Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Chapter 1 - Prolog


__ADS_3

OPENING - Sebuah Apartment Mewah Ibukota


"Malam itu entah apa yang terjadi, seperti ada beberapa potongan kejadian yang aku hampir lupa, kepalaku berat dan seakan mau pecah."


*** Apa yang terjadi? (bergumam sendiri sambil mengingat kejadian semalam) ***


"Disisi kiri tempat tidur aku melihat sosok seorang laki-laki yang aku kenal sedang menatapku dengan tatapan bersalah dan mata yang bengkak seperti telah menangis."


"Yaaa dia Gio orang yang aku suka."


"Melihat Wajahnya aku ingat kejadian yang menimpaku kemarin, itu membuatku benar-benar benci dan hancur."


"Untuk menangis aku tidak bisa karena sudah habis air mataku untuk menangis semalam."


"Kejadian Lepas"


Kring… Kring… Kring… Hp ku berbunyi,


"Ternyata panggilan telephone dari orang yang aku suka."


Gio         : hi Nisa, apa aku mengganggu kamu?


Nisa           : hi kak, ngak kak, ada apa?


Gio     : nanti malam aku mau ajak kamu ke suatu tempat, apa kamu punya waktu? (dengan suara yang berat dan gemetar)


Nisa           : bisa kak, aku hari ini libur kerja (menjawab tanpa berpikir)


Gio       : nanti malam aku jemput di tempat kamu ya


Nisa          : baik kak (dengan wajah yang senang)


Di Mobil


"Kami hanya diam tidak bicara apapun dan merasa canggung."


"Tetapi aku tidak banyak berpikir tentang apa yang akan terjadi dikedepannya, yang aku tau aku tidak pernah berpikiran buruk tentang kak Gio."


"Dia adalah laki-laki baik yang menghargai ku dan dia tidak pernah memandang status ku yang seorang gadis kampung yang miskin"


"Aku percaya itu."


"Di tempat parkir"


Gio    : Ayo keluar (dengan tatapan yang tidak bersemangat)


Nisa     : iya kak (senyum dan tidak bertanya apa-apa)


“lokasi apartment Gio bersebelahan dengan  pusat perbelanjaan, dalam pikiran Nisa pergi ke sana”

__ADS_1


"Didalam Lift"


Gio       : Nis kita mampir ke tempatku dulu ya (dengan suara yang berat)


Nisa      : iya kak (menjawab polos)


"Didalam apartment"


Gio         : nisa kamu duduk di sini dulu (sambil menunjuk ke kursi yang ada di ruang  tamu)


Nisa       : iya kak, terima kasih (duduk)


“kembali dan membawakan minuman untuk nisa”


Gio         : ini minum dulu lalu kita pergi (memberikan)


"Aku langsung meminum air pemberian kak gio"


"Beberapa menit kemudian tiba-tiba kepala ku pusing dan merasakan panas, ada sensasi yang luar biasa di sekujur tubuhku, hawa panas dan dingin yang aku rasakan."


Gio       : kamu kenapa?


Nisa     : enggak kak, Cuma sedikit panas (merasa gerah)


"Melihat kearah kak Gio tanpa pikir panjang aku langsung menarik baju nya lalu menciumnya dan dia membalas ciumanku.


"Yaaa dia menangis, sedangkan


pikiranku kosong dan hanya ingin melakukan apa yang tubuhku inginkan."


"Akupun mendengar ada suara laki-laki lain yang datang."


Ben           : yooo, lo udah mulai duluan? (tersenyum girang)


Dirta      : apa gue bilang, cantik kan?


Ben           : gila, cewek kampung tapi bening anjir, gue juga mau nyoba (dengan nada sombong dan merendahkan)


"Ben mendorong gio untuk beranjak dari ku."


"Dengan bodoh nya dia meninggalkan ku dan memberikan ku pada temannya."


"Aku bukan barang."


"Dia hanya bisa diam dan merasa kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku terkejut dan ingin memberontak tetapi tubuhnya menolak untuk itu. Kesal pada diri sendiri dan hanya bisa menangis."


"Aku merasakan tubuhku seperti di cabik-cabik oleh mereka, aku hanya bisa berontak dan menangis memohon agar mereka tidak melalakukan hal itu."

__ADS_1


"Tapi semua sudah terlambat, mereka seperti binatang kelaparan dan seperti vampire yang haus akan darah."


"Aku tidak tau entah berapa lama kejadian itu berlangsung, yang aku tau saat aku terbangun keesokan hari"


"Semua badanku sakit dan aku melihat ada bercak darah ditempat tidur, dan melihat orang yang saat ini paling aku benci berada tepat di sampingku."


"Dengan penuh kebencian aku menatap sepasang mata yang sayu itu, aku melihat di matanya tersimpan rasa bersalah yang amat dalam padaku."


"Rasa sukaku kini menjadi benci dan dalam pikirianku hanya terngiang satu kata yaitu “Dendam”.


Gio         : maaf (suara lirih)


Nisa      : Ciihh (perasaan tidak bisa di ungkapkan)


Gio         : aku antar kamu pulang (mencoba untuk berdiri)


Nisa       : tidak perlu, aku bisa sendiri (mencoba berdiri dan menangis di dalam)


"Aku keluar dari apartment kak gio, mencoba tegar meskipun di dalam hati ini menangis dan ingin rasanya untuk tidak hidup lagi."


"Di perjalanan pikiran ku kosong, berjalan seperti orang bingung yang tak tau arah, diperjalanan dekat sebuah jembatan sempat terpikir olehku untuk melompat dan mengakhiri hidup."


"Memejamkan mata dan berdiri di pinggir, tetapi di saat itu aku mendengar suara yang begitu hangat memanggilku."


                  ** "nisaaa bangun nak" Suara perempuan **


                  ** “coba lihat bapak bawa apa (melihatkan sesuatu)“ suara laki-laki **


                  ** “ka~ kaak ni~s sa heheeee (tertawa)“ suara laki-laki kecil **


"Itu suara keluargaku, mereka menungguku, mereka menyayangiku, mereka membutuhkanku, dan aku ingin mereka bahagia."


"Aku hanya terduduk diam dan menangis di pinggir sebuah jembatan."


Di Tempat Nisa


"Aku hanya bisa menangis dan meringkuk di tempat tidur, seluruh tubuhku kesakitan."


"Semua kejadian semalam masih membayang-bayang dalam pikiran ku."


"Aku hanya bisa berdiam diri dan mengurung diri di kamar sambil menangis."


Beberapa hari Kemudian


"Aku mengundurkan diri dari tempat kerja dan aku pindah tempat tinggal"


"Mencoba menenangkan diri sejenak sambil mencari pekerjaan baru."


"Hidup baruku akan di mulai dan dendamku masih ada pada mereka."

__ADS_1


__ADS_2