
Tak butuh waktu lama buat seorang Wiya sampai ke rumah sakit yang ditujunya. Sebuah kamar perawatan VIP dengan pasien Nathan didalamnya menjadi tujuan utama wanita itu.
Di depan kamar itu tak tampak adanya penjagaan khusus, Bu Wiya dengan leluasa dapat masuk kedalamnya.
"Selamat siang tuan" Bu Wiya menyapa pria kurus yang duduk menghadap jendela dengan selang infus menancap di tangannya.
Pria yang disapa itu menoleh dan melotot tajam kearah tamunya itu.
"Beraninya kau datang kesini" dari nada bicaranya terdengar jelas kalau tuan Nathan menahan amarah.
"Ampun tuan, tolong beri saya kesempatan berbicara" Bu Wiya memilih menghiba, memohon kebaikan hati pria itu.
"Bicaralah sebelum para pengawal ku datang" tuan Nathan memberikan sedikit kesempatan.
"Saya memberanikan diri datang kesini demi Rena. Saya memohon kepada anda jangan lagi sakiti dia, apa yang telah kita lakukan kepadanya itu sudah melewati batas" Bu Wiya memulai pembicaraan.
"Kau dan keluargamu yang telah melewati batas. Kau membohongi ku dengan mengatakan Rena masih suci dan bersedia menikah denganku. Dari awal aku memperlakukannya dengan baik, tapi dia tak mau menerima semua perlakuan baikku. Dia terus melawan kepadaku dan memancing amarahku" tuan Nathan begitu menggebu. Pria itu terus berbicara sambil memegangi sebelah dadanya, tampak jelas dari wajahnya saat ini ia sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Kalau saja Rena mau menuruti kemauan ku, pasti saat ini dia sudah bahagia. Aku bahkan memilih dia dibanding istri istri ku yang lain" Nathan menambahkan.
"Suami dan anakmu sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya membohongi ku, jadi kau tak perlu menemui ku lagi, dendam ku kepada kalian terbalaskan" juragan kaya raya itu menyeringai licik.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berurusan dengan Rena, aku tak mau membahas apapun denganmu, enyah kau dari sini" sebuah bentakan tajam menciutkan nyali Wiya.
Para pengawal pun masuk kedalam ruangan karena suara tuannya yang terdengar keras dari arah luar penjagaan. Dua orang laki laki kekar itu menyeret paksa Wiya keluar dari ruangan perawatan.
"Jangan sakiti Rena" Wiya terus memohon sambil berteriak saat para pengawal menyeretnya, perlahan suara nya menghilang dibalik pintu.
.
.
.
"I...itu sa...saya dari warung depan" bu wiya gelagapan karena tak siap bertemu Rena.
"Ibu sudah makan?" Rena tak ingin menekan sang ibu angkatnya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Udah" bu Wiya menjawab singkat dan ingin segera pergi dari hadapan Rena. Rasa bersalah teramat besar kepada Rena membuat bu selalu ketakutan. Dia tak berani berada di dekat Rena ataupun bertatapan muka dengan Rena.
"Bu, temani Rena ngobrol disini yuk?" wanita yang tengah hamil itu tampak memohon manja kepada sang ibu angkat.
Melihat tatapan mata Rena yang begitu sendu Wiya tak kuasa menolaknya.
__ADS_1
"Rena mau dibikinkan minum?" Bu Wiya memulai percakapan.
"Enggak Bu, Rena cuma mau ngobrol aja" lagi lagi Rena memohon kepada wanita yang telah membesarkannya itu.
"Saya merasa gak pantas diperlakukan baik seperti ini, saya penuh dosa" tangis Bu Wiya akhirnya pecah juga. Wanita itu bersujud di kaki Rena.
"Jangan seperti ini Bu" Rena ikut terharu atas apa yang dilakukan Bu Wiya.
"Kenapa kau begitu baik nak, apa yang saya lakukan terlalu kejam" Bu Wiya terus mengingatkan Rena atas apa yang telah dialaminya.
"Karena ikatan cinta itu tak akan terputus, meskipun diwarnai dengan rasa sakit dan kepedihan didalamnya".
"Orang pertama yang aku sayangi sebagai orangtuaku adalah Bu Wiya. Meskipun selanjutnya aku tau kalau ternyata aku hanya anak angkat" Rena begitu lancar mengungkapkan isi hatinya.
"Dari dulu sampai sekarang, aku tetap anggap ibu sebagai orangtuaku" Rena menambahkan kalimat yang membuat Wiya semakin tenggelam dalam rasa bersalah.
"Bolehkah Rena meminta sebuah pelukan?, pelukan tulus yang dari dulu belum pernah Rena dapatkan?" Rena kembali memohon.
"Hik" tangis keduanya pecah saat berpelukan.
Nyata adanya kekuatan cinta mengalahkan kejahatan dan menghancurkan kebencian.
__ADS_1