
"Drtttttt....drtttt" ponsel Varo terus berdering. Pria itu tak menyadari karena sedari tadi fokus menyetir, barulah saat sampai dirumah Varo mengernyitkan kening karena hampir lima belas kali panggilan telepon datang dari Alya.
"Hallo Al, ada apa?" Varo memutuskan untuk menelepon balik ke ponsel Alya.
"Saya pegawai cafe xxx tuan, nona ini dalam keadaan mabuk dan tak bisa pulang sendiri, saya menemukan nomor telepon anda di panggilan khusus ponselnya, bisakah anda membantu kami untuk menjemput nona ini?" suara seseorang menjelaskan dari seberang telepon.
"Hufttt, Alya apa yang sedang kau lakukan, tak berubah" Varo bergumam sendiri.
"Baiklah, saya segera kesana" demi rasa kemanusiaan Varo memutuskan membantu Alya.
.
.
.
Varo sampai di depan sebuah pub sesuai petunjuk lokasi dari orang yang tadi menghubunginya.
Tanpa rasa curiga pria itu masuk dan mencari keberadaan Alya.
Varo menemukan wanita itu duduk sendirian di pojok dengan posisi kepala bersandar di meja bar. Varo segera mendekati.
"Alya" Varo mencoba membangunkan wanita yang mabuk berat itu. Varo juga menepuk nepuk pipi Alya bermaksud untuk membuatnya sadar.
Setelah berbagai cara dilakukan Varo tak bisa mengembalikan kesadaran Alya, akhirnya sesuai saran dari pemilik pub itu, Varo menggendong tubuh wanita itu keluar menuju mobilnya.
"Astaga Alya, udah dewasa masih juga lari ke alkohol kalau ada masalah" Varo terus menggerutu sembari memasangkan sabuk pengaman Alya.
Tak disadari Varo, kegiatannya ini dalam pengawasan seseorang. Mulai dari dalam pub saat Varo menyentuh pipi Alya, menggendong tubuhnya ke mobil, hingga memasang sabuk pengaman diabadikan dalam bentuk foto. Foto yang dibuat seolah olah Varo melakukan adegan mesum dan romantis dengan Alya.
__ADS_1
Selesai dengan mengatur posisi duduk Alya, Varo segera melajukan mobilnya menuju rumah wanita itu. Tak ada sama sekali pikiran buruk dalam diri Varo bahwasanya akan ada sesuatu yang sebentar lagi terjadi.
.
.
.
Tak butuh waktu lama, karena suasana jalanan yang lengang dan sepi Varo sampai dirumah Alya. Dengan gerakan cepat, Varo memapah tubuh Alya turun dan membawanya masuk kedalam rumah yang tak terkunci.
"Kenapa rumah Alya kosong? bukankah dia tinggal bersama orangtuanya dan beberapa asisten rumah tangga?" hati Varo bertanya tanya.
Varo menuntun Alya untuk berbaring di kamarnya. Tak disangka gadis itu terus bergelayut di lehernya, hingga membuat Varo ikut terjerembab jatuh menimpa Alya.
"Al, lepas" Varo mencoba melepaskan rangkulan Alya.
Namun gadis itu tak bergeming, dia bahkan mulai bertingkah liar dengan mencoba mencium dan membuka pakaian Varo.
"Jaga dirimu, aku pamit" Varo mencoba menahan emosi. Dia memutuskan segera pergi sebelum fitnah dari tetangga datang kepadanya.
"Arghhhh" Alya menggeram penuh kemarahan. Rencananya hampir saja berhasil, namun Varo menggagalkannya.
"Awas kau Varo, aku tak menerima penolakan" Alya menggertakkan giginya menahan emosi yang ingin meledak.
.
.
.
__ADS_1
Pagi hari menyambut. Harapan baru bagi semua orang. Namun tidak buat Varo.
Selesai dengan sarapan bersama adiknya Zifa, Varo menemukan kenyataan pahit. Zifa menyerahkan kepadanya sebuah surat undangan berwarna biru bertuliskan pernikahan Rena dan Niko.
"Maaf kak, kemarin lupa" ekspresi Zifa tampak aneh, tak nampak prihatin maupun merasa bersalah memberikan undangan itu kepada Varo.
Tubuh pria itu lemas, tenaganya hilang, gairah hidupnya hilang, Rena akan menjadi milik orang lain. Perjuangannya benar benar harus berakhir.
"Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuangan ku untuknya
Bahagiakan dia
Kau sayangi dia
Seperti ku menyayangi nya
Kan ku ikhlaskan dia
Tak pantas ku bersanding dengannya
Kan ku terima
Dengan lapang dada
Aku bukan jodohnya"
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
__ADS_1
Varo yang sedang mengemudikan mobil dengan galau seolah semakin digoda oleh lantunan musik di radio. Seolah semesta mendukung tangisan airmata Varo jatuh lagi. Meratapi nasib cinta yang kayu sebelum berkembang.