Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 69. Terpesona


__ADS_3

"Wajahnya ayu tanpa polesan make up sedikit pun," batinnya Maxy.


Maxy tak bosan-bosannya memandangi satu-satunya perempuan yang ada di dalam ruangan ICU itu. Dia seolah terhipnotis melihat wajah ayu nan cantik tanpa polesan make up apapun itu.


"Sangat cantik," gumamnya Maxy dengan senyuman yang selalu tersungging di wajahnya.


"Sus Kamelia tolong selesaikan jahitan bapak Maxy, saya ingin melihat pasien kecelakaan yang baru datang," ujar Dokter yang awalnya menangani Maxy.


Kamelia yang mendapatkan perintah dari dokter segera menjawabnya, "Baik Dokter."


Kamelia hanya seorang diri menangani luka dari Maxy yang hanya tergores peluru saja. Suster yang diperhatikan seperti itu kadang memberikan seulas senyumannya yang begitu manis tanpa pemanis buatan.


"Apa sakit kalau saya goyangkan tangannya Pak?" Tanyanya yang melihat ke arah Maxy.


Maxy yang mendengar perkataan dari suster Kamelia segera menjawab pertanyaan, "Ohh tidak sakit kok kalau kamu yang menjahitnya," Maxy membeo.


Perkataan Maxy yang spontan itu membuat wajah sus Kamelia tersipu malu.


Wajahnya semakin memerah saat Madu berkata, "Kalau kamu ada di dekatku, bagaimanapun sakitnya pasti akan aku tahan."


"Ini orang sedari tadi menggodaku, apa mungkin itu caranya untuk mengusir dan mengurangi rasa sakitnya yah?" batinnya Kamelia.


Dia terdiam seperti patung hanya bola matanya yang berbinar dan ujung bibirnya yang sering tersenyum tipis yang dia perlihatkan dihadapan Kamelia.


Sakit dan perihnya jahitan yang diberikan oleh suster Kamelia Anastasia yang bertuliskan di name tagnya tersebut, sama sekali tidak dia rasakan.


"Apa ada yang sakit Pak?" Tanya Kamelia yang menatap ke arah Maxy yang hanya terdiam saja saat diobati tangannya yang terkena goresan timah panas.


Kamelia menatap wajahnya Maxy yang seperti seseorang yang menahan rasa sakit yang menderanya. Padahal Maxy hanya berpura-pura saja tujuannya agar mereka lebih lama bersama dan berduaan saja.

__ADS_1


"Aku harus berakting sakit saja agar bisa bersamanya." Maxy membatin.


Maxy tersenyum licik, dia sudah mendapatkan cara agar bisa lebih lama di dalam ruangan itu. Maxy melupakan anggota keluarganya yang di luar ruangan ICU yang sedari tadi tidak tenang memikirkan keadaannya.


"Ya Allah… kenapa kakak lama sekali di dalam yah? apa lukanya kakak sangat parah sehingga sudah tiga jam lebih mereka di dalam?" Ujarnya dengan keheranan.


"Tunggu, aku akan masuk ke dalam untuk mengeceknya," terang Aisyah yang berjalan ke arah ICU diikuti oleh Kemal yang seperti seekor tokek saja yang selalu menempel di dinding.


Sedangkan Rexy tubuhnya ada di dalam Rumah Sakit, tapi pikirannya tertuju pada gadis yang dilihatnya beberapa jam yang lalu. Setelah hampir lima tahun lamanya mereka terpisah dan tadi mereka kembali dipertemukan.


"Mutiara," cicitnya Rexy.


Rexy mengusap wajahnya dengan gusar. Dia tidak mengira jika perempuan itu datang lagi dalam hidupnya. Perempuan yang sangat ingin dia lupakan tetapi takdir berkehendak dan berkata lain.


"Apa dia berniat untuk balas dendam padaku setelah malam itu aku meninggalkannya?" Rexy membatin dan kembali teringat kejadian beberapa tahun silam.


Rexy kembali teringat saat-saat mereka bersama dengan penuh gairah hasrat yang tersalurkan.


Dia kemudian menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menghilangkan rasa kagum yang muncul tiba-tiba dalam hati dan pikirannya.


"Ini tidak boleh terjadi, aku harus berusaha membuang jauh perasaan seperti ini, dia itu perempuan yang sangat jahat," gumamnya.


Rexy berperang melawan ego dan keinginannya yang terpendam selama ini. Dia diam-diam mengagumi perempuan yang telah berhasil merebut perjakanya. Dia pun sama, dia adalah pria yang pertama kali merenggut dan mencicipi mahkota kesuciannya.


Raisa kebingungan melihat kakaknya terdiam dengan wajah yang sulit untuk terbaca, "Apa yang terjadi sama kakak, sedari tadi hanya terdiam saja."


Raisa sesekali melirik ke arah kakaknya bergantian ke arah pintu. Aisyah yang ditugaskan untuk masuk memeriksa sampai sekarang pun belum datang juga.


Rexy yang melihat Kemal dan Aisyah berjalan segera memberikan kode kepada keduanya. Ia meminta agar mereka membantunya untuk melancarkan taktik yang direncanakan.

__ADS_1


Aisyah dan Kemal yang melihat dan mengetahui maksud dari kode yang diberikan oleh Rexy segera saling berpandangan dan memulai aksinya mereka.


"Macy apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Aisyah yang langsung memeluk tubuhnya lalu sedikit menekan lukanya Maxy agar ia berteriak dan mengeluh.


"Aaahhh sakit!!" Pekiknya Maxy yang menatap tajam ke Nathan sedang yang ditatap hanya tersenyum licik ke arahnya.


Kamelia yang mendengar teriakannya Maxy segera berlari ke arah Maxy berada.


"Apa yang terjadi dengan Tuan Maxy?" Tanyanya dengan raut wajahnya yang ketakutan penuh kecemasan.


Reaksi yang diberikan oleh Kamelia pun tidak menyadarinya jika dia melakukan hal tersebut.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Diantara Dua Pilihan...


...3. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


...4. Pelakor Pilihan...


...5. Aku hanya sekedar baby sitter...


...6. Cinta Ceo Pesakitan...


...7. Tetanggaku Idola Suamiku...


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..

__ADS_1


I love you all Readers…


__ADS_2