
"Selamat malam pengantin baru" Niko dan Zifa masuk kedalam rumah dan menyapa kedua orang yang sedang asyik bercengkrama di ruangan televisi itu.
"Ish ngapain sih kalian kesini, ganggu aja" Varo kembali ke mode sikap menyebalkan nya saat menghadapi Niko.
"Astaga, segitu takutnya lu saingan ama gue ya, sampai gue jumpa istri lu aja gak boleh" Niko meladeni sikap menyebalkan calon kakak iparnya itu.
Varo langsung melotot galak saat Niko sudah mulai berani menjawab ucapannya.
"Berani lu ya, Zifa tolong ingatkan dengan siapa dia bicara, sekali kucetuskan ucapan tak merestui, maka hubungan kalian akan kandas" Varo mengeluarkan senjata andalannya.
Niko menelan salivanya mendengar ancaman Varo yang telak menusuk jantungnya.
"Woy kalem bro, jangan main ancam ancam terus" Niko mulai melunak. Bagaimanapun juga, Varo memegang kendali, Niko memilih mengalah.
Rena dan Zifa tertawa cekikikan melihat ulah kedua pria kekanak kanakan itu. Mereka memang benar benar layak disetarakan dengan Tom and Jerry di dunia nyata.
"Mas Varo, udahlah, senang banget sih gangguin kebahagiaan aku" Zifa pasang badan membela kekasihnya.
"Asal mas tau ya, mas Niko ini adalah yang paling membantu kami berdua selama mas Varo dipenjara" Zifa menjelaskan semua kebaikan sang kekasih.
"Halah, cari muka biar gue simpati" Varo mencibir dan menepuk bahu Niko.
"Ya Tuhanku, beri hamba kesabaran" Niko bergumam dengan suara keras dengan maksud menyindir Varo.
"Hahaha" semua orang yang berada di ruangan itu tertawa gembira.
"Ayo makan dulu, aku udah siapkan makan malam buat kita semua" Rena menengahi perdebatan ringan itu.
__ADS_1
.
.
.
"Besok lu harus lapor ke polres lagi, selama dua minggu ini lu dikenakan wajib lapor setiap hari" Niko mengingatkan Varo kembali. Saat ini mereka tengah mengobrol santai di teras rumah selepas acara makan malam yang damai.
Para wanita tengah asyik membereskan dapur yang sedikit berantakan karena proses menyiapkan makanan tadi.
"Iya gue ingat, thanks atas kebaikan lu" kali ini Varo dalam mode serius. Dia bersikap baik kepada Niko.
"Lu benar mencintai adik gue?" Varo bertanya serius kepada Niko.
"Iya, gue belum pernah merasakan hal ini ke wanita lain sebelumnya, bahkan ketika bersama Rena" Niko menjelaskan perasaannya.
Keduanya bersalaman, bendera perdamaian telah dikibarkan. Persahabatan baru mereka terjalin sudah.
"Gue ke toilet dulu" Varo meninggalkan Niko sendirian di teras depan.
Saat melewati dapur, Varo mendengar pembicaraan antara Zifa dengan Rena istrinya.
"Apa kak Rena bahagia?" sebuah pertanyaan dari Zifa sukses membuat Varo menghentikan langkahnya menuju ke toilet.
"Belum, karena kak Varo masih dirundung banyak masalah, aku gak tega lihatnya" Rena menjawab sambil mencuci piring bekas makan bersama sebelumnya. Posisi Rena memunggungi Varo, hingga dia tak sadar Varo sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa kak Rena yakin semua yang diucapkan mas Varo? kalau seandainya anak itu benar anak mas Varo gimana?" Zifa kembali memberikan pertanyaan yang membuat Varo ingin melemparkan sandal kearahnya.
__ADS_1
"Sejauh ini aku yakin, tapi entahlah, aku sendiri bingung" Rena ragu ragu akan jawabannya.
"Aku gak berhak menuntut, karena aku sendiri tak sempurna, aku tak bisa memberikan kak Varo keturunan" penuturan Rena begitu sendu.
"Kata siapa kamu gak sempurna?" Varo tak tahan melihat kesedihan istrinya. Sebuah pelukan dari belakang langsung ditujukan kepada Rena.
"Ih mas Varo gak sopan tau, bermesraan didepan aku" Zifa kesal sendiri karena Varo tak dipedulikan Varo.
"Plakkk" sebuah sentilan di jidat Zifa dihadiahkan Varo.
"Lain kali jangan suka bertanya macam macam, bikin nangis istriku aja" Varo berucap dengan mata melotot kearah Zifa.
"Ih, ini pembicaraan antara wanita tau, ngapain mas Varo ikut campur" Zifa tak kalah sengit melawan ucapan Varo.
"Makanya jangan jadi playboy, celup sana celup sini, jadi bingung kan disuruh bertanggung jawab" Zifa mengeluarkan kalimat ledekan dan segera kabur keluar sebelum Varo benar benar mengamuk kepadanya.
"Udah nangis nya, aku sedih" Varo membujuk Rena yang berada dalam pelukannya.
"Iya" Rena memberikan senyuman tipis untuk membuat hati Varo tenang.
"Meskipun kita tak punya keturunan, aku tak akan menduakan mu sayang, tolong percaya itu" Varo kembali meyakinkan Rena.
"Janji?" Rena meminta keseriusan Varo.
"Aku janji, berjanji demi cinta ku kepadamu" Varo tak pikir panjang untuk meyakinkan Rena.
Kedua kembali berpelukan. Sedikit rasa lega menghampiri hati Rena. Semoga kebahagiaan abadi akan didapatkannya sebentar lagi.
__ADS_1