
"Kamu yakin?" Varo meremas tangan Rena.
Saat ini mereka sedang berada didepan gang perumahan orangtua Rena.
Taxi yang mereka tumpangi sudah melaju jauh sedari tadi, namun kedua insan itu masih maju mundur menimbang langkah.
Ada banyak kekhawatiran dalam diri Varo. Dia takut pak Agung mengenalinya sebagai putra dari musuhnya.
Meskipun mereka tidak pernah berjumpa sebelumnya, namun kemiripan wajah antara Varo dengan almarhum ayahnya akan sangat mudah dikenali.
Varo takut rasa bahagia yang baru saja dimiliki Rena akan berubah menjadi kesedihan mendalam sebentar lagi. Varo takut Rena kesayangannya akan terluka.
"Ayo kak, kita mulai" Rena mengembalikan Varo ke dunia nyata.
"Huft" Varo mengeluarkan udara untuk membuat paru parunya sedikit lega.
"Ayo sayang" ucap Varo yakin, mereka melangkah menuju rumah Rena.
"Assalamualaikum" Rena mengetuk pintu dan mengucapkan salam beberapa kali, tak berselang lama pintu dibuka dari dalam.
Seorang gadis muncul dari balik pintu, dia adalah Nadya, adik angkat Rena, anak kandung dari pasangan Agung dan Wiya.
"Akhirnya loe pulang juga" sambutan pedas dari adiknya itu diterima oleh Rena.
"Kemana aja loe, kalau mau pergi pamit, jangan main pergi pergi aja, gak ada yang ngurus rumah selama loe menghilang" lanjut Nadya lagi.
Varo yang berada di belakang Rena terus mengamati interaksi dua orang adik kakak itu.
"Kenapa tak sopan sekali anak kecil ini" gumam batin Varo.
__ADS_1
Rena tak mengindahkan celotehan dari adiknya, "Bapak dan ibu kemana?" tanya Rena.
"Pergi beli makan, selama loe gak ada, bapak terpaksa kuras tabungan karena gak ada duit harian biasanya dari loe, kamipun makan terpaksa beli gak ada yang masakin, dasar loe ngerepotin" umpat Nadya.
"Ehmmm, permisi nona kecil, bisa dibuka saja pintunya dan tak perlu banyak ceramah" Varo yang geram akhirnya tak tahan.
Nadya yang berdiri dibalik pintu yang setengah terbuka itu tersadar. Saat tadi memaki Rena dia tak melihat keberadaan Varo.
Nadya segera membuka pintu yang dimaksud Varo, meskipun bingung tapi karena paras wajah Varo yang begitu tampan membuat Nadya terpaksa bersikap manis.
"Siapa kamu?" tanya Nadya kepada Varo.
Saat ini mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu.
"Adik kecil, berbicara dengan orang yang lebih dewasa daripada kamu harus sopan" sindir Varo.
"Rena kakakmu saja memanggil ku kakak" lanjut Varo lagi.
Varo memang merasa sangat geram dengan sikap yang ditunjukkan Nadya. Sesuai cerita Rena, dia dan adiknya ini berjarak 4 tahun, jadi jika dibandingkan dengan Varo semakin jauh perbedaan usia mereka.
Varo juga melihat perbedaan sikap begitu jauh antara Rena dan Nadya. Rena sangat sopan dan bertutur kata halus, sementara Nadya angkuh dan kasar.
"Kakak dan adiknya bagaikan langit dan bumi, sepertinya gen dari si brengsek itu melekat kuat pada bocah kecil ini" gumam Varo dalam hati.
Kembali ke Nadya. Gadis itu sedikit syok dengan sikap pria tampan yang datang bersama kakaknya itu. Selama ini tidak ada satu orang pun yang boleh memarahinya. Dia selalu dibela dan tak pernah salah.
"Sudahlah kak, tolong jangan diperpanjang" Rena angkat bicara kali ini. Rena tampak penuh tekanan. Dia hanya menunduk dan gelisah.
Rena khawatir jika Varo terus memarahi adiknya, gadis kecil itu akan mengadukan kepada orangtuanya, dan pasti akan memperberat hukuman yang akan diterima Rena.
__ADS_1
Nadya yang kesal, berdiri dari kursi tempat duduknya dan menghentakkan kaki berlalu kearah kamarnya.
"Siapa sih dia, berani beraninya memarahiku, awas aja nanti saat bapak datang, habis kalian berdua" umpat Nadya dari dalam kamarnya.
"Kenapa kamu takut gitu, dia adikmu kan? dia gak boleh bersikap gak sopan gitu kepada kakaknya" Varo menasihati Rena. Saat ini hanya mereka berdua yang ada di ruang tamu tersebut.
"Sudahlah kak, tolong maafkan dia" Rena menghentikan perdebatan.
"Dasar gadis lembek" Varo mencubit hidung Rena untuk melupakan kekesalannya.
Baru saja beberapa menit dari perbincangan terakhir mereka, sosok yang ditunggu tunggu akhirnya datang.
Agung Armando orang yang paling dibenci Varo seumur hidupnya akhirnya benar benar muncul di hadapannya.
Orang yang menjadi obsesi dendamnya selama ini akhirnya berada didalam jarak yang sangat dekat dengan Varo.
"Ba...bapak" suara Rena tercekat. Ketakutan melanda.
"Kamu kemana saja nak, bapak sangat bersedih memikirkanmu yang pergi begitu saja" pak Agung memeluk Rena.
Rena merasa tak percaya dengan apa yang dialaminya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mendapatkan pelukan begitu hangat dari sang ayah. Rena merasa bagaikan mimpi.
"Cuihhh, menjijikkan sekali kalian" batin Varo berontak. Kadar benci dalam hatinya meningkat seribu persen. Dia tiba tiba merasa kesal melihat keharmonisan keluarga Rena.
"Kamu tidak apa apa kan nak? kamu baik baik saja kan?" Pak Agung lagi lagi memperlakukan Rena dengan manis.
"I..iya pak, tidak apa apa, Rena baik baik saja" dengan kaku Rena menjawab pertanyaan bapaknya.
"Siapa pemuda ini nak?" setelah drama berpelukan usai, Agung mulai membuka pembicaraan kearah Varo.
__ADS_1
"Ini kak Varo pak, teman Rena" dengan sangat terpaksa Rena mengenalkan Varo sebagai teman kepada sang ayah. Rena tak berani mengakui hubungannya yang baru saja terjalin, situasi dirasa belum aman buat saat ini.
"Selamat siang pak, perkenalkan saya Varo" pemuda itu menjulurkan tangan untuk berkenalan.