
Niko terus menatap Zifa yang perlahan menjauh dan hilang di balik pintu.
"Gue keterlaluan, Zifa pasti sangat sedih" Niko bergumam sendiri. Tiba tiba hatinya dipenuhi penyesalan akan Zifa. Rena yang ada di hadapannya tak mampu mengubah rasa gundah gulana di hatinya.
Rena mencuri pandang kearah Varo dan Alya yang ada di meja sebelahnya. Tak disangka ternyata disaat yang bersamaan, Varo juga menoleh kearah Rena. Pandangan mata mereka kembali bertemu. Jantung keduanya berdebar dengan irama yang sama, debaran penuh rindu.
Rena segera membuang pandangannya, dia salah tingkah karena ketangkap basah oleh Varo.
"Aku ke toilet dulu ya" Rena meminta izin kepada Niko, gadis itu ingin menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan.
Selang berapa lama, Varo mengajak Alya untuk segera kembali ke kantor, dengan alasan masih banyak pekerjaan yang akan diselesaikan.
"Kamu tunggu di mobil ya, aku bayar dulu" Varo mempunyai maksud lain. Pria itu menyusul Rena kearah toilet.
"Re" Varo gerak cepat dengan mencegat Rena yang baru saja keluar dari toilet.
"Aku menyuruh orang untuk menyelidiki rumah Bu Wiya, dan sepertinya ada sesuatu yang mereka temukan, nanti sore kita berdua harus kesana" Varo menyusun rencana.
"Maaf kak, tapi aku udah beberapa hari gak ke rumah sakit, kasihan ibu gak ada yang jaga, rencananya dari sini aku akan ke rumah sakit" Rena menolak ajakan Varo.
"Tapi ini penting Re, nanti aku jemput kamu di rumah sakit dan setelah selesai aku antar lagi kesana" Varo terus mendesak.
__ADS_1
"Baiklah kak, nanti kita bicarakan lagi" Rena tak mampu menolak permintaan Varo.
"Pegang ini, biar gampang dihubungi, kodenya adalah tanggal lahir kamu" Varo menyerahkan sebuah ponsel ke Rena dan segera pergi dari tempat itu, sebelum Rena menolak pemberiannya.
.
.
.
Rena berusaha bersikap biasa saat kembali ke meja dimana ada Niko yang sedang menunggunya.
"Ayo kita kerumah sakit sekarang pak Niko" Rena mengagetkan Niko yang sedang melamun. Tepatnya memikirkan Zifa.
Keduanya segera pergi menuju ke rumah sakit, sepanjang perjalanan dilalui dengan diam, keduanya sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Aku gak turun ya sayang, masih ada kerjaan di kantor" Niko berkata saat mereka sudah sampai di lobby parkir rumah sakit.
"Ok, terimakasih ya" Rena memberikan sedikit senyum tipis dan langsung berlalu pergi meninggalkan Niko tanpa menoleh.
Setelah memastikan Rena telah aman masuk ke tempat yang dituju, Niko segera melajukan mobilnya menuju ke kantor. Ada beberapa urusan pekerjaan yang akan diselesaikannya.
__ADS_1
.
.
.
Sesampainya di kantor Niko tak sama sekali bisa berkonsentrasi. Bayangan Zifa yang tengah cemberut terus menggoda pikirannya.
"Arghhh" Niko menjambak kasar rambutnya. Dia memencet tombol di ponselnya untuk melakukan video call dengan seseorang. Orang yang telah mengganggu konsentrasinya yaitu Zifa.
"Hai" Niko memulai percakapan, hatinya senang karena hanya dalam beberapa kali dering panggilan darinya langsung diangkat Zifa.
"Hai" Zifa bersikap biasa seolah kejadian beberapa jam yang lalu tak pernah terjadi. Meskipun mata sembab sisa tangisnya tak dapat disembunyikan.
"Maaf Zifa" Niko spontan mengucapkan kata itu.
"Iya, gak apa kok, aku yang salah, terimakasih telah mengingatkan posisi ku yang hanya seorang selingkuhan" Zifa menjawab dengan sindiran yang pedas.
Niko terdiam, bingung bagaimana menanggapi ucapan Zifa.
"Kamu dimana?, kita ketemuan yuk" Niko kehilangan topik pembicaraan, sebuah ide untuk mengajak Zifa jalan jalan muncul, mungkin saja ini bisa jadi penebus rasa bersalah yang tadi siang diperbuat Niko.
__ADS_1
"Aku masih ada kelas, nanti aja ya, ini dosen udah masuk, ku matikan dulu ya, dah" Zifa langsung mematikan sambungan telepon dan fokus dengan kuliahnya.