Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Menyelesaikan urusan masa lalu (part 2)


__ADS_3

Rena dan Varo berjalan bergandengan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan ICU.


Keduanya saling diam tak terlibat pembicaraan sedikit pun, hanya tangan yang terus saling menggenggam sebagai tanda saling menguatkan satu sama lain.


"Sayang, jalannya pelan pelan" Varo mulai protes karena Rena seakan lupa dengan kondisinya yang tengah hamil.


"Ayo kak, lebih cepat" Rena merengek meminta Varo mempercepat langkahnya.


Pria tampan itu hanya bisa mengelus dada mendengar permintaan istrinya, namun tetap mempercepat langkah untuk mensejajari sang istri.


"Kak, itu rame rame ada apa" tanda tanda ada yang tidak beres mulai terlihat di ujung lorong dimana ruangan ICU berada.


Varo dan Rena saling berpandangan. Firasat buruk perlahan menghinggapi.


"Pak pengacara" Rena menemukan sesosok pria yang dikenalnya yang sedang berdiri persis di depan pintu ruangan ICU yang tertutup.


"Rena, Varo kalian kembali?" Hitler terkejut dengan tamu yang datang menghampirinya.


"Apa yang terjadi pak?" Varo memastikan keadaan.

__ADS_1


"Dia sudah tak bisa diselamatkan, dia sudah pergi untuk selamanya" terdengar nada sendu dari suara pengacara itu.


"Saya turut berdukacita, maaf atas kejadian ini" Varo ikut merasa sedih atas apa yang terjadi. Sedikit banyak dia ikut ambil andil dalam memperburuk kondisi Nathan.


Rena kebingungan mencerna keadaan. Siapa yang sedang dibahas oleh kedua orang di hadapannya ini.


"Rena, bersediakah kau menemuinya untuk terakhir kali, penyesalan terakhirnya adalah dirimu" Hitler berbicara kepada Rena dengan penuh permohonan.


Rena menolehkan wajahnya menatap kearah Varo. Dari tatapannya terlihat jelas kalau Rena meminta penjelasan.


"Sayang, orang yang didalam itu adalah Nathan, dan dia sudah meninggal, saat ini jenazahnya sedang diproses, apa kau bersedia menemui jenazahnya?" Varo menjelaskan kepada Rena.


"Apa kau baik baik saja sayang?" Varo mengkhawatirkan kondisi Rena yang tampak shock.


"Hufttt" Rena menghembuskan nafas berat. Mau tak mau dia harus hadapi. Bukankah dia telah terlatih untuk rasa sakit dan ketakutan, jadi tak ada salahnya sedikit mengulangi lagi rasa itu. Rena pasti kuat, dia adalah wanita yang tangguh.


"Temani aku ya kak" Rena mengeluarkan kalimatnya dengan yakin.


Varo tersenyum kagum dengan mental istrinya ini. Dia sangat pandai mengatur emosi dan mengambil tindakan disaat yang tepat.

__ADS_1


"Pasti sayang, bahkan tanpa diminta pun aku akan selalu menemanimu" Varo mengecup punggung tangan wanita itu dan memeluknya dengan rasa sayang yang membuncah.


.


.


.


Rena terus menggenggam kuat tangan sang suami saat melangkah masuk kedalam ruangan dimana jasad Nathan tengah terbaring.


Tak bisa dipungkiri olehnya, bayangan perlakuan buruk Nathan kepadanya terus menghantui, semakin dekat langkahnya ke ranjang berisi jasad kaku itu, semakin kuat ingatan akan rasa sakit itu muncul.


"Mau lanjut?" Varo mulai ragu karena tangan Rena terasa sangat dingin.


Rena mengangguk pasti dengan seulas senyum yang dipaksakan. Varo tau itu namun ia membiarkan.


Hingga sampailah Rena dan Varo di depan jenazah Nathan. Rena menatap nanar kearah tubuh itu. Pria yang dulu begitu gagah dan kejam, kini hanya bagaikan seonggok tubuh kurus tanpa daya dan kuasa.


Airmata Rena jatuh seiring dengan lepasnya semua dendam dan benci. Tak ada lagi kebencian itu. Rena mengampuni semua perbuatan Nathan di masa lalu.

__ADS_1


"Selamat jalan tuan, semoga anda ditempatkan disisi terbaik dari yang maha kuasa" dengan tulus Rena mendoakan kepergian mantan suaminya itu. Sekali lagi airmata Rena jatuh. Namun ini airmata haru, hatinya plong, semua dendamnya hilang sudah. Tinggal satu permasalahan yang akan dihadapinya, yaitu mantan kekasih sang suami. Karena ujung dari kebahagiaan Rena adalah bersatunya cinta antara dirinya dan Varo tanpa ada satu orangpun yang merasa tersakiti.


__ADS_2