
Alhamdulillah makasih banyak ya Allah akhirnya cucu satu-satunya perempuan di dalam keluargaku akan menikah juga," gumam Nenek Masitha.
Awalnya mereka akan mengadakan acara akad nikah di dalam aula saja tetapi Delisha tiba-tiba meminta untuk merubahnya menjadi outdoor saja.
Jadilah acaranya di samping rumah hingga ke belakang rumah yang dihiasi dengan perlengkapan dan dekorasi pelaminan yang sangat cantik. Dengan nuansa serba putih membuat kesan kesucian dan cinta yang tulus.
Setelah sekian lama, dua sahabat bertemu kembali. Karena kesibukan masing-masing dan juga mereka sudah berkeluarga sehingga intensitas pertemuan otomatis berkurang.
"Hey sayang, gimana kabarnya?" Tanya Raya sambil memeluk tubuh Mirah dengan tangannya menggandeng seorang bocah sudah beranjak remaja.
"Alhamdulillah baik dan seperti yang kamu lihat, wooow anak-anakmu sudah besar kalau gitu bisa nambah lagi nih," canda Mirah yang tersenyum mengingat kejadian jika Raya akan melahirkan.
"Sudah cukup satu saja lah Mbak, aku berniat sudah tidak ingin menambah lagi Mbak kan tahu kalau aku melahirkan gimana prosesnya," ujarnya yang tersenyum manis.
"Satu itu baru dikit loh Raya!" Ujarnya Mirah lagi.
"Dion dimana, kok aku gak lihat?" tanyanya yang melihat Dion tidak bersama Maya yang biasanya nempel ke mana-mana seperti perangko saja.
"Waktu kami masuk ketemu sama Abang Bryan sama Mas Yuda jadilah mereka sekarang ada di depan menjemput iringan pengantin yang sudah datang," terang Maya.
Mereka bertemu dalam acara pernikahan anak ketiganya Mirah dan Yudha. Sehingga semua sahabat dan temannya datang dengan meninggalkan pekerjaan mereka.
Beberapa dari mereka saling bercengkrama satu sama lainnya. Menikmati dan menyantap berbagai hidangan pembuka diacara tersebut.
"Alhamdulillah kalau pengantin prianya sudah datang, kalau gitu kita ke tempat acara saja," ujar Maya.
__ADS_1
"Kalau kita yang kesana terus siapa yang akan antar pengantinnya kalau sudah selesai nikah?" Tanyanya Mirah yang tersenyum karena mereka melupakan pengantin wanitanya.
"Lupa, hehehehe," timpal Arumi.
"Mbak apa Nadia dan Bram akan datang atau mereka gak jadi lagi ke Jakarta?" Tanya Maya sambil berjalan ke arah kamar pengantin berada.
"Tadi Raya nelpon katanya sudah di jalan mau ke sini, tapi ban mobilnya tiba-tiba bocor jadi terpaksa harus terlambat," terang Mirah.
"Jadi gimana dengan mobilnya seingat aku daerah itu kan gak ada bengkelnya Mbak?" Terangnya Maya.
"Mas Yudha sudah mengirim satu mobil untuk menjemput mereka," jawab Mirah.
"Alhamdulillah kalau mereka sudah dijalan mau ke sini," ucap Maya dengan senyuman bahagianya karena hari bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar dan sahabatnya.
Yudha sebagai wali nikahnya Raisa sudah duduk di kursi di samping pak penghulu yang akan menuntunnya untuk menikahkan putri bungsunya dengan pria yang menjadi pilihannya. Awalnya ia ingin menyerahkan perwalian akad nikah putri tunggalnya ke tangan Tuan Besar Luis atau Mark Prin Atmadja tetapi, mereka menolak dengan halus karena yang paling berhak adalah Ayah kandungnya.
Sebelum mereka menikah, akan pengajian atau pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang akan dibawakan oleh Lee selaku putra kandungnya yang mengusulkan dirinya sendiri untuk menggantikan posisi dari ustad yang akan membaca Al Qur'an.
Setelah mereka menikah akan ada ceramah agama yang akan dibawakan ustadzah Mamah Dedeh yang telah diundang untuk hadir meramaikan dan membawakan ceramah tauziah di acara akad tersebut, mereka bersyukur karena beliau berkenan untuk hadir di acara tersebut.
Para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, dan menantikan pembacaan ayat suci Al-Qur'an sesuai dengan arahan MC. Mereka langsung terdiam saat Lee sudah memulai membaca surat an-nisa. Semua tamu dan keluarga besar yang hadir ikut hanyut dalam pembacaan ayat suci Al-Qur'an tersebut dengan penuh hikmah dan beberapa dari mereka ada yang menangis terharu.
Terutama Nenek Masitha, Ibu Nurmala, Tuan Besar Mark dan istrinya serta Tuan Besar Luis yang mengingat beberapa kenangan bersama cicit kesayangannya. Tak terasa air mata mereka menetes membasahi pipinya. Rasa haru terasa kental dan begitu mendominasi jalannya pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Mirah pun dan lainnya yang ada di dalam kamar pengantin pun memeluk tubuh putri tunggalnya dengan erat. Mereka menangis tersedu-sedu dan ikut larut dalam sedih sekaligus bahagia karena akhirnya akan menjadi istri dari Tuan Richard dan putranya akan memiliki ayah biologisnya.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..