belakangnya, masih terus menari nari gembira sambil menggendong kelinci yang tadk berhasil ditangkap.


"Rena awas" Varo berlari secepat kilat menerjang tubuh Rena yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari kumpulan tawon yang siap menyerang.


"Bugh ..." Varo yang bertelanjang dada memeluk Rena dalam posisi tengkurap. Rena berada persis dibawahnya, kepala gadis itu telah ditopang oleh lengan kokoh Varo.


Sementara bajunya Varo gunakan untuk menutupi sebagian tubuh Rena yang tak bisa dipeluknya.


"Arghhhh" Varo menjerit kesakitan saat serangan itu akhirnya mendarat di punggung dan sekujur tubuhnya.


Rena masih terpaku di posisinya. Begitu takjub akan aksi heroik Varo menyelamatkannya.

__ADS_1


Varo terus berteriak kesakitan, namun tak sedikitpun berpindah posisi. Pelukan di tubuh Rena semakin melemah, Varo pingsan dan ambruk diatas tubuh Rena. Hampir sepuluh menit gerombolan tawon itu terus menyerang, hingga akhirnya diketahui warga yang lewat dan membantu mengusir hewan itu dengan cara menjulurkan api hingga hewan itu menjauh.


Dengan berhati hati, warga desa yang sudah ramai berkerumun mengangkat tubuh Varo yang lemas. Sementara Rena dibantu oleh ibu ibu yang lain untuk menenangkan diri. Wajah gadis itu pucat pasi dan terlihat sangat syok. Rambut dan bajunya dipenuhi oleh lumpur karena tadi terbaring di rumput basah yang berlumpur.


Setelah meminum air pemberian warga, kesadaran Rena kembali muncul. Rena histeris ingin menemui Varo yang sudah dibawa ke mantri terdekat oleh para bapak bapak.


.


.


.


"Kak Varo dimana paman?" Rena telah berada didepan pintu praktek mantri di desa tersebut. Saat ini paman Dede yang telah dikabari warga sedang menunggu pak mantri yang masih memeriksa Varo didalam.


"Tenang dulu ya neng, masih diperiksa sama tuan mantri" paman Dede berusaha memberi ketenangan pada Rena yang gelisah.


Varo akan mengalami demam sebagai konsekuensi dari netralisir racun yang masuk kedalam tubuhnya. Kondisinya saat ini dalam keadaan kritis namun terkendali. Tak ada jalan lain selain terus siaga memantau keadaannya. Begitulah lebih kurang rincian dari sang mantri kepada Rena dan Paman Dede.


Rena mengerti keadaan Varo saat ini, rasa bersalah menyelimutinya. Harusnya dia yang berada didalam saat ini, tapi Varo mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.


.


.

__ADS_1


.


Rena masuk kedalam ruangan dan melihat Varo yang tertidur dengan kondisi telungkup. Sekujur tubuhnya lebam dan bengkak parah. Air mata Rena kembali jatuh melihat semuanya.


"Terimakasih kak, sudah menyelamatkan ku dan mengorbankan diri kakak sendiri" batin Rena.


Varo yang masih dalam pengaruh obat masih terus terlelap hingga tengah malam. Saat terbangun, saat pertama kali membuka matanya wajah Rena lah yang berada di hadapannya. Rena tidur persis di samping Varo yang telungkup, hingga wajah mereka berhadap hadapan.


Sejenak Varo menikmati indahnya ciptaan Tuhan di hadapannya. Wajah polos tanpa riasan, semua serba mungil dan menggemaskan. Varo terpesona.


"Oughhh,,,aww" Varo menjerit saat baru saja hendak bergerak dari posisinya.


Rena yang mendengar jeritan Varo seketika terbangun.


"Kak, apa yang sakit, aku panggil sebentar pak mantrinya" Rena panik.


Gadis itu segera keluar dari ruangan dan secepat kilat sudah kembali muncul membawa petugas untuk memeriksa Varo.


Setelah mengoleskan beberapa salep ke bagian tubuh yang luka, rasa sakit yang tadi dirasakan Varo akhirnya bisa sedikit berkurang.


Saat ini pria itu sedang duduk dalam posisi setengah bersandar di pinggir ranjang.


Rena sudah menyuapi beberapa suap makanan sebelumnya, meskipun menolak Varo berhasil dibujuk untuk mengisi tenaganya.

__ADS_1


"Kak, makasih ya, kalo tidak ada kak Varo, saat ini mungkin aku yang sedang menahan sakit" Ucapan terimakasih yang sedari tadi belum tersampaikan akhirnya keluar juga.


"Semua karena cinta" ucap Varo dengan senyuman manis, membuat Rena semakin meleleh.


__ADS_2