
Aisyah langsung bergerak mundur setelah mendengar penjelasan dari bibir wanita cantik itu. Bibirnya bergetar, gejolak di dadanya bergolak. Dia tidak menyangka jika pertemuannya kali ini menegaskan hubungan mereka untuk kedepannya.
Pria yang beberapa tahun ini mengisi relung hatinya, di depan matanya ternyata harus melihat kenyataan pahit jika pria yang dicintainya dengan tulus, telah menikah dengan wanita lain.
Aisyah ingin menangis tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk melawan laju air matanya.
Sedih, kecewa bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Rizaldi tak mampu berkata apa pun lagi. Penyesalan semakin membuatnya terpuruk dan jatuh ke dalam putus asa.
Takdir yang berkata lain, hidupnya sudah tidak seperti dulu lagi sekitar 1 tahun lalu. Dia terpaksa memenuhi permintaan sekaligus permohonan dari kedua orang tuanya. Yang memintanya untuk menikahi wanita pilihan mereka. Dengan berat hati dia harus melaksanakan amanah kedua orang tuanya.
Aisyah segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin terlalu lama melihat kedekatan dan kemesraan yang terjalin di antara keduanya.
"Maafkan aku, aku tidak sanggup memperjuangkan hubungan kita, kamu sendiri yang membuatku harus memilih jalan ini, tapi yakinlah cinta dan hatiku hanya untukmu seorang hingga nyawaku tidak lagi aku miliki."
Rizaldi menatap ke arah Aisyah yang perlahan menjauh dari tempatnya. Dia sangat yakin jika, Aisyah menangis tersedu-sedu karena hanya melihat punggungnya Aisyah yang bergetar hingga dia mengetahui kesedihannya.
Aisyah bersandar di dinding,dia menumpahkan segala gunda gulananya. Kesedihannya tak mampu dia bendung lagi. Hingga tetesan air matanya sudah membasahi pipinya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidak lolos.
Dia memegang dadanya yang sangat sakit itu.
Hingga tubuhnya sudah luruh ke bawah. Bryan yang sudah datang sedari tadi hanya mampu menyaksikan kehancuran hati dan perasaannya Aisyah. Tetapi, tidak mampu untuk membantunya mengatasi dilema percintaan Aisyah.
Dia sangat tahu dengan apa yang dirasakan oleh Aisyah. Dia pernah berada di titik terendah yang seperti dialamatkan.
"Cinta penderitaannya tiada berakhir."
Sedangkan di tempat lain, seseorang sudah menghabiskan secangkir kopi espresso miliknya. Dia sesekali mengaduk minumannya.
Dis merogoh hpnya, tapi bukan hpnya yang dia ambil malahan ada kotak beludru warna merah yang terdapat di dalam saku jasnya.
Dia heran dengan kotak tersebut dan melupakan dengan benda itu. Ia pun membuka kotak tersebut. Dan betapa kagetnya saat melihat gelang tersebut.
Dia berusaha mengingat kenapa kalung yang sudah lama hilang sekarang berada di dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
"Ini kan gelang waktu itu terjatuh saat dia berjalan meninggalkan Resto X dua bulan lalu," gumamnya sambil memperhatikan dengan seksama gelang tersebut.
Senyumannya terbit dan sudah berencana untuk bertanya pada Raisa nantinya. Pikirannya buyar seketika saat sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang sedari tadi dia pikirkan.
"Aku yakin jika gelang ini adalah miliknya," cicitnya Richard yang mengagumi bentuk dan model dari gelang itu yang berada di dalam tangannya.
Senyumannya langsung terpancar dari sudut bibirnya. Dia akan bertanya tentang gelang tersebut di hadapan Raisa.
Dia berdiri dari posisi duduknya. Dan menyambut kedatangan perempuan calon istrinya. Dia buru-buru berjalan ke arah kursi lalu menarik kursi agar memudahkan Raisa untuk duduk di kursinya.
"Maaf Saya terpaksa harus datang terlambat," ucapnya dengan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Tumben cara bicaranya lembut seperti itu, tidak seperti dulu awal kami bertemu yang sangat dingin dan terkesan arogan dan jutek," umpat Raisa yang menatap jengah kearah Richard berada.
"Tidak apa-apa kok, lagian aku juga baru sampai jadi santai saja," balasnya Rich dengan senyuman khasnya yang menawan yang mampu melelahkan gunung es krim.
"Makasih banyak atas pengertiannya," timpalnya Raisa yang kemudian duduk dengan elegan di kursi khusus untuknya.
Mereka berbincang-bincang santai tapi serius karena sesekali Abimanyu membicarakan tentang rencana pertunangan mereka.
Raisa hanya menatap ke arah Richard tanpa ada niatan untuk membalas perkataannya malahan dia menunggu Abi untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
"Apa Kamu sudah bersedia untuk menerima lamaran ku?" Tanyanya lalu menatap ke dalam ke dua bola matanya Richard
Raisa yang ditatap seperti langsung mengalihkan perhatiannya dan tanpa sengaja melihat gelangnya yang beberapa hari ini dia cari ke mana-mana tapi hasilnya tidak ketemu juga.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Abi, tapi Raisa mengalihkan pembicaraannya ke arah lain.
"Maaf bisa saya lihat gelangnya?" Tanyanya sambil mengarahkan tangannya ke hadapan Richard.
Richard refleks memberikan gelang tersebut tanpa banyak kata. Raisa mengamati dan memeriksa gelang tersebut dengan sangat hati-hati. Sesekali alisnya saling bertautan satu sama lainnya.
Raisa melipat kedua tangannya ke depan dadanya dan hanya menunggu Raisa membuka mulutnya untuk berucap sepatah kata tentang gelang tersebut.
"Maaf bukannya saya menuduh atau mencurigai Anda, tapi Anda dapat gelang ini dari mana?" Tanyanya yang sangat penasaran sembari menatap ke arah Abimanyu.
__ADS_1
"Aku dapat gelang itu dari gaun cantik seorang perempuan yang sangat cantik yang terjatuh di atas lantai sebuah Restoran X dua bulan lalu," ujarnya.
Raisa menatap jengah ke arah Abi yang menurutnya penjelasannya terlalu bertele-tele tidak langsung pada intinya.
"Maaf tolong jawab saja sesuai kenyataannya, tidak perlu berputar-putar tanpa ada jawaban yang pasti."
Richard hanya tersenyum dan entah kenapa dia menyukai raut wajahnya Raisa yang cemberut tersebut dengan memonyongkan bibirnya seperti paruh bebek.
"Aku dapat gelang ini saat Kamu berjalan dan kemungkinannya terjatuh dari ujung gaunmu waktu itu," jelasnya dengan nada suara yang cukup serius.
Raut wajahnya langsung berubah bahagia karena gelangnya sudah dia temukan.
"Alhamdulillah ternyata gelangku sudah aku temukan," terangnya dengan penuh kebahagiaan wajahnya berseri-seri.
"Berarti dia gadis yang selama ini aku cari hingga hampir 9 tahun, dunia ini ternyata tak selebar daun kelor." Cicitnya yang penuh kebahagiaan.
Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Dilema Diantara dua pilihan
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1