Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Varo menyerah


__ADS_3

"Mama tenang dulu ya, kita akan bahas masalah itu nanti" Varo berusaha menenangkan mamanya.


Dokter datang ke ruangan dan kembali memberikan obat penenang kepada Bu Lidya. Dokter menjelaskan kepada Varo kalau saat ini kondisi Bu Lidya dalam keadaan depresi penuh tekanan.


Sebagai orang terdekat, Varo seharusnya bisa memberikan kenyamanan kepada mamanya, agar kondisi orangtuanya itu tetap stabil dan mempercepat pemulihan.


.


.


.


Varo terus menyesap rokok yang ada di tangannya. Saat ini dia tengah berada disebuah coffee shop tak jauh dari rumah sakit. Dia butuh menenangkan otaknya yang hampir meledak.


Di satu sisi Varo sangat merindukan Rena. Ini adalah masa masa sulit dimana pertama kalinya dia dan Rena tak berkomunikasi sama sekali. Sudah satu minggu.


Dan lima hari lagi dia akan menikahi gadis impiannya itu, semua persiapan sudah dilakukan dengan sempurna. Sementara restu yang ingin didapatkan dari sang ibu tak kunjung ada.


"Arghhhh bisa gila gue kalau gini terus" Varo meluapkan amarahnya.


Tak lama setelah menghabiskan hampir setengah bungkus rokoknya, Varo kembali ke ruangan sang ibu. Dila menelepon mengabarkan kalau mamanya terus mencari dan menanyakan keberadaannya.

__ADS_1


"Darimana kamu, masih mencari wanita itu?" Bu Lidya langsung membentak Varo saat putranya itu baru saja masuk ruangan perawatan.


"Ma tenanglah, nanti kondisi mama drop lagi" Varo mengkhawatirkan kondisi mamanya yang masih labil.


"Sudah kau tinggalkan belum wanita itu?" Varo kembali mendapat pertanyaan sulit itu.


"Ma, Varo gak mungkin meninggalkan Rena, semuanya sudah disiapkan, pernikahan kami sudah tinggal beberapa hari ma" Varo benar benar memohon kali ini.


"Baiklah, jika kau lebih memilih dia, lebih baik mama yang pergi, biar mama menyusul papa" Bu Lidya berteriak histeris. Seiring dengan teriakannya wanita itu mencabut sendiri selang infus yang ada di tangannya. Darah segar langsung bercucuran keluar.


"Astaga mama" gantian Varo yang berteriak panik. Kondisi menjadi kacau tak terkendali, Bu Lidya kembali pingsan. Dokter dan suster terlihat serius menangani pasiennya itu.


Kondisi mamanya semakin mengkhawatirkan, namun Varo masih tak bergeming. Dia bertekad akan terus memperjuangkan Rena.


Hingga sebuah panggilan telepon dari pihak rumah sakit membuat Varo yang sedang di coffee shop bergegas menemui dokter yang menangani mamanya.


"Ibu anda menolak semua pengobatan. Selang infus yang kami pasang kembali dicabut, menolak makan dan meminum obat. Sebaiknya segera selesaikan masalah ini, kondisinya semakin lemah, saya khawatir ini akan memperburuk semuanya" dokter Frans memperingatkan Varo tentang kondisi orangtuanya itu.


"Anda sebagai putra satu satunya, sebaiknya mengikuti keinginan orangtua anda. Jangan sampai anda menyesal nantinya dengan keputusan yang anda pertahankan, jangan menjadi anak yang durhaka." dokter Frans kembali mengingatkan.


Dokter Frans mengakhiri pembahasannya dan meminta Varo untuk segera menemui Bu Lidya. Varo melangkah gontai menuju kamar ibunya itu.

__ADS_1


Di ruangan kamar perawatan Varo melihat Dila yang terus membujuk sang mama untuk memakan makanannya.


"Mas Varo, tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke tubuh nyonya, bahkan air putih pun tidak. Kondisi nyonya sangat lemas" Dila menjelaskan.


"Tinggalkan kami, tunggu lah diluar aku mau bicara sebentar dengan mama" nada suara Varo terdengar berat.


"Ma, kenapa mama gak makan? Varo suapin ya" dengan lembut Varo menyapa sang ibu yang terbaring lemas di ranjangnya.


Bu Lidya tak bergeming, pandangannya kosong, menatap lurus ke depan.


"Ma, jangan hukum Varo seperti ini ma, Varo mohon" Varo masih terus meminta pengertian wanita itu.


Detik demi detik berlalu. Suasana kian terasa hening. Bu Lidya tak merespon satu katapun.


"Baiklah ma. Varo menyerah. Varo akan mengakhiri semuanya. Varo akan meninggalkan Rena" akhirnya kalimat itu dilontarkan Varo.


Dengan air mata yang mengambang di pelupuk matanya Varo mencium tangan orangtuanya itu. Meminta kekuatan untuk melangkah selanjutnya.


Varo berdiri dari posisinya dan melangkah keluar ruangan. Di depan pintu, Varo kembali berpapasan dengan Dila dan meminta wanita itu untuk menjaga mamanya saat dia pergi sebentar.


Varo melajukan mobilnya dengan emosi tak terkendali. Tangisnya pecah, dia patah hati, dia dipaksa untuk mencampakkan permata yang sangat disayanginya. Dia tak punya kuasa, dia lemah dan tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2