Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Mengungsi ke apartemen


__ADS_3

"Tolong kak, ada ular besar dan banyak disini" Rena terisak ketakutan.


"Astaga" Varo tak habis pikir.


"Ok aku udah hampir sampai, kamu tenang dan jangan membuat gerakan yang memancing perhatian hewan itu" perintah Varo.


"Iya kak" jawab Rena patuh.


Varo yang memegang kunci kios segera membuka pintu dan masuk kedalam mencari Rena.


"Kak Varo" Rena memberi kode setengah berbisik saat Varo muncul didepan pintu kamarnya.


Gadis itu sedang berada di pojok kamar dengan menginjak sebuah koper besar. Koper yang digunakan waktu pindahan.


"Disitu ularnya" tunjuk Rena kearah kasur.


Varo memberi kode tenang kepada Rena dengan tangannya. Dia meminta Rena tetap diam di posisinya.


"Aku sudah hubungi damkar, mereka dalam perjalanan kesini" jelas Varo.


Tak menunggu lama, pasukan damkar yang bisa menjadi penangkap ular datang ke kios milik Rena.


Mereka meminta izin untuk masuk kedalam kamar Rena. Varo langsung menarik lengan Rena saat para petugas sedang menyisir sekeliling kamar itu.


Varo membawa Rena kedalam pelukannya.


"Tenang ya sayang, semua bisa dikendalikan" Varo terus menenangkan Rena yang gemetar. Wajah gadis itu pucat karena takut, namun tak menangis.

__ADS_1


Rena yang memakai piyama tidur tipis dan pendek membuat Varo melepaskan jaket yang dipakainya untuk menutupi tubuh Rena. Karena Varo tak ingin, tubuh gadisnya terekspose dan dilihat oleh para petugas damkar.


Sepanjang evakuasi ular ular itu, Rena terus memeluk Varo, mencari kenyamanan di dalam dada bidang itu.


Varo berkali kali menggelengkan kepala tak habis pikir darimana bisa ular sebanyak itu datang.


Hampir satu jam, akhirnya semua ular telah masuk kedalam karung yang dibawa oleh petugas damkar. Totalnya ada lima ekor ular besar dan berbisa serta beberapa ekor lagi anak anak ular kecil.


"Tuan dan nyonya sepertinya ular ini ada yang sengaja meletakkannya, karena jenis hewan seperti ini tidak hidup di sekitar daerah ini, lagipula tidak kami temukan bekas mereka merayap di lantai atau dinding. Sebaiknya minta bantuan pihak kepolisian mengusut kasus ini, bukan tak mungkin ada seseorang yang mengincar salah satu dari kalian" dengan tegas petugas damkar menjelaskan.


Pak petugas damkar itu menyangka Rena dan Varo adalah pasangan suami istri resmi yang tinggal di kios itu. Karena sikap Varo yang terus melindungi Rena dan mengkhawatirkannya.


"Baik pak, terimakasih atas bantuannya" Varo mengakhiri percakapan dengan para petugas itu dan mengantarkan mereka sampai didepan pintu.


Varo kembali kedalam dan melihat Rena masih berdiri di posisinya tak berpindah tempat. Wajah Rena terlihat masih sangat takut. Pucat dan tegang.


"Aku takut kak" akhirnya runtuh juga pertahanan Rena, dia menangis dalam pelukan Varo.


Penjelasan dari petugas damkar yang menjelaskan kemungkinan ada seseorang yang ingin menghabisinya membuat Rena mengingat kembali kejadian yang menimpanya beberapa waktu terakhir.


"Malam ini di apartemen dulu ya, kamu gak mungkin disini sendirian" ajak Varo yang tak tega melihat kondisi Rena.


Rena mengangguk dan patuh menuruti langkah Varo yang menuntunnya keluar rumah.


"Kak Varo bawa motor, Rena gak apa apa kan kalau dibonceng pakai motor" bujuk Varo.


"Iya kak, gak apa" jawab Rena pasrah.

__ADS_1


Motor Varo melaju pelan. Pria itu ingin menikmati pelukan dari Rena dari atas motornya. Ini momen pertama kali mereka naik motor.


Motor pria itu adalah type motor sport besar yang tak nyaman untuk berboncengan. Rena terpaksa memeluk Varo erat dan duduk sangat menempel, karena takut jatuh.


Akhirnya mereka sampai didepan unit apartemen Varo. Pria itu memencet tombol lift menuju lantai 11.


Didalam lift, Varo merapikan rambut Rena yang acak acakan. Wajah Rena sudah lebih baik tak sepucat tadi. Posisi Varo yang berhadapan didepan Rena membuat pria itu dapat melihat dengan jelas piyama yang dipakai Rena. Piyama yang sangat menggoda dengan belahan dada rendah. Jaket yang dipakaikan Varo untuk menutupi tubuh Rena hanya dipasang seadanya hingga membuat pesona Rena semakin menggoda.


Varo menelan salivanya sendiri.


"Tingggg" pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai 11 tempat unit apartemen Varo berada.


"Varo membuka pintu dengan password dan mempersilahkan Rena masuk.


Rena melongo melihat kondisi apartemen Varo saat ini.


Ini kali kedua dia masuk ke apartemen kekasihnya. Saat pertama kali datang, apartemen Varo tampak rapi dan tertata, sekarang apartemen ini sungguh berantakan dengan sampah plastik bungkus makanan yang berserakan.


Varo menepuk jidatnya sendiri, dia malu melihat kondisi kamarnya yang bak kapal pecah.


"Maaf ya Re, petugas bersih bersih cuma datang seminggu dua kali, besok baru datang lagi, jadi sekarang biarkan dulu ya seperti ini" ucap Varo malu.


"Seharusnya ular itu disini munculnya, karena kamar ini luar biasa berantakan, kenapa dia muncul di kamar aku yang bersih" ceplos Rena.


Varo hanya nyengir tak tau hendak menjawab apa.


"Sapu dimana kak?, biar aku beresin sebentar" tanya Rena.

__ADS_1


"Di balik pintu dapur" jawab Varo.


__ADS_2