Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 82. Keresahan Rexy


__ADS_3

"Mereka sangat baik, betapa beruntungnya gadis yang nantinya jadi istrinya Tuan Muda," Camelia membatin.


Tatapan matanya sesekali melirik ke arah Maxy yang berada di dalam kursi roda.


"Yaelah Abang, demi mendapatkan perhatian dari suster idamannya harus seperti orang yang penyakitan saja." Gurau Rexy.


Rexy tersenyum simpul melihat kelakuan absurd kakak sulungnya yang seperti remaja labil.


Maxy didudukkan di atas kursi roda, Camelia mendorong hingga masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ica digendong oleh Mirah ke dalam kamar khusus tempat bermain ditemani dua Baby sitter yang sedari dulu menjadi Baby sitter andalan di keluarga mereka.


Sedangkan di dalam kamar lain yang tidak jauh dari kamar itu, seorang pria sedang kebingungan dan merasa kesal dengan apa yang dirasakan dalam hati dan pikirannya.


Rexy mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tapi, bayang-bayang senyuman seorang gadis selalu datang menghantuinya. Senyuman itu tulus kupersembahkan hanya untuknya seorang. Suara ******* bahkan hembusan nafasnya masih mampu dia ingat hingga detik itu.


"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, aku tidak seharusnya selalu memikirkan tentang dia," kesalnya dengan mengguyur air ke tubuhnya dengan kasar.


Dia yang sudah berusaha untuk melupakan semua tentang gadis itu tapi semakin dicoba semakin sulit untuk melakukannya.


Berjam-jam Rexy berada di dalam kamar mandi, dia berusaha untuk menghapus bayangan gadis itu, tapi selalu saja datang menghantui kehidupannya.


"Kalau seperti ini, aku lama-lama bisa gila," Rexy membuang kasar nafasnya.


Ia sudah berusaha untuk melupakan kenangan demi kenangan yang pernah mereka lalui itu. Tapi, semakin dia mencoba semakin bayang-bayang itu tidak sirna dan menghilang dari ingatannya.


"Aaahhhhh!!!" Pekiknya Rexy.


Rexy meninju tembok kamar mandinya hingga kepalan tangannya memerah dan perih yang dia rasakan tidak membuatnya bisa melupakan semua kenangan itu.

__ADS_1


Selama berada di rumah Axel, Camelia merasa terbantu karena dia tidak perlu lagi repot-repot dan capek mengantar jemput putrinya. Setiap hari Mirah lah yang menggantikan posisi Camelia yang bertugas mengantarkan, menjaga, menunggui Ica hingga jam pulang.


Mirah sama sekali tidak pernah mengeluh dengan rutinitas barunya itu. Malahan dia sangat bahagia dan bersyukur karena dia bisa memamerkan kepada teman-teman arisannya kalau dia sudah memiliki seorang cucu perempuan.


Mirah tidak peduli dengan tanggapan dari orang-orang jika mereka mengetahui yang sebenarnya.


"Ica kalau nanti di sekolahannya ada yang gangguin ica, tanya sama nenek Grandma yah sayang, tidak usah takut ada grandma yang selalu jaga Ica," tuturnya sembari mengolesi selai kacang di atas rotinya.


"Emangnya ada yang gangguin putri Ayah di sekolahnya?" Timpal Maxy yang ikut menimpali pembicaraan dua perempuan yang berbeda generasi itu.


Gadis kecil empat tahun lebih itu segera menggelengkan kepalanya untuk menyanggah perkataan dari calon Papa sambungnya.


"Tidak ada kok Ayah, Ica senang di sekolah barunya Ica banyak temannya yang baik sih," jawabnya dengan tingkah polosnya.


"Alhamdulillah kalau ica senang di sekolah barunya," ucap Mirah.


"Tapi Ica sedih Grandma," ucapnya dengan wajah sendu.


"Kenapa sayang, apa yang terjadi?" Tanyanya Amairah yang penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Ica menatap ke arah Mirah dan yang lainnya untuk berbicara seakan-akan dia meminta persetujuan sebelum berbicara. Hal itu membuat Maxy penasaran.


"Ica putrinya Ayah, apa yang terjadi?" Tanya Maxy yang jiwa kebapakannya muncul seketika ke permukaan setelah melihat reaksi wajahnya Ica.


Maxy begitu khawatirnya dengan kondisi dari Ica. Dia tidak menyangka jika ada orang yang tega berbuat seperti itu kepada anak kecil.


"Ada ibu-ibu yang bilang sama Ica kalau Ica itu tidak punya Ayah dan bunda katanya kalian bukan keluarga kandungnya Ica, Ayah keluarga kandung itu apa?" Tanyanya yang ingin mengetahui apa itu keluarga kandung.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Ica, mereka satu sama lainnya saling bertatapan dan tidak mengerti dengan maksud dari orang yang berbicara seperti itu.


Pak Yudha yang baru saja ingin meneguk kopinya pun tidak jadi meminumnya. Dia tidak menduga jika ada orang yang punya niat jahat memperlakukan anak sekecil itu dengan perkataan yang membuatnya bertanya-tanya.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Diantara Dua Pilihan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Pelakor Pilihan


Aku hanya sekedar baby sitter


Cinta Ceo Pesakitan


Tetanggaku Idola Suamiku



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2