Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Varo ketahuan


__ADS_3

Rena bergegas berdiri dari duduknya setelah mendorong tubuh Varo. Andai dia bisa berlari, maka iya akan melakukannya.


Rena yang tak stabil tiba tiba oleng dan hampir saja terjatuh menabrak meja taman itu. Telapak tangan besar milik Varo berhasil membatasi antara kepala Rena dengan ujung meja yang tajam. Sementara sebelah lagi telapak tangannya melingkar di pinggang Rena untuk menahan tubuhnya.


DEG....


Mereka kembali berada dalam jarak sangat dekat.


Ada perasaan takut yang menyelimuti Varo. Penyamarannya telah terbongkar, takut kesehatan Rena akan kembali memburuk karena melihatnya.


Rena kembali mendorong Varo. Tubuhnya gemetar namun tak bersuara. Air mata yang terus mengalir lah yang menjadi tanda kalau dia dalam keadaan tak baik.


Rena hendak kembali berjalan, namun Varo dengan cepat berdiri di hadapannya dan langsung berlutut.


Rena membeku di posisinya saat ini.


Varo melepaskan semua aksesoris penyamarannya. Varo ingin mengakhiri semuanya. Dia hanya ingin mendapat ampunan dari Rena. Dia ingin rasa bersalah yang memenuhi rongga dadanya sedikit berkurang.


"A.. aku tak berniat jahat Re, tenanglah aku mohon" suara Varo terdengar bergetar. Dia sangat mencemaskan Rena.


"Pergi, pergilah dari sini, jangan muncul lagi" Rena membalas ucapan Varo.

__ADS_1


Rena terus memegang dadanya, berharap mendapat kekuatan dari sana.


"Tenanglah semuanya" tiba tiba suara seseorang dari belakang Varo muncul.


Suara itu adalah suara dokter Desi.


Dokter itu tinggal tak jauh dari yayasan, dan pertengkaran Rena dan Varo membuat salah satu anak meneleponnya. Mereka masih trauma dengan kejadian Rena tiba tiba pingsan, karena itulah mereka sigap menjaga Rena.


"Rena tenang, tarik nafas, ayo duduk" Desi mengapit lengan Rena dan menuntunnya duduk di kursi tamu.


Varo kembali berdiri dari posisinya yang tadi berlutut.


"Varo, duduk disini" Desi menunjuk satu kursi lagi yang berada di ujung. Pria itu menuruti.


Pria itu hanya mengatupkan kedua tangannya pertanda meminta maaf.


"Re, ingat percakapan kita waktu itu. Ini semua cepat atau lambat memang akan terjadi. Kamu tak bisa terus lari dari masa lalu sayang, harus dihadapi" Desi kembali memberi sugesti kepada Rena.


Rena hanya diam dengan air mata yang tak henti mengalir. Tapi sejauh ini kondisinya stabil, karena itulah Desi merasa tak terlalu khawatir.


"Sekarang apa yang Rena inginkan?, ingin ka Desi mengusir dia?" Desi menoleh kearah Varo dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Varo begitu perih hatinya saat ini. Penolakan dari Rena kembali dihadapinya. Dia tak bisa berharap banyak, Rena benar benar tak akan memaafkannya.


"Suruh dia pergi kak, Rena gak mau ketemu dia" Rena kembali terisak.


"Oke kak Desi akan meminta dia pergi dari sini, tapi kita gak bisa jamin, besok atau lusa dia bakalan balik lagi, dia akan terus menerus mengikuti kemanapun kamu pergi" dokter itu menjelaskan.


"Kalian harus bicara, kalian harus melepaskan emosi yang terpendam, ini tak baik kalau dibiarkan berlarut larut" Desi menjelaskan.


Varo terus diam di posisinya. Dia takut menghadapi Rena.


"Sekarang Rena tenangkan diri, masuklah kedalam kamar, istirahat lah, besok kalian akan kembali membicarakan hal ini. Jangan ditunda terus" Desi memerintahkan.


Rena mengangguk, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia menahan air mata yang hendak jatuh kembali.


"Varo pulang sana, semuanya udah jadi kacau seperti ini, besok kami tunggu, datanglah kesini, bicarakan semua alasanmu" Desi memarahi Varo.


"Terimakasih kak, terimakasih atas bantuannya" Varo mengucapkan dengan tulus.


"Aku merasa kalau ada suatu alasan besar dibalik kepergian mu meninggalkannya waktu itu. Aku tau kamu anak baik, dari dulu kita kecil kamu gak pernah bisa menyakiti hati orang lain, apalagi gadis semanis Rena, ku tunggu penjelasan mu besok pagi" Desi mengusap bahu Varo bak seorang kakak yang sedang menasihati adiknya. Desi memang memiliki jiwa penyayang.


Varo melangkah mendekati Rena yang masih menangis, "Rena, aku pulang, maafkan aku" ucap Varo berpamitan.

__ADS_1


Rena memberanikan diri menatap lawan bicaranya. Tatapan Varo masih seperti yang dulu, masih teduh dan penuh cinta kepadanya.


Rena tak menjawab dan membuang muka. Dia tak ingin kembali terjebak oleh mulut manis pria itu.


__ADS_2