
"Malam Al, gimana kabarmu?" pesan terkirim. Varo mencoba menghubungi Alya lewat panggilan suara, namun ponsel kekasihnya itu tak aktif sedari tadi. Karena itulah dia berinisiatif mengirim pesan, berharap dibaca oleh Alya secepatnya.
Varo akan menyelesaikan hubungannya dengan Alya. Hubungan itu sudah terasa hambar, bagi Varo bersama Alya lebih terasa seperti mengasuh adik kecil. Harus memanjakan dan menuruti semua keinginannya.
Sejenak Varo kembali teringat Rena. Senyuman gadis itu terus menari nari di benaknya. Fotonya bersama Rena yang ada di memori ponselnya saat memasak di restoran kala itu kembali dipandangi Varo. Di foto itu Rena tampak menggemaskan dengan wajah berminyak dan penuh tepung. Memang tak terlalu cantik jika dibandingkan sang kekasih Alya, namun begitu manis dan selalu membuat rindu.
Drttt....drtttt...
Ponsel Varo bergetar. Sesaat dia terperanjat karena ponsel tersebut sedang digenggam dalam kondisi melamun.
"Bos dimana? ada berita gawat. kita harus segera membahasnya" Terdengar suara Adam begitu panik dari seberang telepon.
"Ada apa? besok saja, aku sedang tak ingin diganggu" ucap Varo ketus.
"Rena diculik" teriak Adam.
Duarrrr... Tegangan listrik ribuan voltase menyambar Varo.
"Tunggu aku disana sekarang" Varo segera bangkit dari tempatnya dan bergegas menuju lokasi Rena diculik.
"Siapa yang melakukan ini semua, cek CCTV" perintah Varo panik. Pria itu sampai dengan cepat ke lokasi. Padahal jarak antara restoran ke rumahnya lumayan jauh.
"Orang orang suruhan ibu anda bos" Adam menjelaskan. Adam melihat langsung kejadian saat Rena ditarik paksa masuk kedalam mobil oleh beberapa preman bertubuh besar. Preman itu dikenali oleh Adam sebagai orang suruhan Bu Lidya, ibunya Varo. Karena beberapa kali pernah berjumpa saat di kantor.
"Ya Allah mama, ini sudah kelewatan, ini kriminal" Varo mengusap kasar wajahnya.
Tak pikir panjang, Varo mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan menghubungi sang ibu.
Namun berkali kali di hubungi, panggilan dari Varo tetap tak ada jawaban. Sang mama diam seribu bahasa.
Varo berlari kearah mobilnya dan melajukan secepat kilat. Dia akan meminta penjelasan kepada wanita paruh baya itu, sekaligus mencari tahu keberadaan Rena.
__ADS_1
.
.
.
"Ma...mama" Varo berteriak teriak saat memasuki rumah. Tak ada ucapan salam seperti biasanya. Varo dilanda kemarahan sekaligus kecemasan.
Varo mengkhawatirkan kondisi Rena yang sedang diculik dan juga mengkhawatirkan mamanya yang akan mendapat masalah jika kasus ini sampai ke tangan polisi.
"Kenapa kamu berteriak teriak? sudah gak punya etika kamu ya" bentak Bu Lidya yang melihat Varo masuk kedalam rumah seperti orang gila.
"Mama menculik Rena? bilang kalau aku salah, bukan mama yang menyuruh orang yang menculik Rena kan? Varo histeris.
"Kalau memang iya kenapa?, mama yang akhirnya turun tangan untuk memusnahkan gadis itu, karena kamu sudah tak bisa lagi diandalkan" ucap Bu Lidya dingin.
"Ma, itu kriminal, mama bisa dapat masalah, kasihan Rena ma, dia tak terlibat dalam kasus papa" Varo memohon, suaranya bergetar.
Varo kehilangan kata kata. Dia tak bisa lagi memahami sang mama. Dendam dan amarah sudah terlalu memenuhi hatinya, hingga membuat seorang ibu yang lembut berubah menjadi wanita kasar yang kejam.
"Maafkan Varo ma, kali ini Varo akan menghentikan kekejaman mama, Varo akan pastikan rencana mama gagal" dengan sangat terpaksa akhirnya Varo melawan keinginan sang mama.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Varo membantah perintah sang ibu. Dia lebih memilih Rena untuk diselamatkan.
Varo kembali keluar dari rumah, diiringi sumpah serapah dari sang ibu.
.
.
.
__ADS_1
Varo mengerahkan seluruh orang kepercayaannya untuk melacak posisi Rena disekap.
Dia sendiripun melakukan segala upaya demi menemukan Rena.
"Bos, sudah hampir pagi, apa anda tetap disini?" Adam mengingatkan Varo yang tampak kacau. Saat ini pria itu tengah sibuk dengan laptopnya untuk meretas ponsel mamanya sendiri.
Varo berharap, bisa mendapatkan informasi akurat dari ponsel mamanya itu. Jalan satu satunya adalah menyadap aplikasi pesan dari ponsel itu.
"Jika kau ingin beristirahat, pulang lah, aku masih disini" Varo menjawab pertanyaan Adam. Saat ini keduanya tengah berada di apartemen pribadi milik Varo tak jauh dari restoran.
"Saya disini aja bos, bersiap menunggu perintah" jawab Adam. Dia tau kali ini sang bos dalam mode tegang, tak bisa untuk diajak bercanda.
"Saya akan buatkan kopi agar anda sedikit rileks" Adam berinisiatif mencari kesibukan.
Dia tak punya kemampuan untuk hal seperti yang dilakukan Varo. Kemampuannya lebih kepada pertempuran fisik dan mengatur karyawan.
Adam adalah ketua dari semua orang orang andalan Varo. Karena seorang pebisnis yang sukses juga memiliki segudang musuh di belakangnya. Untuk itulah kehadiran para asisten sangat dibutuhkan.
Varo terus menghisap rokok yang ada di tangannya. Pikirannya masih fokus dengan berbagai macam code yang masih bergerak di layar laptopnya.
Varo saat ini sedang menunggu proses loading untuk bisa masuk kedalam akun sang ibu. Nanti dia akan melacak dengan siapa saja wanita yang selama ini menjadi pusat kehidupannya itu berhubungan. Varo memiliki harapan besar untuk dapat melacak Rena dengan cara ini.
.
.
.
Pagi menjelang, Varo terkulai lemas di meja kerjanya. Proses peretasan terhadap ponsel Bu Lidya telah selesai. Namun Varo terlalu lelah untuk melanjutkan, hingga akhirnya pria yang tampak kacau itu tertidur dengan posisi kepala di meja.
"Bos Varo benar benar bekerja keras semalaman, gadis itu sepertinya sangat penting" Adam bergumam dalam hati karena melihat kondisi Varo saat ini.
__ADS_1
Adam memilih tidak menggangu bos nya itu, membiarkannya sejenak beristirahat.