
"Saya sudah menemukan posisi orang yang anda cari? menunggu perintah eksekusi" Varo membaca pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Pesan itu dari Adam. Orang kepercayaannya.
"Terus awasi, jangan sampai mereka kembali mengganggu Rena, untuk tindakan selanjutnya aku akan kabari nanti" Varo membalas.
Saat mengetahui kalau Nathan mantan suami Rena masih mencarinya, Varo segera mengambil tindakan.
Meskipun Varo fokus menjaga Rena, tapi banyak orang suruhan yang dimilikinya. Saat ini mereka sangat bisa diandalkan untuk menjaga Rena sementara dari gangguan. Varo akan membalas semua yang dialami Rena dengan tangannya sendiri.
.
.
.
Tubuh Rena menggeliat pertanda dia telah bangun dari tidurnya.
Rena masih memeluk Varo. Sepertinya dia belum sepenuhnya sadar.
DEG...
Rena segera melepas pelukannya. Dia sudah sadar sepenuhnya dan merasa sangat malu.
"Masih sakit kakinya" Varo berusaha membuat Rena tak canggung.
"Masih, tapi gak terlalu seperti tadi" jawab Rena pelan.
"Aku panggil suster ya, kamu akan dipindahkan ke kamar lagi" ucap Varo sambil mengelus kepala Rena. Entah kapan pastinya, tapi mengelus kepala Rena menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan buat pria itu.
Setelah melepas peralatan medis yang menempel, Rena dipindahkan ke kamar dengan kursi roda. Varo sendiri yang mendorong kursi roda itu. Dia mencurahkan perhatian penuh kepada Rena.
"Terimakasih, maaf merepotkan" Rena merasa segan kepada Varo.
Sampai sekarang Rena masih tak mau menyebut nama Varo seperti dulu.
"Kamu tak pernah merepotkan" jawab Varo.
__ADS_1
"Masih panas itu badannya, sebaiknya kamu istirahat" Rena kembali berdebat.
"Kok tau?" Varo tersenyum menggoda Rena.
"Ta..tadi terasa panas saat aku tidur" jawab Rena lagi.
"Hehehe, iya siap, nanti istirahat" Varo senyum senyum.
Drtttt..drttt...Ponsel milik Varo kembali bergetar.
"Gimana usaha kamu buat deketin Rena? udah mulai ada perkembangan belum?" kasihan Rena gak ku jumpai udah dua hari, gantian ya sekarang" pesan itu ternyata dari dokter Desi.
Varo dan dokter Desi sudah bekerjasama. Dokter itu sengaja tak datang menemui Rena agar Varo mempunyai kesempatan full menjaga Rena seharian.
"Sudah mulai cair kak, meskipun hanya sebatas teman" Varo membalas pesan dari Desi dengan emoticon sedih.
"Haha, bersyukurlah kamu Rena bisa memaafkan. Kalau aku di posisi Rena, dah dari awal kamu ku bunuh" balas dokter Desi.
"Iya kak, Rena memang wanita luar biasa, tak salah aku mencintainya" balas Varo lagi.
"Ya sudah, setengah jam lagi aku sampai rumah sakit, gunakan waktu mu sebaik baiknya" dokter Desi mengingatkan.
Pria itu kembali menyimpan ponselnya. Dia ingin fokus menghabiskan waktu bersama Rena sebelum kak Desi datang.
"Rena mau makan lagi gak?" Varo menawarkan.
"Tidak, terimakasih" gadis itu menjawab singkat.
"Selamat sore Rena" suara dari balik pintu membuyarkan waktu berduaan Rena dan Varo.
"Pak Niko?" Rena tak menyangka ada yang mengunjunginya.
Varo memperhatikan dari atas kebawah penampilan tamu yang tak diundang ini. Varo merasa terancam karena Niko terlihat cukup menarik dan berkharisma.
"Tadi aku ke yayasan jumpa Alif, aku baru tau kalau kamu sedang dirawat" Niko menyapa Rena dengan lembut.
__ADS_1
Varo yang berada di sebelah ranjang Rena terbakar cemburu melihat cara pria itu memperlakukan Rena.
"Gimana keadaan kamu?" Niko berbicara dengan terus menatap Rena.
"Alhamdulillah sudah membaik pak" Rena menjawab dengan sopan.
"Tenanglah, malam ini aku menginap untuk jagain kamu" Niko berinisiatif. Hal ini membuat Varo panas dan tersulut emosi.
"Tak usah repot pak Niko, saya sudah menjaga Rena" ucap Varo tegas.
"Oh, hai, maaf saya tak melihat anda" Niko menyapa.
"Saya Niko, teman dekat Rena" Niko mengulurkan tangannya.
Varo menatap Rena meminta penjelasan.
"Ini namanya Varo pak, dia teman Rena" Rena memperkenalkan Varo karena pria itu tak menjawab perkenalan dari pak Niko.
DEG....
Ada nyeri di hati Varo saat Rena mengakuinya hanya sebagai teman.
"Salam kenal pak Varo" ucap Niko ramah.
Kedua pria itu sama sama mengeluarkan aura mengintimidasi.
"Rena" kak Desi masuk bersama Alif di pelukannya.
"Ah Alif anak bunda, sini sayang" wajah Rena berbinar saat mengetahui Alif datang.
"Hai pak Niko, anda disini?" dokter Desi menyapa.
"Iya dokter Desi, anda begitu tega tak mengabari saya kalau Rena sakit" Niko terlibat percakapan dengan Desi.
"Oh iya, maafkan saya, ini mendadak" ucap dokter Desi sopan.
__ADS_1
Varo memasang wajah tak ramah, matanya terus mengawasi percakapan antara Desi dan Niko.
"Hei ganteng, kenapa itu wajah tegang bener" Desi menggoda Varo. Dokter itu tau pasti sekarang Varo dalam keadaan cemburu membara.