
"Nenek kalau bersikap seperti ini, apa bedanya Nenek dengan kakeknya Mutia Nur Hadi? Tidak ada Nek!! kenapa Raisa mampu melupakan kesalahannya Mutiara sedangkan Nenek tidak bisa," geram Pak Yudha dengan suaranya yang cukup besar itu saking jengahnya melihat sikap Neneknya yang tidak disukainya itu.
Nyonya Mirah langsung menatap ke arah suaminya dan meminta penjelasan dari suaminya. Tuan Yudha sebenarnya enggan untuk membuka mulutnya karena takut jika Mirah kembali shock dan jatuh sakit lagi.
"Mas!!" Bentak Mirah yang sedikit mengeraskan suaranya.
"Ica adalah cucu kita sayang, dia adalah putri dari Rexy dengan Mutia," ucap Tuan Yudha yang sedikit melunak yang menjelaskan semuanya yang terjadi di depan istrinya.
Mirah menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan fakta yang baru terkuak. Dia bahagia sekaligus sedih dan takut dalam waktu yang bersamaan.
"Tolong segera telpon Aisyah untuk bertanya tentang kondisi terakhir, apa putraku sudah ditemukan," pintanya dengan derasnya air matanya yang membasahi seluruh pipinya.
Martin segera melaksanakan perintah dari istrinya,tetapi berulang kali dihubungi tetap tidak ada balasan dari Aisyah. Sedangkan di tempat lain, Aisyah dan rombongannya saling beradu tembak dengan anak buah dari Nur. Rexys yang berhasil lolos awalnya,tetapi mampu dikejar oleh pengawalnya Nur.
Mereka pun saling membalas tembakan. Mobil mereka sama sekali tidak berhenti dan saling kejar-kejaran. Tuan Luis dan Tuan Besar Mark serta bala bantuan dari Pak Heri serta Bryan segera berdatangan ke tempat kejadian. Aisyah dan rombongannya terbagi dua.
Ada yang berpencar dan ada juga yang mengikuti mereka berdua dan sisanya mengikutinya. Mereka perlahan berhasil menumbangkan sebagian besar anak buahnya Nur Hadi dan sekarang mereka sudah berada di dalam istana Nur juga.
"Ingat selalu lah berhati-hati, jika mereka tidak melakukan perlawanan apapun, cukup lumpuhkan mereka saja lalu serahkan kepada pihak kepolisian untuk segera diamankan," terang Aisyah saat sudah berada di dalam lokasi istana tersebut.
"Abang hati-hati," pekik Mutiata yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Rexy sama sekali tidak berhenti untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya, satu persatu bidikannya berhasil melumpuhkan lawannya.
__ADS_1
Senyuman termanis yang dimiliki oleh Rexy tersungging dan terbit dikala melihat bala bantuan berdatangan untuk membantunya. Dengan pelan tapi pasti, mereka berhasil dikalahkan.
"Sebaiknya kita kembali ke Istana kakek sebelum terlambat," harap Mutiara dengan penuh keyakinan.
"Maksudnya?" Tanyanya yang tidak mengerti.
"Kakek Nur sudah memasang beberapa bom di seluruh penjuru istananya dan kakek sudah pergi dari sana," ujarnya lalu memutar mobilnya.
Rexy meraih hpnya yang tergeletak di atas dashboard mobil lalu segera menghubungi nomor hp dari keluarganya yang ada di sana, tapi satupun tidak ada yang aktif nomornya.
"Kenapa nomor hp mereka tidak ada yang aktif?" Tanyanya Rexy dengan mulai ketakutan dan cemas.
Mutiara mulai menambah kecepatan mobilnya hingga seperti pembalap di sirkuit saja. Raut wajahnya Rexy sudah sangat mencemaskan keadaan dari anggota keluarganya itu dengan berbagai macam pikiran yang bersikeras di dalam benaknya.
Mutia segera menambah kecepatan mobilnya saat mendengar suara beberapa ledakan yang berasal dari istana Kakeknya Nur Hadi. Raut wajahnya berubah menjadi tegang dan sedih.
"Tidak!!!!!" Teriak Rexy yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
__ADS_1
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
Tetap dukung Cinta dan Dendam dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya yah Readers...
__ADS_1