
Drtttt....drttttt....
Ponsel Varo bergetar. Saat ini pria itu sedang duduk di sebuah coffee shop lantai basement rumah sakit tempat Rena dirawat.
Semenjak permohonan Rena kepadanya, untuk tak menemuinya lagi, Varo tetap tak mau menjauh. Dia pernah mencoba namun tak mampu. Hingga akhirnya dia tetap berada di sekeliling Rena walaupun secara diam diam.
"Assalamualaikum" suara khas di seberang telepon membuat jantung Varo berhenti.
"Re..Rena" Varo sampai lupa menjawab salam.
"Kak Varo dimana?" suara Rena terdengar sangat lembut.
"Maaf Re, aku di sekitar rumah sakit, maaf aku gak bisa menepati janji, aku gak bisa menjauhi mu, tapi tenanglah aku tak akan mengganggu" Varo mengakui.
Varo berpikir Rena mengetahui kalau selama ini dia masih berada di sekitarnya, dan mungkin Rena akan kembali memarahinya.
"Aku akan masuk ruangan operasi sebentar lagi, maafkan semua kesalahanku, dan aku juga telah memaafkan semuanya yang terjadi" tutur Rena lirih.
"Re bolehkah aku menemuimu?" Varo memohon.
"Nanti saja kak, jika aku berhasil melewati operasi kali ini, kita akan membuka lembaran baru sebagai seorang teman" Rena mengucapkan kalimat ini tanpa beban.
"Terimakasih Rena" Varo tak mampu berkata kata.
Meskipun Rena memaafkan, hubungan mereka berdua tak akan bisa sama seperti dulu lagi. Perih dihati Varo terasa lagi, perasaan bersalah semakin menjadi saat Rena tak melawan dengan kebencian seperti yang dulu dilakukannya. Rena justru memberikan kelembutan dan maaf yang tulus.
.
.
.
"Bapak, ibu" maafkan jika Rena selama ini belum menjadi anak yang baik untuk kalian, terimakasih sudah mau merawat Rena dari kecil, meskipun kalian bukan orang tua kandung Rena, Semoga kalian selalu sehat dan diberkahi Allah".
Setelah menghubungi Varo, Rena juga menulis pesan kepada kedua orangtuanya dan dikirim ke ponsel sang ayah, Rena berharap mereka membacanya.
"Kak, Rena siap" gadis itu menyerahkan ponsel kepada Desi dan bersiap masuk ruangan operasi.
.
__ADS_1
.
.
Operasi Rena berjalan dengan cukup lama. Lima jam sudah kedua orang kesayangan Rena menunggu di depan ruang operasi.
Varo dan Desi, dua orang inilah yang sangat mencemaskan kondisi Rena. Setelah menerima telepon dari Rena, Varo segera bergegas untuk menyusul gadis itu. Namun Varo terlambat, Rena sudah tidak bisa ditemui.
Tringggg....
Lampu pertanda operasi sudah selesai menyala. Dengan was was kedua orang itu menyambut dokter yang muncul di balik pintu.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter?" Desi spontan bertanya.
"Kondisinya masih kritis, kami membutuhkan tambahan darah" dokter menjelaskan.
"Saya siap dokter, ambil berapa pun darah yang dibutuhkan" Varo tak pikir panjang menyanggupi dirinya.
Varo tahu betul golongan darah Rena sama dengannya.
"Baik, ikuti kami kedalam" Varo dan dokter berlalu dari hadapan Desi.
.
.
.
Rena mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya bertemu dengan mata seseorang yang sedang tersenyum kepadanya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar" Varo menyapa.
Ya orang itu adalah Varo. Dari sejak Rena selesai di transfusi hingga dipindahkan ke ruangan perawatan tak ada satu detik pun Varo meninggalkannya. Dia terus berjaga takut Rena tiba tiba sadar dan membutuhkan sesuatu.
Rena menggeliat, tenggorokannya terasa sangat kering, dia ingin meminum segelas air.
"Jangan banyak gerak, aku bantu ya" Varo mengambil gelas di nakas yang tadi hendak dijangkau Rena, memberikan kepada gadis itu dengan hati hati.
"Terimakasih" Rena dengan sopan berkata, namun tak melihat kearah lawan bicaranya.
__ADS_1
"Istirahat lah sebentar lagi, jadwal kunjungan dokter masih lama" ucap Varo.
Rena melihat kearah jam di dinding ruangan, jam tiga pagi.
Rena tak bicara, dia menarik selimut hingga batas leher dan mencoba kembali tidur.
Varo tersenyum memandangi wajah Rena yang teduh saat tidur.
.
.
.
Rena terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan di luar ruangan. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi, itu artinya sudah empat jam dari tadi pertama kali dia bangun pasca operasi.
"Suster, ada apa?" Rena bertanya kepada suster yang masuk kedalam ruangannya untuk mengganti infus.
"Ada yang pingsan Bu, sekarang sedang ditangani dokter" suster itu menjelaskan.
Rena menyadari Varo tak ada lagi di ruangannya. Entah kemana dia pergi, mungkin pulang ke rumahnya untuk tidur.
Tak lama muncul dokter dari balik pintu. Menyapa Rena dan dilanjutkan dengan pemeriksaan medis.
"Anda sangat beruntung sekali disayangi sebesar itu oleh suami anda nyonya" dokter berbicara sambil terus memeriksa kondisi Rena.
"Maksudnya apa dokter?" Rena tak mengerti.
"Suami anda berjaga sepanjang malam saat anda tak sadarkan diri pasca operasi, padahal dia baru saja mendonorkan darah untuk anda.
Seharusnya beliau berisitirahat dan tidak memforsir diri begadang. Kami sudah menawarkan untuk beliau berisitirahat dulu tadi malam, tapi beliau menolak, beliau bersikeras ingin menjaga anda disini.
Dan ternyata benar, tadi beliau ambruk di depan pintu itu" dokter menunjuk kearah pintu keluar.
"Sekarang dirawat di ruangan sebelah dengan demam tinggi dan sakit kepala" dokter menjelaskan.
DEG...
Hati Rena tersentuh.
__ADS_1
"Baiklah kondisi anda stabil nyonya, kembalilah beristirahat, pemulihan anda akan sangat terbantu dengan banyak beristirahat" nasihat dokter.
Rena mengucapkan terimakasih dan mematuhi perintah dokter.