Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 68. Maxy Yang Terluka


__ADS_3

Baru sepersekian detik ia mengucapkan kata itu, tiba-tiba ada bunyi suara tembakan yang cukup memekakkan telinga dan membuat beberapa orang yang berada di tempat kejadian itu langsung mengarahkan pandangannya.


"Tidak!!!!!" Teriak Raisa dengan suara yang cukup melengking saat melihat kejadian itu di depan matanya.


"'Alhamdulillah kita berhasil menumbangkan mereka semua," terang Raisa.


Baru sepersekian detik ia mengucapkan kata itu, tiba-tiba dari arah belakang ada bunyi letupan suara tembakan yang cukup memekakkan telinga. Bunyi itu membuat beberapa orang yang berada di tempat kejadian perkara langsung mengarahkan pandangannya.


"Tidak!!!!!" Teriak Raisa yang sangat tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.


Semua orang berlarian ke arah Madu saat melihat terkena tembakan. Richard menembak dua kali pria yang menembaknya bagian tangan dan kakinya.


Richard hanya menembaki bukan langsung alat anggota vitalnya tapi hanya tangan dan kakinya saja. Dia ingin melakukan interogasi terhadap pria itu.


"Kakak!!" Pekik Raisa yang sudah menangis melihat kakaknya yang terkena tembakan.


Mereka segera membawa Maxy ke rumah sakit. Raisa tidak henti-hentinya menangis melihat saudaranya yang terkena tembakan di bagian lengannya.


Maxy menyentuh wajahnya Raisa karena Ingin menghapus air mata adiknya dengan menggunakan tangan kanannya yang tidak terluka.


"Jangan menangis, kakak tidak akan mati hanya dengan luka kecil seperti ini," ucapnya yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok kursi mobilnya.


Aisyah satu mobil dengan Kemal, sedangkan Richard menjadi supir dari mobil yang ditumpangi oleh Raisa bersama dengan Maxy kakaknya.


Aisyah segera menelpon nomor hpi Rexy untuk mengabarkan kepadanya bahwa Maxy terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Bunda.

__ADS_1


"Aku takut kak, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kakak," ujarnya Raisa dengan tetesan air matanya yang sudah sesegukan dalam tangisnya.


"Insya Allah, kakak akan baik saja dan kakak mohon jangan ada yang menghubungi nomor hpnya Daddy, Kakek atau Mommy, aku tidak ingin mereka khawatir," terangnya yang melarang adiknya itu.


Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Axel. Richard yang melihat kesedihan yang dirasakan oleh Raisa, hatinya ikut terharu sekaligus tersentuh dan sedih melihat gadis kecilnya meneteskan air matanya.


"Abang buruan bawa mobilnya!!" Ucap Raisa yang sedikit berteriak ke arah Richard yang sedari tadi sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi membelah jalan raya.


Raisa berusaha untuk menekan luka tembak di tangan kirinya Rexy dengan mengikatnya menggunakan kain lengan baju kemejanya Richard. Awalnya Raisa kebingungan memakai robekan dari kain bajunya siapa, awalnya dia ingin merobek ujung roknya, tapi segera dicegah oleh calon suaminya itu. Richard segera merobek menggunakan ujung kemejanya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan RS. Richard membantu Maxy untuk berjalan ditemani oleh Raisa. Perawat yang melihat kedatangan mereka segera menarik bangkar rumah sakit ke arah mereka.


"Ayo Pak dinaikkan tubuh pasiennya ke atas brankar," seru perawat tersebut.


Richard dan beberapa perawat segera membantu menaikkan tubuhnya Maxy ke atas bangkar tersebut. Kemudian Maxyl dibawa ke dalam ruangan ICU untuk segera mendapatkan pertolongan dan perawatan.


Raisa duduk di kursi tunggu khusus pengantar pasien. Richard memegang tangan adik bungsunya itu, agar dia lebih tenang dalam menghadapi cobaan ini.


Aisyah, Kemal dan disusul oleh Rexy segera berlarian ke arah depan ICU. Langkah mereka cukup menghentak ke atas lantai hingga terdengar cukup bising sehingga membuat beberapa orang saling berpandangan dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.


Wajah mereka tampak khawatir, padahal Maxy sudah melarang mereka untuk mengkhawatirkan keadaannya.


Sedangkan orang yang dikhawatirkan tersebut, hanya terdiam mematung sembari terus memandangi wajah seorang suster yang sedari tadi menyita perhatiannya hingga menyentuh relung hatinya yang paling terdalam.


Entah kenapa Maxy hanya melihat senyuman dari perempuan itu membuat hatinya bergetar, aliran darahnya begitu lancar hingga ke jantungnya yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Wajahnya ayu tanpa polesan make up sedikit pun," batinnya Maxy.


Maxy tak bosan-bosannya memandangi satu-satunya perempuan yang ada di dalam ruangan ICU itu. Dia seolah terhipnotis melihat wajah ayu nan cantik tanpa polesan make up apapun itu.


"Sangat cantik," gumamnya Maxy dengan senyuman yang selalu tersungging di wajahnya.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Diantara Dua Pilihan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Pelakor Pilihan


Aku hanya sekedar baby sitter


Cinta Ceo Pesakitan


Tetanggaku Idola Suamiku


__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers…


__ADS_2