Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Rencana manis yang terselubung


__ADS_3

Rena dan Varo berkunjung kerumah yayasan untuk menemui semua keluarga besar Rena disana. Kedatangan mereka bermaksud mendiskusikan informasi yang baru saja mereka dapatkan.


Semua orang yang ada di yayasan menyambut gembira kabar yang mereka dengar. Termasuk bu Wiya, Zifa juga Niko yang juga diundang untuk hadir oleh Varo.


"Kalian berhak untuk mendapatkan kebahagiaan, sudah terlalu lama kesedihan dan airmata menemani kalian" kak Desi berkata dengan sangat terharu dan bahagia.


.


.


.


Setelah makan malam bersama dengan semua keluarga besar yayasan, Rena dan Varo berpamitan pulang. Bu Indah meminta Alif untuk menginap selama beberapa hari bersamanya, karena ia sangat merindukan cucu kesayangannya itu.


"Sayang, terimakasih ya, sejak kau mendampingi ku tak henti keberuntungan datang".


"Benar kalimat orang bijak yang mengatakan, dibalik seorang pria yang sukses ada seorang wanita hebat yang mendampingi" Varo berkata sambil terus menatap Rena. Saat ini mereka berada di dalam mobil. Varo memeluk tubuh Rena erat sebelum mesin mobil dihidupkan, dan mereka melaju membelah jalan raya.


.


.


.


Pagi hari datang begitu cerah menyambut semangat baru yang dibangun oleh Varo dan Rena.


Rencananya hari ini Varo akan mengurus semua administrasi untuk mengambil alih kembali perusahaan milik keluarganya.


Sementara Rena, berangkat menuju kampus untuk melanjutkan kuliah nya yang beberapa Minggu ini berantakan akibat masalah yang banyak menimpa.


"Hati hati ya sayang" Varo mengecup kening Rena dan perut rata istrinya saat hendak menurunkan Rena di depan kampus. Suatu kebiasaan baru sejak Rena dinyatakan positif hamil.


"Kak Varo juga semangat ya, semoga hari ini bisa selesai semua urusannya" Rena memberi semangat kepada sang suami.


Selanjutnya Varo segera melajukan mobil menuju gedung perkantoran yang dulu menjadi kebanggaan keluarganya. Didalam hatinya tersimpan sedikit rasa malu sekaligus perasaan tak berguna. Dengan kelakuan bodohnya dulu, ia menghancurkan semua yang dimiliki keluarganya, ia tak mampu membuat keluarganya bangga.

__ADS_1


Dan saat ini Varo bertekad, akan memulai lagi semuanya, memperbaiki apa yang telah dirusaknya, dengan diberikan kesempatan kedua ini, Varo merasa sangat bersemangat dan bahagia.


"Papa, mama, Varo akan bikin kalian bangga" pria itu bergumam sendiri sembari tetap melajukan mobil menuju ke tempat tujuannya.


.


.


.


Siang menjelang. Urusan pengalihan aset tak membutuhkan waktu lama berkat bantuan dari pengacara Hitler. Secara resmi, Varo sudah bisa kembali menjabat sebagai direktur utama perusahaannya.


Tak terbayangkan kebahagiaan yang membuncah di hati Varo. Satu persatu bagian dari kehidupannya yang hilang kini dikembalikan oleh sang penguasa. Takdirnya kembali indah setelah ia mendapatkan pengampunan Rena. Varo benar benar merasakan berkah keberuntungan dari sang istri. Dan ia tak akan menyia nyiakan itu. Varo telah berjanji di dalam hatinya untuk selalu menjaga cinta dan sayangnya hanya untuk sang istri dan anak anak mereka nanti.


.


.


.


Sebuah rencana manis telah disiapkan Varo. Dulu ia pernah berjanji akan membuatkan sebuah pesta pernikahan yang layak buat Rena. Hingga berbulan bulan setelah pernikahan mereka dan bahkan Rena sampai hamil, janji itu tak kunjung terwujud bahkan terlupakan. Dan Varo merasa inilah saat yang tepat untuknya mewujudkan impian Rena. Babymoon romantis di sebuah negara impian mereka berdua.


"Ada apa kak, apa semuanya lancar?" Rena terlihat khawatir melihat ekspresi wajah Varo yang murung saat menjemputnya di kampus. Padahal sebelumnya didalam pikiran Rena Varo akan tersenyum sumringah mengabarkan tentang hasil pertemuannya dalam mengurus perpindahan aset.


"Sayang, tempat apa yang paling kau impikan untuk dikunjungi?" Varo bertanya dengan mimik wajah membingungkan.


"Entahlah kak, dulu pergi ke dunia fantasi saja merupakan impian terbesar buatku, tapi sekarang aku tak memikirkan mau kemana mana" Rena menjawab pertanyaan Varo dengan jawaban mengambang.


"Tapi seandainya bisa, aku sangat ingin merasakan semua yang dulu pernah kau ceritakan, tentang bagaimana indahnya masa kecilmu di negara Australia" Rena berbicara dengan polos menyatakan keinginannya.


Varo terkesiap mendengar penuturan Rena. Memang benar dulu ia pernah menjanjikan Rena untuk mengunjungi sudut sudut indah di negara tempat masa kecilnya dihabiskan.


"Tempat yang dulu aku janjikan untuk berbulan madu?" Varo mengulang lagi pertanyaannya.


Rena mengangguk malu. Meskipun tak tahu kemana arah pembicaraan sang suami, tapi mengeluarkan isi hatinya dan membayangkannya saja cukup membuat Rena senang.

__ADS_1


"Baiklah, pasang sabuk pengamannya" sebuah senyuman tersungging di bibir Varo.


.


.


.


Rumah sakit Langganan keluarga Varo.


"Kak kok kita kesini? mau ngapain?" Rena tak menyangka Varo akan mengajaknya ke rumah sakit.


"Udah ikut aja, sebentar kok" Varo memberi senyum misterius kepada istrinya itu dan segera menggandengnya masuk kedalam ruangan seorang dokter.


"Kiara?" Rena sangat terkejut. Di dalam ruangan dokter yang dimasukinya ada Kiara dan seorang laki laki yang wajahnya pernah dilihat Rena.


"Hai bumil cantik" Kiara menghambur memeluk Rena.


"Hei, hati hati, bayi ku nanti terganggu karena gerakan kasar mu" Varo panik melihat kelakuan Kiara yang memeluk istrinya kuat.


"Duh protektif bener si calon bapak" Kiara menggoda Varo.


"Selamat siang nyonya bos" sebuah suara dari orang yang berdiri di sebelah Kiara menghentikan tawa wanita itu yang sedang menggoda Varo.


"Pak Adam?" Rena berhasil mengingat dengan siapa dia berbicara.


Adam mengangguk tipis mengiyakan pertanyaan Rena.


Rena benar benar bingung dengan apa yang sedang direncanakan Varo.


"Aku bawa kamu kesini karena mau meminta rekomendasi dokter kandungan, kita akan konsultasi karena sebentar lagi akan melakukan penerbangan jarak jauh" Varo akhirnya menjelaskan apa rencananya kepada Rena karena tak tahan dengan ekspresi sang istri yang bingung.


"Aku belum memberikan mu pernikahan impian layaknya orang orang" Varo berbisik di telinga Rena.


Rena terkesima mendengar ucapan Varo. Hatinya berbunga bunga mendapatkan perlakuan sangat manis dari sang belahan jiwa. Teman hidup selamanya.

__ADS_1


__ADS_2