Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kabar bahagia


__ADS_3

"Hai Alya, sudah lebih baik keadaanmu?" Rena datang ke ruangan Alya saat jam besuk baru saja dimulai. Varo dan Alya sama sama terkejut atas kehadiran wanita itu. Terutama Varo,,,ia tak menyangka sama sekali kalau istri yang dari malam dikhawatirkannya akan muncul dengan begitu anggun pagi ini.


"Sayang, mengapa tak mengabarkanku?" Varo segera menghampiri dan memeluk sang istri.


"Aku kesini mau menjemput dirimu sayang" Rena bersikap sangat manja dengan membalas pelukan Varo.


"Menjemput suamiku tercinta" Rena menekankan kalimat ini hingga membuat Alya kembali emosi.


"Arghhhh wanita jahat" Alya dalam mode tak terkendali.


"Aku sudah mencoba mengikuti permainanmu Alya, tapi sayangnya suamiku tetaplah akan menjadi milikku, jadi sebaiknya kau bangun dari mimpi semu itu, kembali ke alam nyata, kau tak bisa memiliki cinta suamiku" Rena menunjukkan kuasanya.


Varo yang baru pertama kali melihat sikap Rena yang begitu tegas ini sampai melongo tak percaya. Rena benar benar mengintimidasi Alya.


"Ayo sayang kita pulang, bye Alya" Rena menarik tangan Varo dan segera berlalu dari ruangan itu. Alya yang ditinggal sendirian di dalam kamar menangis terisak, meratapi kekalahannya dari Rena.


.


.


.


Varo berusaha mensejajari langkah Rena yang berjalan sangat cepat.


"Hei sayang, berhenti sebentar, ada apa ini sebenarnya?" Varo tak tahan lagi mengikuti semua kelakuan Rena yang berubah ubah.


"Ngapain aja sama dia semalaman?" Rena menunjukkan wajah cemberut.


"Gak ngapa ngapain, aku tidur di sofa sampai pagi" Varo menjelaskan apa yang terjadi sesuai faktanya.

__ADS_1


"Justru aku mau marah sama kamu, teganya kamu mengorbankan aku buat dia, kalau memang sudah tak menginginkan ku jangan seperti ini" Varo membalikkan keadaan. Kemarahan yang dipendamnya akhirnya keluar juga.


"Maaf kak, aku gak bermaksud seperti itu" Rena tersadar atas kesalahan yang diperbuatnya. Dengan gerakan cepat Rena segera memeluk Varo agar amarah suaminya itu teredam.


"Hufttt, bagaimana mungkin aku bisa marah kepadamu" Varo mencubit dagu Rena.


"Kau akan segera mendapatkan hukuman dariku, tapi nanti malam" Varo berbisik di telinga Rena dengan senyuman tersungging lebar.


.


.


.


Waktu berlalu beberapa hari. Rena dengan kondisi psikologisnya yang fluktiatif terus memantau Alya. Rasa iba terhadap Alya sempat menyelimutinya tatkala Zifa menceritakan kalau Alya sangat bersedih saat kehilangan calon anaknya. Namun Zifa juga mengabarkan kalau Alya tak butuh waktu lama untuk meratapi kesedihannya. Wanita itu kini sudah terlihat ceria.


"Hai pak pengacara, suatu kejutan dengan kedatangan anda kesini" Rena menyambut pengacara sekaligus mantan adik iparnya itu.


"Saya kesini mau memberikan sebuah kabar mengenai kasus yang tengah dihadapi mas Varo" pengacara Hitler menjelaskan.


Rena membeku, sudah lama dia melupakan kasus itu karena fokus memantau kondisi Alya yang sakit. Dan Rena kembali mengingat jadwal, seharusnya besok adalah hari persidangan pertama bagi Varo.


"Silahkan duduk pak, saya akan menghubungi suami saya, dia baru saja keluar untuk membeli sesuatu" Rena gugup namun berusaha menguasai diri.


Tak menunggu lama, Varo sampai di rumahnya. Raut wajah tegang juga tak bisa ditutupi oleh pria itu. Meskipun yakin kasus nya akan sangat mudah dihadapi, tapi berurusan dengan pengadilan membuat Varo sedikit gelisah.


"Ada berita terbaru apa pak?" Setelah menyalami pria itu Varo segera menanyakan maksud kedatangannya.


"Kalian orang baik, banyak orang yang mendoakan kalian" pengacara Hitler membuka percakapan.

__ADS_1


"Kasus anda telah ditutup, Alya sebagai pelapor memutuskan tak melanjutkan kasus ini, dengan alasan janin yang dikandungnya sudah tidak ada. Dan dia telah kembali ke kehidupannya yang lama, pesta dan Hura Hura" pengacara Hitler menjelaskan.


"Bagaimana tanggapan kalian?, mengingat nama baik mas Varo sudah terlanjur di hancurkan oleh wanita itu, apa kita melakukan tindakan untuk membalasnya?" pengacara hitler menanyakan pendapat kedua orang di depannya yang tampak shock tak percaya.


"Hei ada apa dengan kalian, mengapa tak berkomentar?" pengacara Hitler menahan tawa melihat wajah bodoh keduanya.


"Anda tak bercanda kan pak?" Varo mulai bisa menguasai diri.


"Saya sudah bawa surat pembatalan kasusnya, silahkan anda baca sendiri" pengacara Hitler memberikan sebuah dokumen berisi pemberitahuan resmi atas ditutupnya kasus ini.


"Aku tau sifat Alya memang cepat berubah ubah, dia kadang begitu menyenangkan, namun dalam sekejap bisa berubah sangat menyebalkan" Varo mencoba mengingat mengenai tingkah laku Alya.


Ucapan Varo barusan sukses mendapat sikutan tajam dari Rena. Dia tak suka suaminya masih mengingat Alya.


"Maaf sayang, aku cuma mencoba memahami apa yang dilakukan Alya" Varo memberi penjelasan.


Pengacara Hitler hanya tersenyum simpul melihat keromantisan kedua anak muda di hadapannya.


"Saya kesini tidak hanya memberikan satu kabar, masih ada satu kabar bahagia lagi" pengacara Hitler kembali membuat Rena dan Varo memasang mimik wajah tegang.


"Uni dokumen perusahaan milik anda mas Varo, semuanya telah kami kembalikan menjadi atas nama anda sebagai direktur utama sekaligus pemilik saham terbesar" sebuah dokumen kembali diberikan oleh sang pengacara bersahaja itu.


"Ma...maksud anda?" suara Varo bergetar tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya, Prasetya corporation yang dulu dimiliki oleh orangtua anda sempat bangkrut, Nathan Kakak saya mengambil alih kepemilikannya dan membangun kembali perusahaan itu. Namun takdir berkata lain, tak lama setelahnya dia harus menghadapi penyakit yang membuatnya harus menyerah" pengacara Hitler menjelaskan.


Varo masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rasanya begitu cepat keadaan berbalik menjadi normal seperti semula.


"Silahkan pelajari dokumen ini, saya akan kembali esok hari" pengacara Hitler berpamitan kepada keduanya dan melangkah keluar rumah meninggalkan Rena dan Varo dalam kebingungan sekaligus rasa haru.

__ADS_1


__ADS_2