Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 104. Kemeriahan Pesta


__ADS_3

"Mia cucu kita sudah menikah, Mas sangat merindukanmu sayang, anak dan cucu-cucumu sudah bahagia dan mendapatkan pasangan yang mampu membahagiakan mereka." Batinnya Pak Tedy Papa dari Mirah.


Pak Tedi memeluk dan menciumi pipi cucunya, beliau tidak segan meneteskan air matanya melihat cucunya menikah. Setelah beberapa tahun berjuang menjadi single parent yang kadang mendapatkan cibiran dan hinaan dari orang-orang. Dia pun pernah melihat cicitnya menangis karena dibully tidak memiliki seorang ayah.


Hari yang cukup panjang dan melelahkan untuk kedua pasangan pengantin baru itu. Setelah pagi harinya mereka melaksanakan akad nikah dan malamnya acara pesta resepsi pernikahannya. Walaupun keluarga mereka tidak mengadakan pesta resepsi pernikahan yang besar tetapi, banyaknya tamu undangan yang menghadiri acara tersebut otomatis membuatnya menjadi ramai dan meriah. Banyaknya rangkaian acara yang diadakan waktu itu membuat Raisa sudah terkapar di atas ranjang pengantinnya yang bertaburan dengan kelopak bunga mawar merah.


"Sayang putrimu di mana? Aku cari dia tidak ada?" Tanyan Yudha yang mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan tidak melihat keberadaan putrinya itu.


Suasana bahagia jelas terlihat di balik wajah senyuman mereka. Sebagai orang tua, Yudha bahagia karena telah berhasil menikahkan putri tunggalnya itu dengan baik dan pria baik pula.


Mirah yang mendengar pertanyaan suaminya langsung menjawabnya, "tadi pamit sama saya, katanya dia capek banget jadi minta ijin duluan istirahat," ujarnya Mirah yang sesekali tersenyum ramah menyambut beberapa tamu yang masih berdatangan ke rumahnya.


"Ooh gitu, wajar lah kalau dia kelelahan meladeni tamu yang tidak ada habisnya, sepertinya tamu yang datang lebih dari daftar buku tamu yang kita undang," tutur Yudha bahagia sekaligus keheranan.


Mirah tersenyum manis meladeni percakapan suaminya,"ini semua karena campur tangan Kakek dan Neneknya, mereka mengundang semua rekan bisnisnya serta keluarga satupun tidak ada yang terlewatkan, dan aku ingin menolak tapi aku tidak ingin membuat hati mereka kecewa jadi ujungnya seperti ini lah sekarang," jelas Yudha yang menggelengkan kepalanya dengan ulah mereka.


Yudha tersenyum melihat wajah istrinya yang sama sekali tidak menampakan wajah lelah untuk mendampinginya menerima dan menemani beberapa tamu undangan yang semakin membludak saja.


"Syukur Alhamdulillah, pernikahan putri kita dibanjiri oleh ucapan dan doa tulus yang baik dari orang-orang, hal ini sangat positif untuk kedepannya, dan patutlah kita syukuri semua ini walaupun peluh keringat membasahi tubuh kita," ucap Yudha dengan tertawa sumringah.

__ADS_1


Mirah hanya membalas perkataan dari suaminya dengan senyuman khasnya. Dia kembali menyambut kedatangan beberapa tamu undangan yang hadir dan dari sekian banyaknya tamu undangan.


Tamu undangan banyak juga yang dari luar negeri dan sengaja datang untuk memeriahkan dan memberikan doa untuk kedua pasangan pengantin baru itu. Richard dan yang lainnya dibuat sangat sibuk bahkan untuk sekedar minum saja kadang harus pintar memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Ternyata capek banget yah, andai saja aku tahu bakal begini sejak dari tadi saja aku pamit untuk istirahat," keluhnya Raisa yang mendumel asal di atas ranjang king size-nya.


Sudah jam 9 malam lewat, kediaman Lee semakin dipadati oleh para tamu undangan dari berbagai kalangan. Dalam tempat tersebut sudah dibagi beberapa sekat agar para tamu undangan bebas berinteraksi dan tidak ada kecanggungan satu sama lainnya. Sehingga seluruh lapisan masyarakat berbondong-bondong untuk datang ke sana.


Ada sekat yang sengaja mereka buat khusus tamu undangan yang diadakan tanpa memakai barcode sedangkan tamu dari mulai VIP hingga VVIP terpisah. Hari itu benar-benar perayaan pesta pernikahan yang sungguh sangat meriah.


Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, perlahan kediaman Utama Lee sudah mulai berkurang tamu undangannya sehingga Aisyah dan Kemal memutuskan untuk mengikuti jejak Richard dan Raisa yang sudah beristirahat terlebih dahulu.


Aisyah tidak mengindahkan peringatan dari Nathan, dia hanya menoleh sesaat ke arah belakang lalu melanjutkan langkahnya. Nathan sudah mengusul dan ngomel-ngomel tidak jelas sambil terus berjalan mengikuti langkah kakinya Aisyah ke arah kamar pengantin mereka.


Sedangkan di dalam ruangan lain yang masih satu lokasi, Richard mengguyur tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia tidak ingin mengganggu aktifitas istrinya yang terlelap di atas ranjang dengan pakaian gaun pengantin masih melilit tubuhnya yang ramping itu. Ia hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya.


...**********...


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:

__ADS_1


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Pesona Perawan...


...3. Pelakor Pilihan...


...4. Hanya Sekedar Pengasuh...


...5. Cinta ceo Pesakitan...


...6. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


...7. Menggenggam Asa...


...8. Cinta Kedua CEO...


...9. Kau Hanya Milikku...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..


__ADS_2