
Mutiara lalu tanpa aba-aba memeluk tubuh tinggi tegap itu. Rexy dan Ica terkejut melihat apa yang terjadi. Mutia mengeratkan pelukannya ke tubuhnya Resy dengan deraian air matanya yang menetes membasahi pipinya.
Hatinya menghangat seketika saat pelukan itu melingkar di tubuhnya. Dia tidak menolak sedikit pun pelukan itu tetapi dia kembali teringat saat kesedihan dan duka yang mendalam yang dirasakan oleh keluarga besarnya gara-gara ulah dari kakek perempuan yang sudah menyita dan mengusik ketenangan hidupnya.
"Abang, apa kamu melupakan aku?" Tanyanya dengan air matanya yang terus membasahi pipinya itu.
Rexy sangat tidak ingin melepaskan pelukannya tetapi dia tidak mungkin egois dan melupakan semua cobaan yang menimpa keluarganya hanya karena perbuatan kotor dari kakeknya Mutiara.
"Maaf tolong lepaskan pegangan tangannya, kita tidak ada hubungan apapun lagi." Gertak Rexy yang tidak mau kembali jatuh dalam pesona Mutiara.
Rexy menghempaskan pegangan tangannya Mutia dengan sedikit kasar. Dia tidak ingin apa yang terjadi saat ini menjadi tontonan ataupun konsumsi publik. Dia sama sekali tidak memperdulikan tangisan perempuan yang sebenarnya sangat dia cintai sedikit pun. Hingga langkahnya terhenti karena perkataan dari Mutia.
"Abang, kita punya anak!!" Lirih Mutiara yang masih mampu terdengar hingga ke telinganya Rexy.
Tetapi Rexy melangkahkan kembali kakinya sesaat setelah mendengar perkataan itu. Tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Dia tidak perduli dengan perkataan dari Mutia yang menganggap hal itu hanya lah omong kosong dan kebohongan besar. Sedangkan Mutiara terduduk di atas rumput yang berada di Taman sekolahnya Ica.
"Abang aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, karena kamu lah pria yang sudah berhasil merubah semua kelakuan ku selama ini bahkan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan tidak akan pernah mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan selama ini," cicitnya Mutiara.
Dia semakin sedih saat mengingat putri kecil mereka hingga detik ini tidak ditemukan keberadaannya. Dia masih terus berusaha mencarinya diam-diam tanpa sepengetahuan dari keluarganya terutama kakeknya.
Andai saja dia dibantu oleh kakeknya pasti akan cepat berhasil tapi itu tidak bakalan dia lakukan bisa saja putrinya akan dalam bahaya dan dia akan mendapatkan masalah yang pastinya akan pelik dan besar.
Perkataan barusan yang meluncur dari bibirnya Mutiara terngiang-ngiang di telinganya, "pasti dia bohong dan itu tidak mungkin terjadi, aku pasti tidak punya anak lagian aku baru sekali melakukan bersamanya jadi itu sangat mustahil."
Rexy memukuli setir mobilnya untuk menutupi rasa bimbang dan penyesalannya. Ica yang melihat hal tersebut hanya terdiam dan takut jika dia berbicara sedikit pun.
Mutiara masih berlutut di tempatnya, untungnya hanya tinggal beberapa orang saja di sekolah itu sehingga tidak membuatnya diperhatikan oleh banyak orang lain.
__ADS_1
Rexy tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Liora, "Itu pasti hanya akal-akalannya saja, dan aku sangat yakin kalau dia berbohong dan ingin menjebakku kembali dengan tipuannya."
Beberapa saat kemudian, mobilnya sudah berhenti di dalam garasi rumahnya. Rexy menggendong Ica tanpa ada pembicaraan apa pun. Dia sibuk dengan memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi dari perkataan Liora.
Mirah yang melihat kedatangan putra keduanya segera menghampirinya. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat raut wajah tegang, marah yang diperlihatkan oleh Rexy.
"Apa yang terjadi padamu Nak? tidak seperti biasanya, sepertinya aku harus menelpon David mungkin ada permasalahan di kantornya yang membuatnya seperti itu." Lirih Mirah yang heran melihat sikap anaknya.
Mirah membelokkan langkah kakinya menuju kamar pribadinya dan segera mengambil hpnya. Dia mencari nama kontak David di hpnya itu.
Tut.. Tut..
"David kemana, kok tumben tidak mengangkat teleponnya," ujarnya sedikit kesal karena David tidak mengangkat teleponnya.
Hingga berulang kali, telponnya pun tidak tersambung hingga Amairah memutuskan untuk menghentikan upayanya.
Aisyah yang tidak sengaja melihat Mirah tergesa-gesa dan mendengar tidak langsung perkataannya. Dia segera menghubungi nomor hp bodyguard yang selalu ditugaskan untuk mengikuti semua anak-anaknya Mirah sesuai dengan amanah dari kakeknya Tuan Besar Luis.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Muda Rexy?" Tanyanya saat teleponnya tersambung.
Orang di seberang telpon pun menjelaskan duduk perkaranya hingga sangat detail tanpa ada yang terlewatkan.
"Itu tidak mungkin!! Apa benar dia punya anak dari hasil hubungan one night stand waktu itu?" Aisyah membatin dengan penuh tanda tanya.
"Halo Bos, apa kamu masih mendengar perkataanku?" Tanya orang di seberang telpon.
"Iya, aku masih dengar perkataanmu, selidiki Mutia segera dan cari tahu apa maksud dari perkataannya, aku tunggu informasi sebelum jam delapan malam," dia menutup sambungan teleponnya tanpa basa-basi lagi.
Aisyah berdiri di teras belakang rumah kediaman Utama Keluarga Lee sembari menatap beberapa pohon yang daunnya bergoyang tertiup angin.
__ADS_1
"Apa!!! Pasti apa yang aku dengar barusan bukanlah seperti kenyataannya, kalau seperti ini aku takut jika akan menjadi masalah besar di kemudian hari."
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1