Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 119


__ADS_3

Flashback on…


Nyonya Masitha terduduk di dalam kamarnya, dengan deraian air matanya. Dia duduk dengan menangis tersedu-sedu. Sedangkan di kamar lainnya, ada seorang yang menangis teringat beberapa tahun silam lalu.


"Ya Allah… aku sangat bahagia karena anak-anakku sudah besar dan menemukan kebahagiaannya sendiri, tapi jika mengingat mereka waktu masih kecil dulu," gumamnya Nyonya Mirah.


Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada orang lain, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak butuh itu.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan? aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, bagaimana jika mereka memenjarakan aku dan memisahkanku dengan Ali aku harus bagaimana lagi? tidak mungkinkabur lagi dari sini," batinnya Bu Nur.


Dia kebingungan apa harus jujur atau gimana, dia tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya dia lakukan.


"Lagian gimana caranya juga kabur dari sini dan tujuan aku akan kemana? Hanya di sini tempat yang aman untuk berlindung dari Abang Nawir," lirihnya Bu Nur.


Ibu Nur duduk di ujung ranjangnya, lalu berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah jendela kamarnya. Dia membuka pintu jendelanya dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya hingga wajahnya diterpa angin sepoi-sepoi malam itu. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya.


Hatinya sangat sedih ketika kembali mengingat saat pertama kali bertemu dengan Ali. Hatinya teriris sangat terpukul melihat anak kecil yang terbaring lemah di dalam ruangan seorang diri dalam keadaan tangan dan kakinya terikat sedangkan mulutnya pun ditutup kain.


Aku sangat menyayangi Ali melebihi anakku sendiri, bahkan Aku rela melakukan apa pun asalkan Alif selamat dan bahagia bahkan jika ada yang meminta nyawaku aku tidak akan segan untuk mengiyakan keinginan mereka. Ibu Sumartini memegang ujung kosen jendela kamarnya.


Dinginnya angin malam tidak membuatnya menyurutkan niatnya untuk dirinya berdiri di sana. Cahaya rembulan malam sangatlah terang yang sinarnya menerangi malam itu. Burung hantu sudah bergelantungan di atas pohon dengan suara khasnya mengisi malam itu.


Pintu apartemen itu terbuka lebar dan masuklah Maya, Nenek Masitha dan Dion masuk beriringan ke dalam ruangan tengah. Maya berjalan ke arah kamar Alif terlebih dahulu untuk melihat apa anak kecil itu sudah tidur atau belum. Alif tidak ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Sepertinya Alif ada di dalam kamar emaknya, tidak mungkin Alif tidur seorang diri itu sama menyiksa Alif," ucapnya lalu menutup rapat pintu bercat putih bersih itu.


"Maya, apa Alif ada di dalam?" Tanya Nyonya Masitha saat pintu itu tertutup rapat.


"Alif tidak ada nek, Alif itu paling pantang untuk berada di dalam kamarnya sendiri, dan jika itu terjadi maka Alif akan berteriak histeris Nek, Saya tidak tahu kenapa dia seperti itu," jawabnya.


Mereka berjalan santai menuju kamarnya Ibu Sumartini. Nenek Masitha menatap ke arah Maya yang penasaran alasan dibalik kejadian itu.


"Apa jangan-jangan Alif pernah mengalami hal yang tidak baik sehingga Alif trauma?" Tanya Nenek Masitha yang menatap serius ke arah Maya.


"Entahlah Nek, Maya pun tidak tahu apa yang terjadi tapi kalau menurut Maya sepertinya Alif trauma karena dari sikapnya yang kadang tiba-tiba histeris saat ruangan gelap gulita," ujarnya lagi yang ikut kepo dengan apa yang terjadi dengan nasibnya Alif.


"Semuanya akan terjawab setelah kita bertemu dengan Emaknya, Aku yakin semua tentang Alif dia tahu semuanya, tapi yang aku khawatirkan adalah emaknya tidak siap untuk berterus terang dan terbuka untuk menjelaskan semuanya," ucap nenek Masitha.


"Kita coba saja dahulu Nek, tapi sepertinya kita harus mendekati dengan penuh kelembutan, jangan memaksanya untuk jujur, mungkin harus perlahan-lahan saja agar beliau merasa nyaman dan leluasa untuk berbicara di depan Kita," timpal Dion.


Awalnya mereka ingin langsung ke kamar Nurmala Emaknya Alif, tapi mereka mengurungkan niatnya. Karena sudah jam 2 malam, mereka untuk memutuskan nanti besok pagi baru mereka berbicara dari hati ke hati agar terasa lebih enak dan santai. Tidak semua permasalahan yang dihadapi harus diatasi dan dipecahkan dengan menggunakan kekerasan ataupun pemaksaan.


Biarkanlah semuanya berjalan dan mengalir seperti apa adanya. Saling terbuka dan jujur serta saling memahami adalah salah satu kunci untuk mencari jalan keluar dari permasalahan. Mereka yakin Emaknya Alif pasti akan jujur dilihat dari sikapnya selama ini.


...****************...


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..


Tetap dukung Cinta dan Dendam dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya yah Readers...


__ADS_2