Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Barang barang masa lalu


__ADS_3

"Assalamualaikum" Zifa menyapa Rena dan anak anak yayasan yang sedang bermain di teras rumah yayasan.


"Waalaikumsalam" serempak mereka semua menjawab salam dari Zifa.


"Ada yang bisa dibantu?" Rena menyapa Zifa yang masih berdiri di depan pagar.


"Aku Zifa kak, boleh aku main disini? dirumah gak ada orang, aku sendirian" Zifa memulai perkenalannya.


Rena merasa pernah melihat wajah Zifa. Namun dia tak menemukan memori dimana sebelumnya bertemu dengan Zifa.


Sebagai sebuah yayasan sosial, orang lain boleh untuk berkunjung kapan saja dirumah yayasan itu. Karena itulah, alasan yang digunakan Zifa sangat cocok dan tidak membuat Rena dan penghuni yang lain berpikir negatif.


"Perkenalkan saya Rena, senang sekali kamu mau main kesini" Rena menyambut hangat niat baik Zifa.


"Terimakasih kak Rena" Zifa girang akhirnya dia diterima oleh Rena.


.


.


.


Cukup lama Zifa bermain bersama anak anak disana. Bahkan hingga menikmati makan malam bersama dengan semua penghuni yayasan.


"Kak Rena, makasih ya, Zifa senang sekali hari ini" Zifa mengucapkan kalimat ini sebelum berpamitan dengan Rena.


"Aku juga berterimakasih, kamu banyak ngajarin anak anak ilmu baru, menemani mereka mengerjakan tugas juga" ucap Rena.


"Kamu bisa jadi relawan disini, kapanpun kamu mau bisa langsung datang" ucap Rena menjelaskan.


"Makasih kak Rena, ternyata benar ucapan mas ku, kak Rena memang mempesona" Zifa keceplosan.

__ADS_1


"Maksudnya?" Rena mengernyit heran.


"Hehehe, maaf kak, salah ngomong" Zifa menepuk mulutnya sendiri, lagi lagi keceplosan.


Zifa berpamitan dan melajukan mobilnya pulang kerumah.


.


.


.


Di ujung bumi lainnya.


Varo sedang mengemas barang barangnya. Sepuluh menit yang lalu coffee shop miliknya baru saja ditutup.


Setelah memastikan semua sudah bersih dan rapi, Varo langsung menutup kiosnya itu.


"Good night madam Grace, bagaimana perkembangan mama hari ini?" Varo langsung menemui sang ibu begitu sampai dirumah.


"Semuanya baik, semoga sebentar lagi datang keajaiban" madam Grace menjawab diplomatis.


"Ma, Varo istirahat dulu ya" Varo semakin tak tahan dengan rasa lelahnya, dia memutuskan untuk tidur lebih cepat.


.


.


.


Suasana yayasan di malam hari.

__ADS_1


Rena membongkar semua barang barang pribadi yang telah lama disimpannya. Karena besok lusa adalah waktu keberangkatannya bersama Kiara ke Australia, Rena mencari koleksi baju lamanya yang mungkin saja masih bisa digunakan.


Satu buah koper besar yang selama ini berada di bagian bawah lemari, yang selalu dihindari Rena untuk dibuka, kali ini menarik perhatiannya.


Kondisi kesehatan mental Rena memang telah jauh lebih baik. Dia lebih siap menghadapi bayang bayang masa lalu.


Rena menyeret koper besar itu keluar dari lemari dan memutuskan untuk membukanya. Rena hampir lupa apa saja isi dari tas koper itu.


KLIK...


Bagian kunci koper terbuka.


Rena bagaikan mengalami dejavu, kembali ke masa lalu dengan berbagai macam benda miliknya di dalam koper itu.


Beberapa lembar gaun yang dulu sangat disukai Varo kala dia memakainya, boneka hadiah dari Varo, dan masih banyak lagi benda benda yang semuanya tentang Varo.


Rena bergegas mengemas barang barang itu, dia tak mau terlalu larut dan merusak moodnya.


Akhirnya semua selesai, barang barang miliknya sudah disortir, sebagian yang masih layak digunakan akan diberikan kepada adik adiknya di yayasan ini dan sebagian lagi adalah benda benda yang begitu membekas di hatinya, Meskipun membenci orang di masa lalunya tapi Rena tak ingin menghapus kenangan masa lalu itu.


Saat Rena telah selesai, ternyata ada satu benda yang tercecer, luput dari perhatiannya.


Sebuah dompet berwarna hitam. Rena mengernyitkan dahi berusaha mengingat kapan dia memiliki dompet ini.


Rena menggenggam dompet itu dan membuka isinya.


Ada beberapa lembar uang tunai dengan nominal yang cukup mengejutkan, serta sebuah kartu ATM didalamnya.


Rena mulai mengingatnya, ini adalah dompet milik Varo. Satu hari sebelum pernikahan dilaksanakan, Varo menitipkan dompet beserta isinya ini kepada Rena. Dengan alasan takut ketinggalan karena dia suka teledor.


Dan ATM itu, itu adalah tabungan bersama mereka yang disiapkan untuk kehidupan rumah tangga mereka di masa depan.

__ADS_1


Air mata Rena tak dapat ditahan. Rasa haru menyelimuti hatinya. Semua rencana indah mereka dulu sudah ditata sedemikian rapi, tapi semua hancur.


__ADS_2